Oleh: Ustadz Taufik M Yusuf Njong
Kenapa koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Saudi sulit mengalahkan Houtsi sejak 2015? Alasannya banyak dan rumit. Ringkasnya begini:
Houtsi itu berperang dengan struktur komando dan ideologi yang solid, dukungan penuh dari Iran dan mereka juga memahami dengan baik medan serta pengalaman bertempur di lapangan.
Sedangkan pasukan pemerintah yang anti Houtsi? Mereka terdiri dari berbagai faksi yang punya kepentingan masing-masing dan sering bentrok. Partai Ishlah yang berafiasi dengan IM dan berkoalisi pragmatis dengan Saudi tidak akur dengan STC yang didanai UEA dan anti IM. Jamaah Salafiyah, seperti halnya kabilah-kabilah sunni syafi’i juga memiliki prioritas sendiri dan kepentingan masing-masing.
Perpecahan antar faksi di barisan anti Houtsi ini merupakan salah satu alasan kuat kenapa Houtsi sulit dikalahkan, disamping lemahnya alasan ideologis. Ternyata punya musuh bersama tak cukup menjadi alasan untuk bersatu.
Lalu Saudi, apakah ‘serius’ ingin menumpas Houtsi? dan apakah Saudi mampu dan mau habis-habisan membiayai perang ini dengan resiko ekonomi dan mengorbankan kepentingan nasionalnya? Kemungkinan; Saudi tak akan mau terjebak lagi dalam perang yang menguras kasnya. Berita buruknya, Trump yang ditelpon berkali kali oleh Ben Salman juga ogah menyerang Houtsi secara langsung. Lalu Pakta pertahanan Makkah? Andai bisa diharapkan memberikan dampak signifikan, Ben Salman nggak akan nelpon Trump.
Itulah kenyataannya.
Lagian, Kalau ibukota Sana’a bisa direbut, apakah pemerintahannya akan diberikan kepada kaum islamis yang anti Israel? Atau justru kepada boneka Saudi atau UEA yang mudah didikte oleh AS?








dosa salafi tantrum manhaj yang suka merasa paling suci padahal sombongnya luar biasa