Diam-diam Membobol Ratusan Miliar Rupiah

KALAU saja tak ada sumber yang membocorkan soal pemeriksaan di Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI, kelanjutan proses hukum pembobolan Bank Jakarta—dulu bernama Bank DKI—mungkin tak akan terungkap ke publik.

Padahal pemeriksaan sudah di tahap pemberkasan ke Kejaksaan Agung untuk segera disidangkan. Sejak terungkap pada April dan dilaporkan direksi ke polisi, kasus berjalan anyep.

Syahdan, pada akhir September 2025, seorang sumber berbisik kepada Redaktur Utama Desk Hukum dan Kriminal Linda Novi Trianita bahwa Bareskrim telah menangkap enam tersangka pembobolan bank. Linda mengajak personel Desk Hukum lain, Mohammad Khory Alfarizi dan Oyuk Ivani Siagian, menemui sumber tersebut untuk mendapatkan detailnya.

Sindikat peretas diduga membobol sistem keamanan bank pada 29 Maret 2025, sehari sebelum Idul Fitri. Pelaku menggondol uang rekening nasabah sebanyak Rp 228,1 miliar. Caranya: menyusup ke sistem keamanan digital Bank Jakarta dan mengecoh sistem transfer uang milik Bank Indonesia, BI-Fast.

Pembobolan sistem keamanan bank merupakan peristiwa yang cukup langka terungkap ke publik. Pertanyaan kami lantas muncul: apakah hanya Bank Jakarta yang menjadi korban peretasan?

Penelusuran TEMPO mengungkap fakta yang lebih mengagetkan. Ternyata ada delapan bank lain, termasuk Bank Jakarta, yang menjadi korban pembobolan dengan modus sama, yaitu mengecoh sistem transfer BI-Fast.

  • Periode peretasan adalah Juni 2024-Maret 2025.
  • Nilai uang yang digondol sindikat mencapai Rp 800 miliar.
  • Korban peretasan adalah bank kelas menengah-bawah yang umumnya bank pembangunan daerah.

  • Kasus yang paling awal adalah pembobolan Bank Jatim pada 2024.
  • Tak banyak media massa yang melaporkan pembobolan ini.
  • Kalaupun ada, itu karena penanganan kasusnya masuk ke Pengadilan Negeri Surabaya.

  • Tapi, sama dengan kasus Bank Jakarta, pelaku yang ditangkap dalam kasus Bank Jatim hanya pembuat rekening penampung dan akun kripto.
  • Salah seorang tersangka Bank Jatim bahkan hanya seorang pengemudi ojek daring.

Tim kami pun menelusuri lebih dalam untuk mencari sindikat yang berada di atas para tersangka.

  • Lewat pertemuan dengan beberapa sumber, kami mendapat gambaran para pelaku berasal dari negara lain di Asia.
  • Buktinya, ada komunikasi pelaku dengan warga negara lain. Polisi pun sudah mengidentifikasi lokasi mereka.
  • Masalahnya, penyidikan kasus ini belum menunjukkan tanda-tanda akan menjerat anggota sindikat yang lebih tinggi, bahkan peretas.
  • Padahal, dari sejumlah sumber yang kami temui, ancaman peretasan keamanan bank di Indonesia masih tinggi.
  • Agar kepercayaan masyarakat tak tergerus, bank mesti terus meningkatkan sistem keamanannya.

Sumber: TEMPO

Komentar