Houthi peringatkan agar tidak ada intervensi asing; mengancam akan menutup selat

Kelompok Houthi di Yaman secara resmi memperingatkan intervensi asing dan mengancam akan menutup total Selat Bab al-Mandeb setelah berhasil merebut kendali penuh atas seluruh garis pantai Laut Merah. Langkah taktis ini menandai babak baru yang sangat krusial dalam eskalasi perang regional yang tengah berlangsung.

Berikut adalah poin-poin utama dari ancaman dan dinamika konflik terbaru di wilayah tersebut:

  • Peringatan Terhadap AS dan Sekutu: Pemimpin Houthi, Abdul Malik Al-Houthi, menegaskan bahwa pasukannya siap merespons kapan saja jika ada kekuatan asing—terutama Amerika Serikat—yang mengintervensi konflik mereka melawan pemerintah Yaman yang diakui internasional. Presiden AS Donald Trump sendiri mengonfirmasi bahwa pihak Houthi sempat menghubungi Washington agar tidak ikut campur.
  • Kendali Atas Jalur Pelayaran Vital: Pasukan Houthi berhasil merebut kota pelabuhan bersejarah Mocha dan meluaskan cengkeramannya hingga ke Pulau Mayun (Perim) dan wilayah Dhubab yang berada tepat di jantung Selat Bab al-Mandeb. Hal ini memberikan kemampuan nyata bagi mereka untuk memblokir lalu lintas maritim global menggunakan rudal jarak pendek dan ranjau laut.
  • Krisis Energi Global dan Kenaikan Harga Minyak: Ancaman penutupan selat ini terjadi saat jalur logistik utama dunia lainnya, Selat Hormuz, sudah lebih dulu diblokade. Akibat potensi “pemblokiran ganda” pada koridor energi ini, harga minyak mentah Brent melonjak melampaui $107 per barel karena kekhawatiran pasokan global yang lumpuh total.
  • Dampak Langsung pada Arab Saudi: Jalur Laut Merah merupakan rute alternatif terakhir bagi Arab Saudi untuk mengekspor minyaknya pasca gangguan di Selat Hormuz. Selain itu, jalur pipa minyak East-West milik Saudi juga baru saja ditutup sementara sebagai pencegahan setelah menjadi target serangan pesawat nirawak (drone) dari Irak.
  • Respons Militer Internasional: Guna menjaga kebebasan navigasi, Angkatan Laut AS dikabarkan telah mereposisi satuan tugas USS Tripoli yang membawa ribuan personel Marinir ke Teluk Aden. Sementara itu, maskapai pelayaran raksasa seperti Maersk mulai mengalihkan kapal-kapal mereka memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang memicu lonjakan biaya logistik dan waktu tempuh.

Sumber: Aljazeera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar