RI Mau Ekspor Listrik ke Singapura dengan Nilai Fantastis Rp522 Triliun

Indonesia akan mengekspor listrik hijau ke Singapura dengan total nilai mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp522,79 triliun. Proyek lintas batas (cross-border electricity trade) ini ditargetkan menyalurkan energi bersih hingga 3,4 Gigawatt (GW) secara bertahap hingga tahun 2035.

Kebijakan strategis ini diumumkan langsung dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, di Istana Negara Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026.

Meskipun kesepakatan payung hukum telah dicapai, proses ekspor fisik belum dimulai karena pemerintah masih menahan regulasi teknis akibat negosiasi harga tarif listrik yang belum mencapai kesepakatan final (deal).

Berikut adalah poin-poin penting terkait perkembangan proyek kerja sama energi lintas batas ini:

⚙️ Pelaksana Proyek dan Kapasitas Energi

  • Pelaksana Tunggal: Pemerintah menunjuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai koordinator utama untuk mengawal dan mengimplementasikan proyek jangka panjang ini.
  • Kapasitas Ekspor: Total pasokan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) ditargetkan mencapai 3,4 Giga Watt (GW), meningkat dari rencana awal yang hanya sebesar 2 GW.
  • Mitra Off-taker: BPI Danantara bekerja sama dengan perusahaan energi asal Singapura seperti Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections.

📍 Lokasi Pembangkit dan Nilai Investasi

  • Pusat Pembangkit: Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar akan dibangun di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Kepulauan Riau.
  • Syarat Investasi: Pemerintah Indonesia menetapkan nilai investasi minimum sebesar US$ 10 miliar (sekitar Rp162 triliun) untuk proyek pembangkit ini. Nilai ini belum termasuk investasi untuk pengembangan kawasan industri hijau BBK dan teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).

⚖️ Isu Negosiasi Harga (Prinsip Win-Win)

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penundaan ekspor terjadi karena pemerintah ingin memastikan nilai ekonomi yang seimbang. Sesuai regulasi nasional, penetapan harga energi berada di bawah kewenangan pemerintah penuh. Indonesia memegang prinsip kerja sama harus saling menguntungkan (win-win solution) dan menolak menjual murah demi menjaga ketahanan energi nasional. Pemerintah meyakini titik temu harga komoditas listrik ini akan segera tercapai dalam waktu dekat.

Apa manfaatnya bagi Indonesia?

Ekspor listrik hijau ke Singapura membawa berbagai manfaat strategis dan ekonomi yang besar bagi Indonesia.

Berikut adalah rincian manfaat utama yang akan diperoleh Indonesia:

1. Mendongkrak Pendapatan Negara dan Devisa

  • Nilai Ekspor Fantastis: Jika proyek berjalan penuh, potensi nilai investasi dan ekspor diperkirakan mencapai USD 30 miliar (sekitar Rp522 triliun).
  • Keuntungan Green Premium: Indonesia mendorong harga jual yang mencakup premi energi hijau. Nilai ini lebih tinggi dari tarif listrik standar karena Singapura sangat membutuhkan listrik bersih untuk mengejar target dekarbonisasi mereka.

2. Menarik Investasi Infrastruktur Energi Hijau

  • Pembangunan PLTS Masif: Singapura bertindak sebagai pembeli pasti (off-taker). Hal ini memicu percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).
  • Transfer Teknologi: Kerja sama ini membuka jalan masuknya investasi teknologi mutakhir, termasuk sistem transmisi kabel bawah laut dan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).

3. Mendorong Transisi dan Ketahanan Energi Domestik

  • Efek Domino Kapasitas Nasional: Target pasokan 3,4 GW untuk Singapura merupakan bagian kecil dari target pembangunan 100 GW energi terbarukan di Indonesia. Infrastruktur pendukung yang terbangun otomatis memperkuat sistem kelistrikan nasional.
  • Pertumbuhan Industri Hijau: Pemerintah mensyaratkan Singapura untuk ikut membangun kawasan industri hijau di dalam negeri sebagai kompensasi dari ekspor energi ini.

4. Memperkuat Posisi Geopolitik di ASEAN

  • Pionir ASEAN Power Grid: Keberhasilan ekspor ini menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dan penggerak interkoneksi jaringan listrik antarnegara di Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. ya gpp ekspor buat nambah devisa negara. tapi pastikan dulu listrik di negara sendiri ngga byar pet & ngga pemadaman seenak jidat tanpa pemberitahuan

  2. jelas buzzer soros dan buzzer sellindonesia terguncang habis dan emosi berattt, kalau warga indonesia pasti selalu dukung tanah airnya

    1. baru rencana aja komen lu udah lebay…
      belum tentu juga jadi tong…
      lu inget ga rezim jokibul katanya IKN over subscribe 🤣🤣
      jgn dulu telen mentah2 info dr pemerintah Tong 🤣🤣