KETIKA ULAMA PUN DIANCAM

Oleh: Wilda Wahab

Siang tadi saya memposting status tentang sound horeg di WhatsApp. Sesuatu yang sedang ramai dibicarakan orang.

Tidak lama, chat dan telepon saya mulai berbunyi.

Ada yang bilang, “Semakin banyak fatwa sound horeg, semakin kami ambyarkan.”
Ada yang bilang, “Kalau masih membahas sound horeg, jangan diundang lagi ke Maulid, ke Isra Mi’raj. Biar rasain, kalau ngga diundang kita, mau makan apa kyai nya?” Bahkan ada yang mengaku sudah bersiap menjemput anaknya dari pondok, kalau pengasuhnya berani menyentil sound horeg lagi.

Saya menelepon mas Abdul Wahab Ahmad (suami -red), menceritakan semua itu satu per satu. Beliau berkata, “Tadi Mas memang sedikit menyinggung soal itu waktu ceramah, biar nanti malam di pengajian Mas bilang saja kalau memang tidak mau dengar soal halal-haram, jangan undang Mas lagi.”

Saya menutup telepon, tapi kalimat itu terus saya pikirkan.

Begitu mudahkah kita mengira seorang kyai akan takut kehilangan undangan, hanya karena ia menyampaikan yang haq?

Para nabi tidak pernah menjadikan penerimaan manusia sebagai ukuran keberanian. Mereka tetap bicara, meski ditolak, meski dimusuhi, meski diancam.

Maka jangan kira seorang kyai akan gentar hanya karena undangan dicabut. Orang yang takut kehilangan dunia, tidak akan pernah sanggup memikul amanah agama.

Ulama bukan orang yang pandai menjaga agar semua orang menyukainya, mereka adalah orang yang berani menjaga kebenaran, meski karena itu ia harus dibenci.

Jangankan kehilangan undangan, kehilangan nyawa pun, para pewaris nabi itu rela. Mereka tidak pernah gentar hanya karena manusia tidak suka mendengar apa yang mereka sampaikan.

Karena itu, wahai para HOREG LOVERS, jangan rendahkan marwah kyai dengan mengira memblacklist mereka bisa membuat mereka diam. Dan jangan merasa punya kuasa atas ulama, hanya karena kalian bisa memilih mengundang atau tidak.

Sebab bagi ulama yang betul-betul ulama, lebih baik kehilangan ribuan panggung, daripada kehilangan keberanian menyampaikan kebenaran.

Ulama bukan milik masyarakat yang hanya ingin mendengar kata-kata yang menyenangkan.

Ulama adalah pewaris para nabi. Dan pewaris nabi tidak pernah gentar kehilangan apa pun, selama yang sedang ia pertahankan adalah kebenaran.

FB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. ulama (orang beriman) tidak pernah takut mati karena syahid.
    preman (orang tidak beriman) masih takut mati karena mereka tahu bahwa kematian mereka dalam perbuatan konyol.

  2. Alhamdulillah. Saya Bangga ada Ulama seperti ini. Semoga Alloh selalu melimpahkan berkah dan RahmatNya kepada Panjenengan dan Keluarga. Aamiin ya Robb. 🤲😇

  3. saatnya kita nantikan suara2 ulama di jawa ini tidak lg masalah toleransi ketika fatwa ulama sdh tak dianggap, ingat ketika pki meletus korban yg banyak tokoh2 ulama NU krn mereka sering kali sungkan bersuara kerad

  4. Jangan ulama sebagai warga biasa resign dr kerjaan yang banyak mudhorotnya dan ga takut kehilangan rezeki dr situ, yakin kpd Allah Alhamdulillah setelah ikhtiar dg usaha sendiri malah rezeki lebih banyak & makmur.