NEGARA TANPA PENGAWAS, SETELAH BABAK BELUR BARU “KOORDINASI”

Oleh: Ruly Achdiat Santabrata

Kemarin DPR, BI, dan Kemenkeu rapat darurat soal rupiah. Hasilnya: sepakat โ€œkoordinasi harus berjalan baik.โ€ Sementara hari ini rupiah diproyeksikan bisa tembus Rp19.000 dan IHSG berpotensi anjlok ke 4.000.

Baru koordinasi. Setelah semua ini terjadi?

Coba simak keangkuhan para pejabat tiga minggu lalu:

Mei 2026: โ€œAPBN aman dan terkendali.โ€
Juni 2026: โ€œRupiah udah undervalued, harusnya maksimal Rp17.600.โ€

Dari orang yang sama. Di lembaga yang sama. Jeda tiga minggu.

Datanya gak berubah dari awal tahun โ€” rupiah memang lagi megap-megap. Yang berubah cuma satu: angkanya udah gak bisa diumpetin lagi di balik narasi adem-adem ayam.

Sebenarnya DPR lagi ngapain sih? Mana fungsi pengawasan/kontrol terhadap pemerintah?

ALARM YANG MATI

Saya udah 20 tahun kerja bangun sistem IT untuk pemerintah di Singapura, London, sampai Dubai. Di dunia engineering, ada satu prinsip yang gak bisa ditawar: ๐’๐’ƒ๐’”๐’†๐’“๐’—๐’‚๐’ƒ๐’Š๐’๐’Š๐’•๐’š. Gampangnya, sistem yang sehat itu harus punya alarm yang bunyi kalau ada error โ€” sebelum semuanya keburu meledak jadi bencana.

Dalam arsitektur negara, alarm itu namanya pengawasan yang independen. ๐’ฎ๐’ธ๐“‡๐“Š๐“‰๐’พ๐“ƒ๐“Ž yang beneran jalan โ€” bukan formalitas, bukan ketok palu.

DPR punya mandat konstitusional buat jalanin fungsi itu. Bukan soal pro atau kontra pemerintah. Soal desain sistem yang sehat.

HASILNYA?

Anggaran raksasa MBG Rp268 triliun yang diambil dari pos-pos anggaran lain disetujui (termasuk ngambil dari anggaran pendidikan). Pas publik nanya dasarnya apa, jawabannya enteng banget: โ€œYa ini keputusan politik antara DPR dan pemerintah.โ€ Gak butuh kajian kelayakan, gak butuh analisis dampak. Yang penting ketok palu.

Belum lagi beban utang yang pelan-pelan nyedot hampir separuh pendapatan pajak kita sendiri.

Sekarang Moodyโ€™s nurunin prospek peringkat utang kita. MSCI lagi nimbang-nimbang mau turunin status pasar modal Indonesia dari emerging market ke frontier market. Dan responnya? Rapat. Sepakat koordinasi.

Pasar global gak bisa disuapin pidato penenang. Mereka cuma nyari satu sinyal: ada nggak lembaga di negara ini yang masih punya nyali buat ngajuin pertanyaan nggak enak ke pemerintahnya sendiri? Kalau gak ada โ€” jangan heran kalau investor milih kabur bawa balik modalnya.

Di esai ini saya bedah kenapa sistem di GovTech Singapura, GDS Inggris, dan Digital Dubai bisa sehat, sementara kita malah milih jalan pintas buat โ€œgak mau tahu.โ€ Gak bakal muat kalau ditumpah semua di sini โ€” analisis lengkapnya ada di:

https://tulis.simei.uk/negara-tanpa-alarm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 komentar

  1. Aris Wijayantolol/af/ANONim (Akal Nol, Otak miNim): alaaahhh…ini berita hoax aja. buktinya aku amanยฒ aja walau dollar terus naik. Aku beli rokok pake rupiah, bukan dollar. Paham drun?

