Oleh: Rumail Abbas
Publik itu pernah “ditipu” Polisi ketika seorang Kapolrestabes beserta jajarannya memberikan keterangan pers, menampilkan berbagai sajam hingga celurit yang panjang berwarna merah.
Kapolrestabes itu bilang bahwa salah satu anggotanya, Robig, hendak melerai tawuran antara Geng Seroja dan Geng Tanggul Pojok.
Robig diklaim diserang sehingga melepaskan tembakan dua kali untuk membela diri.
Jajaran Polisi, bersama Kapolrestabes itu, juga menampilkan rekaman kelompok remaja membawa celurit serta mengamankan senjata tajam sebagai barang bukti.
Saya akhirnya menonton video yang diunggah @TirtoID, sebuah rekaman CCTV yang ditemukan keluarga di depan Alfamart Jalan Penataran, Ngaliyan, Semarang.
Robig berhenti di jalan, mengadang tiga motor yang melintas, lalu menembak. Tidak terlihat tawuran atau pengacungan senjata tajam ke arahnya pada detik-detik penembakan.
Bahkan Robig terlihat sempoyongan dan sempat jatuh. Pengaruh alkohol? Polisi lagi-lagi membantah bahwa anggotanya ini dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan.
Memang, sejauh berita yang saya baca, tidak ada tes urin waktu itu. Akan tetapi, ketika Robig mau dipindahkan ke Nusakambangan, ternyata dia positif memakai narkoba.
Nah, siswa SMK yang ditembak Robig itulah yang dituduh Kapolrestabes itu sebagai anggota geng yang sedang tawuran. Namanya Gamma, dan pernah ada keramaian untuk menuntut keadilan untuk Gamma dengan tagline: Gamma Dibunuh Polisi.
Bayangkan jika tidak ada CCTV waktu itu? Bayangkan pula jika @TirtoID (maaf, saya hanya tahu dari @TirtoID, ya) tidak menyebarkannya? Bayangkan jika yang bersuara hanya polisi saja?
Tentu Gamma “dibunuh” dua kali. Pertama, dibunuh oleh Robig yang sempoyongan itu. Kedua, “dibunuh” narasi Polisi.
Peristiwanya masih terbilang baru, persis dua tahun lalu, di bulan yang sama, yaitu November 2024.
Kalian tahu nasib Kapolrestabes itu? Setahun kemudian, pada akhir 2025, ia naik pangkat menjadi Brigjen dan dipindahkan ke posisi Widyaiswara di Sespim.
Jadi, dari Kapolrestabes Semarang yang “menangani” penipuan kasus itu, kariernya justru naik ke jenjang perwira tinggi di lingkungan pendidikan Polri.
Maka, wajar pasca pesantren di Sukoharjo digrebek Polisi (tengah malam dengan laras panjang!), banyak orang akhirnya tidak percaya. Kendati Kapoldanya memberikan keterangan pers bersama wakil gubernur yang tidak lain adalah putra kiai.
Saya juga tidak percaya. Lawong dalihnya cuma “tidak terdaftar di Kemenag”. Sementara dalih pencarian DPO, yang tahu cuma Polisi.
Kasus Gamma juga yang tahu Polisi. Beruntung saja ada CCTV.








hey jangan asal ngomong!!! publik pernah di tipu polisi. tetapi polisi hampir selalu nipu publik
gak heran lah kalo ada polisi yg berani bunuh ibu kandung sendiri..
polisi indo paling brani se dunia, sama tuhan saja mereka nggak takut, apa itu tuhan ????
pada kasus km 50 juga itu sama
dungu-dung baleho sama Kapolda metro bikin hoax
gokil emang
Lengsergan WAguB koplak….
asli koplak…gus ngeles…..
Tunggu punya presiden yg waras dan berani dulu buat menyembuhkan penyakit kronis satu itu di negri ini.
Polisi sejak jaman Raja tipu MUKIDI > salah satu sumber segala KERUSAKAN INDONESIA
wilayah tengah memang jadi jalur naik pangkat bagi kalangan hitam
bajingan tolol kasus anak smk tewas malah naik pangkat shrnya dpt skorsing dan pesantren administrasi blm lengkap apa iya penanganan sampai spt itu kayak grebek penjahat
mereka aja berani taruh narkoba ke motor 🛵 orang lain yang tidak tahu apa-apa, gimana yang lainnya pasti akan ditutupi dan playing victim ini korps sambo ini niru junjungannya plongowi.