Sepakbola, Geopolitik, dan Agama

✍️Ayman Rashdan Wong

Ada banyak perdebatan ketika kita mengaitkan sepak bola dengan sejarah, geopolitik, dan agama.

Mereka berkata, “sepak bola, hanya sepak bola, tidak perlu campur yang lain.”

Namun kenyataannya, setiap interaksi antar negara tidak akan pernah terlepas dari pengaruh sejarah, geopolitik, dan identitas (termasuk agama).

Bahkan dalam olahraga, semua hal ini berkontribusi pada “moral” (semangat juang).

Memang benar, untuk memenangkan pertandingan, hal terpenting adalah keterampilan dan taktik.

Tetapi jika tidak ada moral, sehebat apa pun keterampilannya, tim tersebut dapat kalah dari tim dengan moral yang lebih tinggi.

Di Piala Dunia ini, Norwegia menunjukkan “kelas master” tentang bagaimana membangun moral tim nasional.

Jika Anda perhatikan (bahkan tidak perlu diperhatikan, itu sudah jelas), sepanjang Piala Dunia ini, Norwegia mempromosikan sesuatu yang sangat aneh, yaitu identitas Viking.

“Viking” sebenarnya merujuk pada bajak laut yang aktif di Eropa sekitar abad ke-8 hingga ke-11 Masehi (sekitar 1.000 tahun yang lalu). Viking bukanlah nama sebuah bangsa, melainkan secara harfiah berarti bajak laut.

Dari segi etnis, bangsa Viking terdiri dari orang-orang Norse. Orang-orang Norse adalah nenek moyang orang Norwegia, Denmark, dan Swedia saat ini.

Orang-orang Norse pada masa itu memiliki masalah besar: kurangnya lahan subur. Di Norwegia, tanahnya penuh dengan pegunungan dan bebatuan. Hanya ada sedikit lahan datar untuk pertanian.

Seiring pertumbuhan penduduk Norwegia, tidak ada cukup lahan untuk menanam makanan.

Bagaimana cara mengatasi masalah ini?

Cara termudah di masa lalu: menjarah. Demikianlah lahir bangsa Viking yang menguasai lautan utara Eropa.

Orang-orang Norse adalah ahli laut. Dengan keahlian itu, mereka dapat membangun kapal-kapal yang kuat (seperti kapal panjang) untuk berlayar di lautan dan menjarah negara lain.

Target utama mereka adalah pulau Inggris (pulau terdekat), terutama wilayah Inggris yang saat itu dihuni oleh Anglo-Saxon.

Bangsa Anglo-Saxon terdiri dari dua suku, yaitu Angles dan Saxons. Mereka juga dianggap sebagai sepupu jauh bangsa Norse karena termasuk dalam keluarga Jermanik.

Bangsa Anglo-Saxon awalnya berasal dari daerah sekitar Denmark. Namun setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, mereka bermigrasi ke Britania (bekas koloni Romawi) dan mendirikan 7 kerajaan Anglo-Saxon.

Dari nama suku Angle muncullah nama Angland, yang lama kelamaan berubah menjadi England (Inggris).

Karena tanah Inggris subur, mereka juga menjadi sasaran Viking.

Pada tahun 793, sekelompok Viking dari Norwegia mendarat di Lindisfarne dan menyerang penduduk di sana. Peristiwa ini menandai awal “Zaman Viking”.

Pada saat itu, Viking tidak hanya menjarah, tetapi juga menjajah sebagian besar Inggris. Viking Norwegia menguasai wilayah utara yang berpusat di Jorvik (York saat ini). Viking Denmark menguasai wilayah timur.

Wilayah jajahan ini menggunakan hukum Denmark. Orang Norwegia di sana juga mengikutinya. Jadi wilayah itu disebut Danelaw (Dane = Denmark, Law = hukum).

Dominasi Viking ini mulai terancam ketika Anglo-Saxon bangkit kembali di bawah kepemimpinan kerajaan Wessex. Dari tahun 871 hingga 927, muncul tiga raja Wessex yang perkasa: Alfred, Edward, dan Athelstan.

Mereka berhasil mengalahkan dan mengusir Viking dari Inggris, dan kemudian menyatukan kembali Inggris pada tahun 927.

Namun ancaman Viking tidak sepenuhnya hilang hingga tahun 1066. Pada tahun itu, Raja Norwegia bernama Harald Hardrada mencoba kembali untuk menjajah Inggris lagi.

Namun Inggris berhasil mengalahkan Norwegia dalam Pertempuran Stamford Bridge (tidak ada hubungannya dengan stadion Chelsea). Raja Harald juga gugur dalam perang itu.

Kekalahan total ini segera mengakhiri Zaman Viking. Norwegia tidak berani mengganggu Inggris setelah itu.

Namun ironisnya, beberapa minggu setelah Pertempuran Stamford Bridge, Inggris dikalahkan oleh bangsa Normandia dari Normandy (Prancis utara) dalam Pertempuran Hastings.

Bangsa Normandia berhasil menguasai Inggris. Semua Raja Inggris sejak tahun 1066 adalah keturunan Raja Normandia pada waktu itu, yaitu William the Conqueror (William Sang Penakluk).

