Saya kadang bertanya-tanya, apakah pemerintah sekarang diisi oleh orang-orang cakap, yang berpikir waras, dan memang benar-benar ingin mencari solusi? Setelah 18 bulan lewat, saya tidak yakin jawabnya adalah iya.
Pemerintah ini seperti dukun palsu. Ia bukan dokter. Ia dukun. Ia memberikan pengobatan berdasar keyakinan bahwa dia benar. Masalahnya ia diagnosis sendiri. Kemudian dia bermantra — lewat pidato-pidato panjang lebar yang tidak ada isinya itu.
Dan sebagaimana layaknya mantra, hanya si dukun sendiri yang mengerti artinya! Hanya si dukun sendiri yang tahu khasiatnya. Dan setiap mantra dia sendiri yang tahu kegunaannya.
Mungkin dia juga tidak tahu bahwa mantra-mantra itu tidak berguna. Dia tahu bahwa tidak manjur menyembuhkan apapun. Namun dia ucapkan juga sampai-sampai dia sendiri percaya bahwa itu manjur. Ada pasien datang dan mengaku burungnya yang sudah lama menunduk, kini tiba-tiba bisa tegak lagi! Nah, kan!
Seperti itulah pemerintahan yang ada sekarang ini.
Katanya masalahnya adalah stunting. Solusinya? Makan Bergizi Gratis (MBG). Murid-murid Indonesia nilainya jeblok? Ah, itu karena makan mereka yang nggak bagus. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia? Ya, bagaimana bisa belajar kalau perut lapar? Anak-anak Indonesia sangat bego dalam tambah kurang kali bagi? Ya, kasih makan yang baik!
Anak-anak dapat MBG, lalu bagaimana dengan kantin sekolah? Tidak perlu kantin sekolah. Anak-anak harus makan sehat. Bagaimana dengan pedagang cilok, bakso tusuk, permen gulali, atau pedagang es teh di luar sekolah? Itu tidak sehat. Tapi kan mereka butuh makan juga? Itu tidak ada hubungannya dengan MBG!
Soal pangan? Oh gampang. Bikin food estate. Pangan adalah soal keamanan. Nanti para serdadu militer dan polisi yang akan mengerjakan itu. Lalu petani? Ah, anak-anak muda sudah tidak tertarik bertani lagi! Ha terus, kita rekrut prajurit.
Bikin 750 batalion baru. Bikin 22 Kodam baru. Mereka ini yang akan bertani, beternak, miara ikan … Lalu para prajurit itu? Mereka anak-anak petani, yang tidak mau lagi bertani, terus masuk tentara, untuk jadi … petani!
Kemudian ada persoalan dengan distribusi barang kebutuhan pokok. Juga distribusi dari produsen, khususnya hasil pertanian, dari desa ke pasar. Solusinya? Bikin Koperasi Desa Merah Putih.
Nanti semua barang-barang yang produksinya dikuasai pemerintah akan dijual KDMP. Gas subsidi harus dibeli lewat sana. Beras juga dari sana. Minyak goreng dan berbagai kebutuhan lain dibeli disana. Rakyat akan membeli lebih murah lewat KDMP.
Lalu bagaimana dengan rantai ekonomi? Setiap rantai itu ada keluarga yang mulutnya mangap minta makan. Ah, mereka tengkulak. Mereka pemeras para petani! Tapi kan mereka hadir dan memberikan pilihan kepada petani. Para petani bebas memilih mau belanja dan menjual produk dimana pun. Harga ditentukan oleh pasar. Pokoknya tidak! Mereka penghisap darah para petani!
Oh, pemerintah selama ini dikibuli oleh para produsen sumber daya alam dengan transfer pricing dan under-invoicing. Jadi masalahnya dimana? Negara tidak bisa menarik pajak dan dirugikan. Solusinya? Bikin ekspor satu pintu lewat PT Sumberdaya Danantara Indonesia.
