✍️Oleh: Kalis Mardiasih (Koalisi Suara Ibu Indonesia)
Kemarin sore di kenduri suara ibu indonesia di Yogyakarta, Mbak Diah Widuretno petani gunung kidul ngendikan: Lha, di websitenya BGN aja terinfokan kalau BGN teken MoU nya sama korporasi. Petani lokal, ekonomi kerakyatan, prekethek ora ana wujude.
Ini menjawab kenapa foto-foto MBG yang beredar adalah burger, spagheti, frozen food, susu pun susu ultra proses, bukan susu sapi segar dari peternak mboyolali. Pas ada anak Jember mencret gara-gara keracunan spagheti, mulutnya pejabat pada asbun bilang, “karena nggak terbiasa”. Jan mental kolonial, nguece wong cilik. Dipikirnya ngasih spagheti tuh udah paling hebat-hebato terus perut anak desa yang nggak terbiasa dianggap katrok.
Padahal, hal ini menjawab juga kenapa banyak kasus keracunan.
Kata Mbak Laksmi Savitri, ahli politik pangan, ya karena tata kelola sentralistik ini memaksa SPPG masak dalam skala besar, yang pada akhirnya opsi yang paling masuk akal adalah beli pangan industri karena:
- mudah disimpan alias pengawet;
- murah, apalagi kalau beli mepet tanggal expired atau barang apkiran gudang supermarket.
Sayur-sayur yang kelihatan di ompreng itu kan sayur frozen pabrikan. Ayam, rolade, juga frozen pabrikan. Nggak ada bahan pangan lokal, adanya UPF. Nggak ada rempah, adanya saos. Pas saosnya expired yang bikin keracunan, kok bisa-bisanya cuma minta maaf.
Anak-anak kita dikasih makan bukan dengan orientasi pemenuhan gizi, tapi dengan rantai pasok sistem pangan industri. Kalo belanjanya makin buanyak, makin dapat murah. Akhirnya stok disimpen kelamaan, lupa kalo kadaluwarsa. Pas nyimpen kelamaan pun nyimpen e yo nguawur. Udah masuk musim hujan, bakteri-bakteri ngumpul. Nyawa anak buat percobaan.
Kenduri Suara Ibu Indonesia sedih karena Ibu-ibu kasih makan anak itu beli bahan pangan di pasar yang fresh dan terbaik. Tapi kok di MBG ini anak-anak dimasakno skala besar, yang penting tersedia, makanya maunya yang instan dan gampang. Ngejar wektu, mburu cukup.
Padahal bisa lho kalau tata kelolanya nggak sentralistik ya dengan mengaktivasi dapur berbasis sekolah aja, berbasis komunitas, masak skala kecil-kecil, dengan begitu anak-anak akan dapat makanan yang bermartabat dan freshhhhh. Makanan anak adalah simbol martabat. Ngasih makan anak dengan pola pikir sing penting diwenehi mangan itu menghina martabat orangtuanya.
Ibu-ibu menuntut hak anak-anak untuk makanan layak dan bermartabat.
(sumber: fb)






