Paus Leo XIV menanggapi kritik keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan menegaskan tidak ingin terlibat perdebatan politik, namun tetap konsisten menyuarakan perdamaian.
Paus Leo pun menegaskan bahwa dirinya tidak takut terhadap pemerintahan Trump.
“Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump, ataupun untuk bersuara lantang menyampaikan pesan Injil, yang saya yakini sebagai tugas saya di sini, serta tugas Gereja,” ujarnya dikutip BBC, Senin (13/4/2026).
Paus Leo menegaskan perannya bukan sebagai politisi, melainkan menyampaikan nilai moral dan kemanusiaan.
Ia juga memastikan akan terus menentang perang serta mendorong dialog damai di tengah konflik global.
Serangan Trump
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melancarkan serangan verbal yang luar biasa terhadap Paus Leo XIV pada hari Minggu (12/4/2026), menuduh Paus tersebut “lemah dalam menangani kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri” dalam sebuah unggahan panjang di platform media sosialnya, Truth Social.

Serangan Trump ini dipicu oleh kritik tajam dari Paus Leo XIV terhadap kebijakan perang pemerintahan Trump, khususnya konflik yang sedang berlangsung di Iran.
Pada hari Sabtu, Paus asal Amerika berusia 70 tahun itu secara terbuka menyerukan kepada para pemimpin untuk mengakhiri kekerasan, dengan mengatakan: “Cukup sudah pemujaan diri dan uang! Cukup sudah pamer kekuasaan! Cukup sudah perang!”
Dalam unggahan di media sosial, Trump mengkritik pemimpin Gereja Katolik atas pandangannya tentang konflik global, senjata nuklir, dan kebijakan AS.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu bahwa ia “bukan penggemar berat” Paus Leo XIV, setelah pemimpin Katolik global tersebut menyampaikan seruan untuk perdamaian pada hari Sabtu.
“Saya bukan penggemar berat Paus Leo. Dia adalah orang yang sangat liberal, dan dia adalah orang yang tidak percaya pada penghentian kejahatan,” kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland, menuduh Paus tersebut “bermain-main dengan negara yang menginginkan senjata nuklir (Iran).”
Komentar Trump menuai kecaman luas dari komunitas Katolik. Uskup Agung Paul S. Coakley, presiden Konferensi Waligereja AS, menyatakan kekecewaannya dan menegaskan bahwa Paus bukanlah rival politik melainkan pemimpin spiritual.
Pakar kepausan Massimo Faggioli mencatat bahwa serangan langsung dan publik seperti ini terhadap Paus belum pernah dilakukan bahkan oleh diktator seperti Hitler atau Mussolini.







baru kali ini nih paus yg berani sama pemimpin Amrik yg gila perang