Apakah kita tidak boleh mengkritik penguasa secara terbuka? Koreksi untuk ustadz salafi

✍️Rumail Abbas

Apakah kita tidak boleh mengkritik penguasa secara terbuka? Apa yang disampaikan ustaz itu di story tidak sepenuhnya benar.

Kenapa?

Ia menawarkan satu jalan doang: kirim orang ahli bicara empat mata dengan penguasa, sisanya cukup mendoakan. Kritik terbuka ia samakan dengan caci maki yang menghancurkan negeri.

Resep itu aneh, persis di kata “ahli” yang dia pakai.

Bila yang ia maksud adalah orang yang paham agama dan menguasai dalil, justru merekalah yang Nabi ﷺ perintahkan menyuarakan keadilan di hadapan penguasa zalim.

Dan perbuatan itu disebut jihad paling utama.

Aneh karena ia menyuruh para “ahli” melakukan kebalikan dari yang dipuji Nabi, lalu menamainya kesalehan, sembari mengandaikan rakyat biasa punya nomor telepon istana.

Rakyat hanya punya DPR yang sering tuli. Jadi, selain mereka, rakyat hanya punya media sosial dan jalanan.

Lantas, apakah kritik terbuka diperbolehkan? Iya! Literatur Islam justru memperbolehkan, bahkan memuji, kritik yang terbuka.

Imam al-Tirmidzi (w. 279 H/892 M) mencatat dalam Sunan-nya:

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sesungguhnya termasuk jihad paling agung adalah kalimat keadilan di hadapan penguasa zalim.”

(Sunan al-Tirmidzi, tahqiq Basysyar ‘Awwad Ma’ruf, no. 2174; dinilai hasan gharib)

Kuncinya pada kata ‘inda, di hadapan, bukan secara rahasia.

Imam Abu Dawud (w. 275 H/889 M) meriwayatkan matan serupa dengan lafal afdhal al-jihad, dan al-Albani menilainya sahih:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ، أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

“Jihad paling utama adalah kalimat keadilan di hadapan penguasa zalim, atau amir yang zalim.”

(Sunan Abi Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid, no. 4344; dinilai sahih oleh al-Albani)

Bagaimana praktiknya? Ada rekaman unik seperti ini.

Imam Ibnu Majah (w. 273 H/887 M) meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah menegur Marwan secara terbuka di hari raya karena menyalahi sunnah, lalu Sahabat Abu Sa’id al-Khudri membenarkannya:

أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ

“Adapun orang ini, ia telah menunaikan kewajibannya.”

(Sunan Ibni Majah, tahqiq Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, no. 4013; dinilai sahih oleh al-Albani)

Ustaz itu memang benar bahwa ada anjuran menasihati penguasa secara tertutup, lewat hadis ‘Iyadh bin Ghanm.

Tetapi muhaqqiq Syu’aib al-Arna’uth menilai sanad pada jalur itu dha’if karena terputus, karena Syuraih bin ‘Ubaid tidak terbukti mendengar dari ‘Iyadh:

وهذا إسناد ضعيف لانقطاعه

“Dan ini sanad yang lemah karena keterputusannya.”

(Musnad Ahmad, tahqiq Syu’aib al-Arna’uth, no. 11594)

Jadi, jalan yang ia jual sebagai “satu-satunya” justru bersandar pada sanad paling lemah, sementara kritik di hadapan penguasa dibuka oleh hadis hasan dan sahih.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. pasti org2 itu bakal bawa2 demokrasi utk menghalalkan caci penguasa, besok demokrasi dipakai kaum itu buat menghalalkan riba juga gak? hanya karena demokrasi ga merubah mencaci penguasa jd halal akhi

  2. pokonya asal beda pendapat dari mereka kelompok ini mudah sekali menyesatkan mengkafirkan sesama muslim. seolah² tafsir hadis atau quran dari kelompok mereka yg pasti benar.
    quran & hadis yg keluar dari ucapan nabi Muhammad itu pasti bener,beliau maksum. sementara TAFSIR hadis/quran kebenarannya ga mutlak,boleh dikritsi karena para penafsir tidak maksum.
    kalo ada orang mengaggap bahwa pendapatnya lah yg pasti benar lantas apa bedanya dia dgn nabi ? atau jangan² dia mau ngaku jadi nabi tapi masih malu-malu.

    1. kadrun bentrok dg salafi sama2 bawa dalil, tp kadrun baper kalo org lain bawa dalil tp selama ini dia seorang lah yg doyan bawa dalil, bukannya yg suka bilang kafir dan munafik si itu ya …. apa bedanya dong?

  3. Golongan Abu Jahanam termasuk yang sok ngustad copas aslinya kafir di sini tertawa joget² liat perpecahan umat, misi agen zionis – asu berhasil ngadu domba melemahkan umat Indon supaya mudah dijajah terus.