Dr. Ruth Bar, mantan penasihat strategis Benjamin Netanyahu, akhirnya buka suara setelah lebih dari tiga dekade bungkam mengenai hubungan asmaranya dan kerja sama mereka di awal karier politik Netanyahu pada 1993.
Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Ben Caspit untuk situs berita Maariv yang diterbitkan pada September 2026, bertepatan dengan peluncuran bukunya, “Brain Under the Influence”—yang terbit kurang dari dua bulan sebelum pemilihan umum Israel, mantan penasihat strategis tersebut memecah kebisuan selama 33 tahun terkait skandal yang sempat menghebohkan publik itu.
Latar Belakang: Pada Januari 1993, Netanyahu sedang mengikuti pemilihan pendahuluan untuk memimpin Partai Likud guna menggantikan Yitzhak Shamir. Di tengah proses pemilihan tersebut, seseorang menelepon rumahnya secara anonim dan mengancam istrinya, Sara, dengan klaim bahwa penelepon itu memiliki rekaman yang membuktikan perselingkuhan Netanyahu dengan penasihat strategisnya, Ruth Bar.
Pengakuan: Untuk mendahului upaya pemerasan tersebut, Netanyahu bergegas menuju studio televisi Channel 1 Israel pada 14 Januari 1993. Dengan wajah muram dan tubuh berkeringat, ia mengakui perselingkuhan itu secara langsung di televisi nasional dan menuduh seorang rival senior dari Partai Likud (yang secara luas diyakini sebagai David Levy) berada di balik “komplotan kriminal” pemeras tersebut.
Perspektif Bar: Dalam wawancaranya, Bar mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak menyangka akan adanya siaran tersebut; ia baru mengetahui rencana Netanyahu untuk mengungkap hal itu ke publik sesaat sebelum Netanyahu tampil di layar kaca.
Terkait kepribadian Netanyahu
Bar menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang sangat ambisius sejak awal, yang “yakin bahwa pada akhirnya ia akan mencapai puncak kekuasaan.”
Kesan pertamanya, menurut Bar, adalah adanya rasa superioritas yang “hampir menakutkan,” sebuah sifat yang tidak pernah pudar. Ia mengenang bagaimana Netanyahu memandang para komandan militer senior, rival politik, jurnalis, bahkan presiden AS sebagai sosok yang berada di bawah levelnya; ia kerap menganggap para pengkritik tak lebih dari sekadar “juru tulis” dan memandang rival-rivalnya sebagai sosok yang “kecil, menyedihkan, dan tidak berarti.”
Ada satu kenangan yang sangat membekas baginya. Dalam sebuah rapat, Netanyahu tampak murung hingga ia melihat fotonya sendiri di surat kabar dan seketika wajahnya menjadi ceria. Bagi Bar, hal ini merupakan cerminan kecil namun bermakna mengenai kebutuhan Netanyahu untuk merasa lebih unggul dibandingkan orang lain.
Ia juga menyoroti dokumen kampanye lama berjudul “Cara Meningkatkan Karisma,” yang memaparkan strategi untuk mengaburkan batas antara Netanyahu dan para pendukungnya, serta memanfaatkan kebutuhan orang akan kekaguman diri dengan mendorong mereka untuk menganggap identitas Netanyahu sebagai identitas mereka sendiri.
Di sisi lain, Bar menjelaskan apa yang kini ia sebut sebagai “mesin racun” milik Netanyahu—sebuah sistem yang menurutnya membanjiri ruang publik dengan narasi negatif yang dirancang untuk merusak reputasi lawan politik.
Politik Berbasis Ketakutan: Bar menilai bahwa Netanyahu tidak sekadar mengeksploitasi ketakutan masyarakat Israel, melainkan menjadi bergantung padanya agar bisa bertahan secara politik.
Sumber: https://www.jpost.com/israel-news/politics-and-diplomacy/article-907577








horang gilaaaaa
Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda. Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu. (Yehezkiel 23:20-21)