Pep Guardiola resmi mengumumkan akan mundur sebagai manajer Manchester City setelah menghabiskan satu dekade yang penuh dengan kesuksesan di Etihad Stadium.
Keputusan emosional ini dikonfirmasi langsung oleh pihak klub menjelang pertandingan terakhirnya di Liga Utama Inggris musim ini melawan Aston Villa.
Meskipun menyudahi perannya sebagai manajer, pria berusia 55 tahun asal Spanyol tersebut tidak akan sepenuhnya pergi karena ia akan mengambil peran baru sebagai Duta Global (Global Ambassador) untuk City Football Group guna memberikan saran teknis dan berkolaborasi dengan klub-klub di dalam jaringan grup tersebut.
Alasan Pengunduran Diri
Dalam konferensi pers terakhirnya yang penuh haru, Guardiola menjelaskan beberapa poin penting terkait keputusannya:
- Faktor Kehabisan Energi: Pep mengakui bahwa tuntutan jadwal kompetisi yang intens setiap tiga hari sekali serta ekspektasi tinggi yang tiada henti untuk selalu memenangkan gelar telah menguras energinya.
- Kebutuhan Istirahat: Ia menegaskan akan mengambil jeda waktu libur (istirahat) dari dunia kepelatihan dan belum memiliki rencana dalam waktu dekat untuk melatih tim lain.
- Momentum yang Tepat: Menutup musim dengan meraih dua trofi domestik (Piala FA dan Piala Liga) serta mengamankan tiket Liga Champions dinilai sebagai momen penutup siklus yang sempurna.
Warisan Luar Biasa & Statistik Emas
Selama 10 tahun kepemimpinannya sejak tahun 2016, Guardiola telah mentransformasi peta kekuatan sepak bola Inggris dengan meraih total 20 trofi mayor:
- 6 Gelar Premier League (termasuk rekor Centurions 100 poin musim 2017/18 dan rekor 4 gelar beruntun)
- 1 UEFA Champions League (bagian dari pencapaian bersejarah Continental Treble pada tahun 2023)
- 3 Piala FA & 5 Piala Liga (EFL Cup)
- 1 UEFA Super Cup & 1 FIFA Club World Cup
- 3 Community Shield
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas warisan tak tertandingi tersebut, Manchester City resmi mengumumkan akan membangun patung Guardiola di luar stadion serta mengubah nama tribun utara (North Stand) di Etihad Stadium menjadi nama dirinya. Kepergian Pep menandai akhir dari salah satu era manajerial paling dominan dan berpengaruh dalam sejarah sepak bola modern.
Kepedulian dan Solidaritas Untuk Palestina🇵🇸
Pep Guardiola memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap Palestina, yang secara konsisten ia tunjukkan lewat pernyataan publik yang lantang, partisipasi dalam acara kemanusiaan, hingga kritik keras terhadap ketidakberdayaan dunia internasional dalam melindungi warga sipil di Gaza.
Sebagai salah satu pelatih sepak bola paling berpengaruh di dunia, ia aktif memanfaatkan platform globalnya di luar lapangan untuk menyuarakan pesan kemanusiaan.
Aksi Nyata dan Bentuk Kepedulian Pep Guardiola
- Konser Amal “Act x Palestine”: Pada Januari 2026, Guardiola menghadiri konser solidaritas kemanusiaan ini di Palau Sant Jordi, Barcelona. Ia naik ke atas panggung sambil mengenakan keffiyeh Palestina. Di sana, ia menyampaikan pidato emosional mengenai penderitaan anak-anak yatim piatu di Gaza yang kehilangan orang tua akibat pengeboman.
- Pidato Gelar Doktor Kehormatan: Saat menerima gelar honoris causa dari Universitas Manchester, ia tidak hanya membahas olahraga. Ia menggunakan podium resmi tersebut untuk menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza serta mengkritik genosida terhadap warga sipil.
- Kritik Keras pada Pemimpin Dunia: Berdasarkan laporan media seperti CNN Indonesia dan Detiksport, Guardiola menyebut para penguasa dunia sebagai “pengecut”. Menurutnya, mereka membiarkan masyarakat sipil serta anak-anak di Palestina berjuang sendirian dan terlantar di bawah reruntuhan tanpa tindakan nyata untuk menghentikan konflik.
- Solidaritas di Lapangan: Pada akhir tahun 2025, ia turut memberikan dukungan langsung pada laga persahabatan antara Tim Nasional Catalunya melawan Palestina yang digelar di Barcelona sebagai bentuk penggalangan simpati budaya dan kemanusiaan.
- Fokus Melalui Jalur Filantropi: Di luar sikap politik pribadinya, ia menyalurkan bantuan kemanusiaan global yang terstruktur memanfaatkan yayasan keluarga miliknya, yaitu Guardiola Sala Foundation.
Sikap berani Guardiola ini sering dikaitkan oleh media dengan latar belakang emosionalnya sebagai warga Catalonia, sebuah wilayah yang secara historis sangat sensitif terhadap isu hak asasi manusia, keadilan sosial, dan perjuangan kemerdekaan.
Thank You🇵🇸🫡






