IRONISIA: MENGAPA NEGARA KAYA BISA TETAP MISKIN?

NEGARA IRONISIA

Oleh: Fajar Budi Laksono

Beberapa hari terakhir saya kembali melihat sebuah data yang membuat saya merenung.

Dari 20 negara paling kaya sumber daya alam di dunia, hanya ada 4 yang PDB per kapitanya masih di bawah USD 5.000 per tahun.

Venezuela. Nigeria. Kongo. Dan Indonesia.

Empat dari dua puluh. Dan kita salah satunya, di angka USD 4.925.

Bandingkan dengan negara lain di daftar yang sama. Norwegia mendekati USD 90.000. Amerika Serikat USD 86.000. Australia USD 65.000. Kanada USD 55.000. Mereka juga kaya sumber daya alam, sama seperti kita.

Angka lain yang membuat saya berhenti lama: Indonesia memang peringkat ke-14 dunia dalam kekayaan sumber daya alam agregat. Tetapi dalam ukuran per kapita, peringkat kita ke-79.

Artinya kekayaan alamnya luar biasa, tapi yang sampai ke tiap penduduk relatif kecil.

Yang membedakan bukan isi perut buminya, melainkan kemampuan mengubahnya menjadi produk bernilai tinggi.

Nilai tambah tidak lahir dari tambang. Nilai tambah lahir dari engineering. Nilai tambah lahir dari manufaktur. Nilai tambah lahir dari inovasi.

Satu ton bauksit berharga sekitar USD 60. Diolah menjadi alumina, nilainya sekitar USD 400. Dilebur menjadi aluminium, sekitar USD 2.900. Menjadi komponen kendaraan, jauh lebih tinggi lagi. Dan menjadi bagian pesawat terbang atau perangkat medis, nilainya melompat ribuan kali lipat.

Semakin panjang rantai nilai yang kita kuasai, semakin besar manfaat ekonomi yang tinggal di dalam negeri.

Tetapi di sinilah masalahnya. Porsi manufaktur terhadap PDB Indonesia justru menyusut, dari 32% pada 2002 menjadi 19% pada 2024. Kita mulai meninggalkan pabrik sebelum sempat kaya.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam. Indonesia hanya membutuhkan lebih banyak pabrik, insinyur, dan inovasi.

Karena selama kita masih menjual isi tanah, kita akan tetap tinggal di kelompok empat negara itu.

Semoga suatu hari nanti kita tidak lagi dikenal sebagai negara yang kaya akan bahan baku, tetapi sebagai negara yang menghasilkan produk-produk terbaik dunia.

Karena pada akhirnya, yang membawa sebuah bangsa menuju kemakmuran bukanlah apa yang dimilikinya, tetapi apa yang mampu diciptakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. makanya perkuat pembelajaran tentang sains dan teknologi, jgn bedebat masalah politik sakit hati terus,paham drun?

  2. gdp nominal gak relevant sebab standar harga beda beda tiap negaranya, spt disini bisa makan padang 15k lengkap tp di tempat lain bisa 10x lipat harga makanan, coba pakai gdp ppp alias purchasing power of parity, kita memang masuk menengah keatas

  3. bkn sj krn tdk mampu mngubah produk bernilai tinggi,ttpi jg tdk ada kemauan pnguasa utk mnjadikan rkytnya mkmur dg kkayaan alam yg dimilikinya. mrk justru mnjdi pnghianat dg mncari rente dr oligarki dg mnyerahkn kkyaan alam pd mrk