William the Conqueror (William Sang Penakluk), juga dikenal sebagai Raja William I, adalah Raja Inggris pertama dari bangsa Norman yang memerintah dari tahun 1066 hingga kematiannya pada tahun 1087.

William Sang Penakluk adalah keturunan Rollo, seorang Viking yang pensiun dari menjadi bajak laut dan menerima gelar bangsawan di Prancis. Ada yang mengatakan Rollo berasal dari Norwegia, ada pula yang mengatakan dari Denmark.

Jadi, dengan berbagai kejutan, Viking juga memenangkan konflik dengan Inggris.

Ketika Norwegia menghadapi Inggris di perempat final Piala Dunia, netizen langsung membuat berbagai macam meme. Mereka mengatakan bahwa pertandingan itu seperti reka ulang Pertempuran Stamford Bridge.

Yang lebih ironis lagi, bintang utama Norwegia, Haaland, lahir di Leeds, Inggris. Tempat itu sebenarnya adalah wilayah Norwegia pada era Danelaw.

Meskipun Viking dikaitkan dengan citra bajak laut yang kejam dan biadab (tidak beradab), orang Norwegia tidak pernah malu dengan sejarah ini.

Mereka siap untuk kembali bangga, dan menggunakan kesempatan untuk masuk Piala Dunia untuk mempromosikan sejarah mereka.

Karena Norwegia bukanlah kekuatan sepak bola tradisional seperti Inggris, Jerman, atau Prancis, mereka membutuhkan sesuatu untuk meningkatkan moral mereka.

Jadi Norwegia memanfaatkan sejarah Viking. Mereka mengingatkan tim bahwa leluhur mereka pernah menjadi pejuang hebat, menaklukkan separuh Eropa hingga membuat raja-raja besar Eropa ketakutan.

Itulah asal mula sorakan viral Viking Row. Aksi mendayung kapal secara langsung menghubungkan para pemain dan pendukung dengan sejarah masa lalu para pejuang Viking.

Lebih jauh lagi, Norwegia siap mempromosikan tulisan Norse kuno di jersey tim mereka.

Identitas Viking ini seperti pengganda psikologis. Ini menghilangkan rasa takut kalah dan menggantinya dengan keberanian, seolah-olah roh para pelaut kuno sedang bermain di lapangan.

Sebelum pertandingan dimulai, para pemain memukul drum dan bersorak bersama para penggemar.

Ini adalah ritual yang menghubungkan para pemain dengan para penggemar dalam misi nasional, seolah-olah mereka akan berperang seperti leluhur Viking mereka.

Akibatnya, tidak hanya seluruh negeri bersatu dengan semangat luar biasa yang memungkinkan Norwegia melaju ke perempat final untuk pertama kalinya, tetapi citra nama Norwegia terus melambung di Piala Dunia ini.

Sebelum Piala Dunia, banyak orang mungkin pernah mendengar tentang Norwegia, tetapi mereka tidak mengenalnya dengan baik. Orang mungkin membayangkannya hanya sebagai negara maju, kaya, damai, dan dingin.

Namun sekarang, ketika Anda menyebut Norwegia, orang tidak hanya memikirkan Haaland, tetapi mereka akan membayangkan Viking, kepahlawanan, dengan masyarakat modernnya tetapi dengan identitas yang kuat.

Bahkan Presiden Korea bertemu dengan Perdana Menteri Norwegia baru-baru ini dan siap untuk melakukan “Viking Row”. Ini benar-benar bentuk baru dari “soft power”.

Baik Norwegia terus menciptakan keajaiban di Piala Dunia 2026 atau terpuruk di kaki Inggris, mereka telah membuktikan bahwa negara kecil masih dapat mengguncang panggung dunia jika mereka mempertahankan identitas nasional mereka.

Tidak perlu meniru orang lain. Tidak perlu malu dengan sejarah kita sendiri. Kita hanya perlu percaya diri dengan siapa kita sebenarnya.

Ketika setiap negara memiliki kualitas ini, saat itulah mereka akan mendekati kesuksesan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

    1. junjunganmu bahasa aja dijadiin bahan diplomasi politik kok. ketemu presiden brasil nyerocos mau masukin bhs portugis ke dalam kurikulum pendidikan. pas ketemu macron lain lagi yappingnya, kali ini bahasa prancis yang mau masuk kurikulum. ketemu modi beda lagi, kali ini ngaku punya dna vrindavan. berarti mbah wo bukan fribumik

    2. @af.. wahh.. trnyata FIFA bagian dari kadrun jg y bang.. kerna kputusan “politiknya” ttg perang Ukraina..!!
      🤭😁😂🤣

  1. kadrun bawa2 agama di bola bela iran pertama trus gugur pindah ke mesir trus gugur pindah ke maroko ya elahhh sekarang udh gugur semua makanya jgn suka apa2 bawa agama, santai aja cukup nikmati olahraga, apa perlu nanti admin tulis agama pemenang world cup tiap tahunnya

    1. @?.. brita ttg “laskar manguni” ga d baca bang..!? doi ngoceh bola senggol² agama..!!

      trnyata doi trmasuk kadrun..!!
      🤭😁😂🤣

  2. sejarah indon dipenuhi juga oleh penghianatan, korupsi, menjajah rakyat sendiri serta penindasan.. jadi nenek moyangku selain pelaut juga banyak yang koruptor ..