Lho bukannya masalahnya adalah pada kemampuan negara untuk menarik pajak? Bukankah negara kuat itu diukur salah satunya dari kemampuan dan efektivitasnya untuk menarik pajak? Kalau begitu, bukannya masalahnya ada di bea cukai? Tidak, pokoknya harus satu pintu dan itu akan kita awasi langsung!
Kemudian ada masalah hutan-hutan lindung yang diserobot secara illegal oleh perusahaan-perusahaan perkebunan sawit. Solusinya? Bentuk Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Lalu setelah lahan itu “ditertibkan” dan disita oleh Satgas PKH, mestinya perkebunan dan tambang-tambang itu dihutankan kembali, dong?
Apa? Dihutankan kembali? Enak aja. Bentuk PT Agrinas Palma. PT ini di bawah Danantara. Perusahan ini yang akan mengelola kebun-kebun sawit itu. Jumlahnya sekarang sudah 2,7 juta hektar. 2,7 juta hektar? Iya. Luas sekali bukan?
Jadi Agrinas Palma, yang baru dibentuk Februari 2025 lalu, ini tidak perlu lagi membabat hutan, menyiapkan lahan, membuat infrastruktur perkebunan, membesarkan dan memelihara kebun sawit? Betul. Jadi, Agrinas ini tinggal panen? Ya betul.
Terus apakah Agrinas Palma ini punya pengalaman mengelola sawit? Oh ya tidak. Sebagian besar isinya adalah purnawirawan jendral yang tidak ada pengetahuan apapun tentang sawit. Lho kok? Solusinya gampang. Agrinas tinggal menyurus bekas pemilik kebun menjadi plasma. Terus, untungnya dibagi. Lhah! Enak betul. Enak, Bro. Kalau kamu berkuasa.
Contoh solusi-solusi cemerlang yang out of box dari rejim ini sangat banyak. Dan, skalanya pun raksasa. Mereka mendiagnosis sendiri persoalan dan menemukan solusi jeniusnya sendiri.
Lalu bagaimana dengan anak-anak yang tampaknya makin bodoh saja ini? Problem di negeri ini mungkin bukan kemiskinan absolut, yang jumlahnya naik turun tergantung situasi ekonomi itu. Problem terbesar di negeri ini adalah Kebodohan Absolut!
Dan setiap rejim yang berkuasa di negeri ini akan pura-pura mengiba pada kemiskinan absolut. Mereka tidak peduli dengan kebodohan absolut — karena ini diperlukan untuk kekuasaan. Kebodohan absolut akan membuat massa yang jinak dan patuh. Mereka cukup diberi bansos, BLT, dan sedikit uang untuk beli es teh sama satenya ketika Pemilu.
(Made Supriatma)







Ya bagaimana anaknya mau pintar, lha program kegiatannya aja adalah program PEMBODOHAN, direncanakan oleh orang-orang BODOH, didukung, dibela, didoakan juga oleh mereka yang SUPER DUPER GUOBLOKKKK seperti si Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT MUNAFIK islamophobia ODGJ akut alias si af alias si Anonim Babi guRun alias BabRun gerombolan TerMul dan TerWo‼️🤣😝😂😜
setahun sdh MBG dikibarkan bukan otaknya yg makin cerdas, malah korupsi & ternak² yg makin brutal.
Sudah diingatkan resiko mbg sejak dr embryio, tetep ndablek aja.
anak2 sekolah elit juga dapet MBG 😂😂😂
emang kacau..
Gak ada hubungannya makanan bergizi or kurang bergizi dg level otak. Para pejabat Konoha kebanyakan makan enak malah otaknya jadi pada Bloon.
Memang sengaja dibuat bodoh biar rakyat terus mudah disuguhi dicuci otak & diperalat dengan yagg viral² via tik tok jadi ga ada kritis² nya dan kopong buat kampanye pencitraan para oknum rakus gila jabatan & kekuasaan.
mana itu statemen tolol yg bilang MBG bikin anak jadi pinter?
presidennya bodoh
wapresnya plonga plongo
menteri2nya pada goblok
klop dah