✍🏻Mohammad Fauzil Adhim
Tidak main-main. Swedia menggelontorkan biaya sangat besar untuk mengubah ruang-ruang kelas di seluruh sekolah agar siap menjalankan pembelajaran digital dengan teknologi mutakhir. Semuanya siap. Bahan ajar secara digital, teknologi dan berbagai daya dukung lainnya. Swedia memelopori di Eropa.
Tetapi, Swedia memilih menghentikan. Bukan hanya tidak menggunakan pembelajaran digital, Swedia bahkan kembali kepada pembelajaran tradisional. Bukan sekedar analog. Apa sebabnya? Rumusan paling sederhana “teknologi membuat belajar lebih cepat, tetapi tidak bisa mendalam”.
Selama bertahun-tahun buku diganti tablet, papan tulis diganti layar digital, pensil dan pena diganti layar yang tinggal sentuh. Semuanya mudah dan cepat. Tetapi ada sesuatu yang hilang. Bukan cuma satu. Ada banyak hal penting yang hilang, padahal ini sangat mendasar dalam pendidikan.
Sekolah itu bukan tempat untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan. Guru tugasnya bukan membagikan materi pelajaran. Jika cuma itu, Google menyediakan lebih banyak dan cepat. Ada hal yang lebih mendasar, baik berkenaan dengan pembelajaran dan kemampuan akademik maupun pendidikan mental dan kepribadian.
Secara akademik, apa yang hancur ketika pembelajaran digital diterapkan di pendidikan dasar dan menengah? Pemahaman mendalam dan matang terhadap bacaan (reading comprehension) merosot drastis, rentang perhatian saat belajar menjadi sangat pendek, dan keterampilan menulis melemah. Padahal kemampuan mengungkapkan secara tertulis berkait erat dengan kemampuan serta kematangan berpikir.
Ada satu hal menarik mengapa anak perlu tatap muka langsung. Bukan daring. Perlu interaksi sosial. “Learning isn’t frictionless.” Pembelajaran sesungguhnya tidak bisa tidak pasti memerlukan gesekan, hambatan, maupun benturan. Ini tidak ada hubungannya dengan konflik atau keributan dengan teman. Tidak.
Ada kelengkapan yang harus disiapkan, ada waktu yang harus diperhatikan dan ada etika yang harus dijaga. Itu bukan untuk menciptakan kekacauan, tetapi justru agar anak memiliki kecakapan mengelola dan mengatasi. Proses itu sendiri menjadikan mereka belajar banyak hal yang tidak bisa mereka dapatkan dalam pembelajaran yang sepenuhnya digital, daring (karena digital tidak otomatis daring) dan rendah interaksi langsung.








tidak semua orang tua dibekali kemampuan mengajar, kualitas pendidikan & pemahaman anak jadi beragam
tidak semua orang tua dibekali kemampuan mengajar, kualitas pendidikan & pemahaman anak jadi beragam
Pendidikan bukan hanya sebatas pengetahuan, namun juga soal hati, moral dan etika yang harus tertanam dalam hati terdalam yang akan membentuk karakter manusia berakal