Setelah gw baca-baca berita internasional, ada 3 alasan kenapa rupiah merosot terus

✍️Mas Gres

Setelah gw baca-baca berita internasional, ada 3 alasan domestik kenapa rupiah merosot terus.

1. Para investor takut dengan independensi BI. Jika BI tidak independen, itu bikin rupiah kehilangan kredibilitasnya. (Thomas Djiwandono, keponakan presiden, ditunjuk jadi Deputi Gubernur BI).

2. Terlalu banyak dana asing mengalir ke luar Indonesia karena ketidakpercayaan investor terhadap kualitas kebijakan pemerintah, tata kelola fiskal, dan kebijakan fiskal yang ekspansif.

3. APBN kita defisit, alhasil pemerintah harus terbitin lebih banyak obligasi dan naikin bunganya. Ketika surat utang itu digunakan untuk menutup pengeluaran rutin negara yang membengkak, investor akan mulai khawatir.

Tebak membengkaknya gara-gara apa gaes? MBG!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. bagi para ternak, ambruknya nilai tukar rupiah akibat ulah soros, anis, yemn, kadrun, siah. udah persis pola pikirnya termul, junjungan ga pernah salah

  2. Konsekwensi stop impor, tolak utang dan berani mandiri :

    diserang MSCI, lalu investor ditakut²i bahwa katanya ekonomi Indonesia beresiko tinggi, sehingga mereka kabur ketakutan dan rupiah dijatuhkan.

    kalau mau rupiah menguat caranya gampang, ambil aja utang IMF yg bunganya 7% itu, dan nurut aja dengan apa yg mereka suruh. stop hilirisasi, stop swasembada, stop B50, dst.

    pasti langsung mereka puji² ekonomi kita, mereka bilang bagus, rating MSCI naik, investor berdatangan, rupiah menguat.
    itulah yang akan dilakukan Anies kalau dia yg jadi presiden.lho kok bisa?

    saat ini, bukannya mendukung pemerintahan yang sedang bertahan menahan gempuran, dia malah jual kecap, dan bela²in media dan lembaga asing. dia bilang mustahil lembaga dan media internasional itu salah. dia bilang data ekonomi kita polesan dan yg riil adalah data asing.

    Prabowo punya hitung2an, bukan cuma punya gagasan yang nggak ada angkanya dan nggak tahu gimana eksekusinya.
    kalau Prabowo pengkhianat bangsa, tinggal ambil saja utang IMF, pasti selesai urusannya. semua happy.

    dampak jangka panjangnya : kita dimiskinkan dan dijadikan budak impor abadi.

  3. KEPANIKAN SEMU dibuat oleh MSCI ( Morgan Stanley Capital International) adalah Senjata Rahasia Wall Street : kasus di Yunani (2013), Argentina (2019-2021), Nigeria(2016/2022), Malaysia(1998) (13)

    Belakangan lagi ramai goreng isu “Kiamat Juni-Juli” gara-gara MSCI coret beberapa saham premium spt BBCA dari list indeksnya. Rupiah ditekan, pasar sekunder memerah.

    Apa itu MSCI sebenarnya? mereka sebenarnya cuma jualan angka di atas kertas. Tapi dalam realitas geopolitik, MSCI adalah hulu ledak Washington Consensus. Tugasnya? Menghukum negara-negara yang berani ambil kebijakan mandiri (market defiance) dan menolak “menyembah” modal asing.

    Tiap ada negara yang ogah nurut sama resep pengetatan anggaran ala IMF, atau berani kunci sumber dayanya di dalam negeri, MSCI bakal langsung aktifin mode penalti: menurunkan status (downgrade), mencoret (drop), atau tebar ancaman keluar indeks.
    Berikut jejak digital kekejaman mereka

    1. Tragedi Argentina (2009-2021) Tahun 2009, Argentina lelah didera krisis akibat resep IMF. Mereka bikin aturan ketat biar Devisanya gak dibawa lari spekulan asing. Respon MSCI: Langsung degradasi status Argentina ke Frontier Market. Miliaran Dolar dana asing kabur otomatis out of nothing.

    Pola ini diulang pas 2018. Begitu Argentina pilih Presiden pro-Wall Street, statusnya dinaikkin lagi biar ada euforia kertas. Tapi pas 2019 rakyatnya pilih pemerintahan nasionalis lagi, MSCI langsung tendang Argentina ke kasta terendah (Standalone Market).
    Manipulatif? Banget.

    2. Yunani (2013): Degradasi Negara Maju Pasca-krisis Eropa, rakyat Yunani ngamuk nolak paket penghematan (austerity) ekstrem Troika (IMF dkk) yang bikin miskin struktural.

    Pemerintahnya coba bertahan demi amankan perut rakyat. Respon MSCI: November 2013, Yunani dicatat sejarah sebagai negara maju PERTAMA yang didegradasi jadi Emerging Market.

    Tujuannya jelas, bikin bursa saham Athena kebakaran, jatuhin harga aset premium mereka, dan nakut-nakutin pemerintah Yunani biar cepet-cepet angkat tangan dan tanda tangan kontrak utang baru sama IMF. Teror psikologis lewat layar monitor.

    3. Malaysia (1998): Bung Mahathir vs Gertakan Indeks Ini yang paling mirip trauma ’98 yang lagi digoreng pengamat lokal. Pas krisis Asia, IMF paksa semua mata uang ngambang bebas.
    Indonesia patuh dan hancur lebur. Tapi Mahathir Mohamad pilih market defiance: kunci kurs Ringgit secara sepihak dan larang modal asing kabur.

    MSCI murka dan langsung keluarkan Malaysia total dari indeks Emerging Market akhir ‘1998. Pengamat neoliberal meramal Malaysia bakal kiamat dan runtuh.

    Faktanya? Mahathir gak peduli indeks kertas. Malaysia fokus ke ekonomi riil. Hasilnya mereka keluar krisis jauh lebih cepat TANPA kerusuhan berdarah. Tahun 2000, MSCI jilat ludah sendiri dan masukin Malaysia lagi.

    4. Nigeria (2016 & 2022) Nigeria berkali-kali diancam didepak MSCI tiap kali Bank Sentral mereka coba amankan pasokan Dolar domestik biar mata uang Naira gak ambruk diserang spekulan. Bagi MSCI, negara itu bersalah kalau berani kunci dolarnya di rumah sendiri. Kapitalis asing harus bebas kuras likuiditas.

    Benang Merah Kasus BBCA & Indonesia Hari Ini Tekanan jual pada BBCA murni aturan mekanis portofolio (rule of thumb). Saham dilepas otomatis karena komputer di Manhattan kurangi bobot indeks kita, BUKAN karena fundamental BCA rusak.

    Secara fakta riil, ekonomi kita sangat produktif.
    – Keseimbangan Primer kita tetap surplus Rp 58,6 Triliun.
    – Konsumsi domestik (PPN/PPnBM) melonjak naik 41,3%.
    – Pemerintah sengaja tarik anggaran di depan (front-loading) buat investasi fisik jangka panjang: gizi manusia lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kedaulatan hulu mineral.

    Tidak terlalu berharga memelihara ketakutan sama fatamorgana digital buatan MSCI. Mereka cuma lagi panik karena sistem utang Dolar AS senilai USD 34 Triliun lagi kejepit di batas bunga 5,5%.
    Selama perut rakyat Indonesia kenyang dan hulu komoditas kita kuasai sendiri, kita aman di “sekoci kedaulatan” kita.