    Netizen cerdas: ya…ya…TerMul dan TerWo. Kami paham kok kalau kau itu ODGJ ๐Ÿคฃ

  2. negara dikuasai oleh orangยฒ parTAI, semua lembaga mayoritas orang parTAI. sdh saat nya UUD 45 diamandemen sesuai perkembangan zaman :
    โœ๏ธ orang parTAI hanya menduduki lembaga legislatif,
    โœ๏ธ lembaga eksekutif dan yudikatif diisi oleh akademisi dan profesional,
    โœ๏ธ TNI & polri diperkuat (profesional) kelembagaan nya, tanpa ikut caweยฒ di lembaga lain nya.

  3. Masalah utamanya itu ada di sini: “ada nggak lembaga di negara ini yang masih punya nyali buat ngajuin pertanyaan nggak enak ke pemerintahnya sendiri?” Selama DPR, BPK, dll gak punya nyali negur presiden dan presidennya sendiri “pendengarannya” terbatas cuma lewat si boti itu, maka selamanya rupiah akan terpuruk … sdh benar kata mbah Amien Rais, kalo mau negara nggak makin ancur, jauhkan si wowo dr si bunted, Insya Allah negara akan diridloi Allah …

  4. KEPANIKAN SEMU dibuat oleh MSCI ( Morgan Stanley Capital International) adalah Senjata Rahasia Wall Street : kasus di Yunani (2013), Argentina (2019-2021), Nigeria(2016/2022), Malaysia(1998) (13)

    Belakangan lagi ramai goreng isu “Kiamat Juni-Juli” gara-gara MSCI coret beberapa saham premium spt BBCA dari list indeksnya. Rupiah ditekan, pasar sekunder memerah.

    Apa itu MSCI sebenarnya? mereka sebenarnya cuma jualan angka di atas kertas. Tapi dalam realitas geopolitik, MSCI adalah hulu ledak Washington Consensus. Tugasnya? Menghukum negara-negara yang berani ambil kebijakan mandiri (market defiance) dan menolak “menyembah” modal asing.

    Tiap ada negara yang ogah nurut sama resep pengetatan anggaran ala IMF, atau berani kunci sumber dayanya di dalam negeri, MSCI bakal langsung aktifin mode penalti: menurunkan status (downgrade), mencoret (drop), atau tebar ancaman keluar indeks.
    Berikut jejak digital kekejaman mereka

    1. Tragedi Argentina (2009-2021) Tahun 2009, Argentina lelah didera krisis akibat resep IMF. Mereka bikin aturan ketat biar Devisanya gak dibawa lari spekulan asing. Respon MSCI: Langsung degradasi status Argentina ke Frontier Market. Miliaran Dolar dana asing kabur otomatis out of nothing.

    Pola ini diulang pas 2018. Begitu Argentina pilih Presiden pro-Wall Street, statusnya dinaikkin lagi biar ada euforia kertas. Tapi pas 2019 rakyatnya pilih pemerintahan nasionalis lagi, MSCI langsung tendang Argentina ke kasta terendah (Standalone Market).
    Manipulatif? Banget.

    2. Yunani (2013): Degradasi Negara Maju Pasca-krisis Eropa, rakyat Yunani ngamuk nolak paket penghematan (austerity) ekstrem Troika (IMF dkk) yang bikin miskin struktural.

    Pemerintahnya coba bertahan demi amankan perut rakyat. Respon MSCI: November 2013, Yunani dicatat sejarah sebagai negara maju PERTAMA yang didegradasi jadi Emerging Market.

    Tujuannya jelas, bikin bursa saham Athena kebakaran, jatuhin harga aset premium mereka, dan nakut-nakutin pemerintah Yunani biar cepet-cepet angkat tangan dan tanda tangan kontrak utang baru sama IMF. Teror psikologis lewat layar monitor.

    3. Malaysia (1998): Bung Mahathir vs Gertakan Indeks Ini yang paling mirip trauma ’98 yang lagi digoreng pengamat lokal. Pas krisis Asia, IMF paksa semua mata uang ngambang bebas.
    Indonesia patuh dan hancur lebur. Tapi Mahathir Mohamad pilih market defiance: kunci kurs Ringgit secara sepihak dan larang modal asing kabur.

