Dua puluh tiga tahun lalu, tahun 2003, Amerika Serikat dengan mudah menjual narasi perang ke publik dunia. Saddam Hussein dituduh memiliki senjata pemusnah massal (WMD) dan bersekongkol dengan teroris. Colin Powell mempresentasikan “bukti” di PBB, media mainstream seperti CNN dan The New York Times mengulangnya tanpa henti, dan jutaan orang percaya. Hasilnya? Invasi Irak yang menghancurkan sebuah negara, tanpa WMD yang pernah ditemukan. Propaganda klasik era itu masih berhasil karena informasi masih terpusat di tangan segelintir media besar.
Sekarang, di tahun 2026, skrip yang sama lagi dipakai untuk Iran. AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran dengan alasan mencegah ancaman nuklir dan “negara sponsor terorisme”. Tapi kali ini, narasi itu gagal total membangun konsensus luas. Yang terjadi justru banjir video langsung dari lapangan, foto pecahan rudal Tomahawk di reruntuhan sekolah dasar perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, dan ratusan anak tewas dalam hitungan jam setelah agresi dimulai. Bukti fisik rudal buatan AS menyebar cepat di X, TikTok, dan Telegram. Bukan hanya aktivis, orang biasa di seluruh dunia ikut menganalisis geolokasi, metadata, dan membandingkan dengan laporan resmi Pentagon.
Era informasi terbuka ini mengubah segalanya. Dulu, butuh berminggu-minggu bagi kebohongan untuk terbongkar. Sekarang, dalam hitungan menit, video game footage yang dipakai sebagai “bukti kemenangan Iran” atau klaim Trump bahwa Iran sendiri yang menembak sekolahnya langsung dibongkar oleh netizen dan akun independen seperti Bellingcat. AI memang banjirkan deepfake dari kedua pihak, tapi justru membuat publik semakin skeptis. Pelajaran pahit dari Iraq, Afghanistan, dan Libya masih segar: janji “perang cepat dan tepat” sering berujung pada korban sipil massal dan kekacauan berkepanjangan.
Hari ini, jutaan orang sudah “pinter”. Mereka tidak lagi menelan mentah-mentah label “axis of evil” atau “imminent nuclear threat” tanpa bukti independen. Media sosial, meski penuh sampah disinformasi, juga menjadi alat counter narrative yang ampuh. Global South, akademisi, dan warga biasa kini bisa membaca laporan Amnesty International, Human Rights Watch, atau bahkan investigasi awal Pentagon yang mengakui kemungkinan kesalahan intelijen di Minab.
Amerika masih punya kekuatan militer dan pengaruh media tradisional, tapi era monopoli narasi sudah berakhir. Propaganda perang gaya lama kini bertemu dengan generasi yang terbiasa cross check fakta secara real time. Kali ini, “manufacturing consent” ala Noam Chomsky itu jauh lebih sulit. Rakyat dunia tidak lagi sekadar penonton pasif; mereka sudah banyak yang pinter, dan itu membuat Washington kewalahan.
Apakah ini akhir dari propaganda perang? Belum. Tapi jelas, model lama sudah retak parah. Di 2026, kebenaran meski masih diperdebatkan setidaknya tidak lagi bisa dikendalikan sepenuhnya dari satu pusat kekuasaan.






