Arab Saudi semakin kecewa terhadap Amerika Serikat atas cara Donald Trump menangani perang melawan Iran, dengan kekhawatiran terhadap eskalasi, ketiadaan strategi yang jelas, dan meningkatnya kerentanan kawasan.
Kepemimpinan Arab Saudi dilaporkan semakin kehilangan kepercayaan terhadap Washington, menurut laporan Financial Times pada Kamis (2/4/2026), dengan pejabat menilai pengambilan keputusan Trump tidak menentu serta retorikanya semakin memanas.
Menurut laporan tersebut, Riyadh kini merasakan “kekecewaan mendalam terhadap Gedung Putih,” mencerminkan penurunan tajam kepercayaan setelah bertahun-tahun berupaya memperkuat hubungan dengan AS. Para analis menyebut ketegangan ini dipicu oleh:
- Ancaman Trump untuk menargetkan infrastruktur energi Iran,
- Usulannya agar negara-negara Teluk membiayai perang,
- Serta pernyataan yang dianggap tidak menghormati Putra Mahkota Mohammad bin Salman.
Ketegangan meningkat setelah Trump mengubah nada secara terbuka terhadap pemimpin Saudi dalam sebuah pidato—awalnya memuji, lalu melontarkan komentar yang dianggap merendahkan. Pernyataan tersebut, yang disampaikan di depan pejabat senior Saudi, dipandang di Riyadh sebagai contoh perilaku presiden yang “kasar dan tidak dapat diprediksi”.
Ketidakpastian Strategis Meningkat
Pejabat Saudi juga semakin khawatir terhadap arah perang secara keseluruhan, terutama karena tidak adanya strategi jelas dari AS. Trump menyatakan bahwa aktor regional akan bertanggung jawab membuka kembali Selat Hormuz, serta memberi sinyal bahwa ia bisa menghentikan perang secara tiba-tiba tanpa penyelesaian menyeluruh—yang semakin menambah kecemasan.
Financial Times mencatat bahwa negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, merasa terseret ke dalam perang yang awalnya ingin mereka hindari, sambil kini menghadapi risiko keamanan langsung akibat serangan balasan Iran. Teheran telah menunjukkan kemampuan menyerang infrastruktur penting di kawasan, meningkatkan kekhawatiran Riyadh terhadap kerentanannya.
Meski Arab Saudi masih memandang Iran sebagai “ancaman strategis” dan mendukung upaya membatasi kemampuan rudal dan drone Iran, kerajaan tersebut dilaporkan menolak langkah-langkah yang dapat memicu eskalasi tak terkendali, seperti serangan terhadap infrastruktur energi atau upaya perubahan rezim.
Kekhawatiran Eskalasi Meningkat
Laporan itu menambahkan bahwa pejabat Teluk khawatir ketika Trump mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran, yang mendorong komunikasi darurat dari negara-negara Arab kepada pejabat AS, memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa memicu balasan besar.
Pada saat yang sama, Riyadh juga khawatir Washington pada akhirnya akan menarik diri dari perang, meninggalkan kawasan menghadapi Iran yang masih kuat dan siap membalas. Kekhawatiran ini mendorong Arab Saudi untuk memprioritaskan de-eskalasi, dengan pejabat semakin mendorong penyelesaian melalui negosiasi.
Laporan Financial Times ini melengkapi laporan sebelumnya oleh Reuters pada 11 Maret, yang menunjukkan bahwa negara-negara Teluk sudah menanggung dampak ekonomi dan keamanan dari perang. Para pejabat saat itu memperingatkan bahwa mereka terseret ke konflik yang tidak mereka mulai atau dukung, sementara serangan balasan Iran mengganggu infrastruktur, aliran energi, dan stabilitas kawasan.
“Ini bukan perang kami. Kami tidak menginginkan konflik ini, namun kami yang harus membayar harganya dalam keamanan dan ekonomi kami,” kata Ebtesam Al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center.
(Sumber: Al Mayadeen)







wk ..wk..wk…resiko bila orang kapir jd temen baik
Padahal sudah di ingatkan ya di surah al Maidah 51
Kalian orang Arab yg dahulu adalah kaum jahiliyah dan menjadi cerah meninggalkan kejahiliyahan saat datangnya Muhammad rasulullah, kenapa kalian ingin kembali lagi mau menjadi jahiliyah? Kalian berteman akrab dengan kaum kafir perusak islam yg sudah kalian tahu.
Itulah akibat negara dipimpin pengusaha. Orientasinya cari untung (bisnis senjata). Konoha juga ACAKADUT jadinya gara2 dipimpin pengusaha (bukan politisi tulen). Tempo hari pengusaha tukang pelitur (pelintir kebenaran), sekarang pengusaha joget
kebetulan saja presiden yang kemarin itu pengusaha mebel yang tukang bohong, yang sekarang pengusaha kertas serta ormas preman grib Jaya yang omon2 🤣