    MSCI murka dan langsung keluarkan Malaysia total dari indeks Emerging Market akhir ‘1998. Pengamat neoliberal meramal Malaysia bakal kiamat dan runtuh.

    Faktanya? Mahathir gak peduli indeks kertas. Malaysia fokus ke ekonomi riil. Hasilnya mereka keluar krisis jauh lebih cepat TANPA kerusuhan berdarah. Tahun 2000, MSCI jilat ludah sendiri dan masukin Malaysia lagi.

    4. Nigeria (2016 & 2022) Nigeria berkali-kali diancam didepak MSCI tiap kali Bank Sentral mereka coba amankan pasokan Dolar domestik biar mata uang Naira gak ambruk diserang spekulan. Bagi MSCI, negara itu bersalah kalau berani kunci dolarnya di rumah sendiri. Kapitalis asing harus bebas kuras likuiditas.

    Benang Merah Kasus BBCA & Indonesia Hari Ini Tekanan jual pada BBCA murni aturan mekanis portofolio (rule of thumb). Saham dilepas otomatis karena komputer di Manhattan kurangi bobot indeks kita, BUKAN karena fundamental BCA rusak.

    Secara fakta riil, ekonomi kita sangat produktif.
    – Keseimbangan Primer kita tetap surplus Rp 58,6 Triliun.
    – Konsumsi domestik (PPN/PPnBM) melonjak naik 41,3%.
    – Pemerintah sengaja tarik anggaran di depan (front-loading) buat investasi fisik jangka panjang: gizi manusia lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kedaulatan hulu mineral.

    Tidak terlalu berharga memelihara ketakutan sama fatamorgana digital buatan MSCI. Mereka cuma lagi panik karena sistem utang Dolar AS senilai USD 34 Triliun lagi kejepit di batas bunga 5,5%.
    Selama perut rakyat Indonesia kenyang dan hulu komoditas kita kuasai sendiri, kita aman di “sekoci kedaulatan” kita.

  5. Purbaya Yudhi Sadewa bilang bahwa lemah atau kuatnya rupiah terhadap SGD dan USD itu tergantung dari Bank Indonesia.

    Sekarang kita tau bahwa Gubernur bank BI adalah Perry Warjiyonio, dia adalah orang kepercayaan si bangsat Joko Widodo, si Perry atau biasa kita panggil Ulekan sambel ini dua kali menjabat Gubernur bank BI di tahun 2018-2023 dan 2023-2028.

    Jadi kalau mau rupiah menguat, maka target pembersihan adalah di tubuh bank sentral pusat untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintah sekarang.

    Kalau tidak maka semua akan selesai dan negara ini akan di kendalikan oleh Gibran Rakabuming secara otomatis jika pihak si bangsat bekerjasama dengan PDIP (Oposisi) untuk menggelar demo besar-besaran untuk menurunkan Prabowo Subianto, seperti di era Suharto.

    Jadi masihkan kalian tidak sadar bahwa perang perebutan kekuasaan sudah di tabuh pihak solo ??

  6. Team “pokok nya ada” gabung sama team anak TK yg ada di gedung kura2 yg di support sama para PREMAN BERSERAGAM > NGADAIN PESTA BABI, PESTA KORUPSI, PESTA NARKOBA, PESTA PINJOL & JUDOL, DAN PESTA2 BUANGSAT LAINNYA….
    AMBYAAAARRRR

  7. hanya Habibie yg ogah didikte IMF, toh $ ambrol. masalah nya, bukan IMF yg membuat terpuruk, tapi banyak antek asing dan antek Soros. dan mereka tuduhkan ke bukan pundung. LEMPAR TANGAN SEMBUNYI BARU ๐Ÿคญ

  8. Halah pejabat ga becus cuma formalitas omonยฒ sampe bebusa itu mulut tapi nihil hasilnya, percuma selama bos nya sendiri yang bikin kacau & rusak ; gampang give away jabatan kepada orangยฒ dekatnya yang bukan ahlinya jadi tinggal tunggu saja kehancurannya.