Ibu dari korban keracunan MBG di SMAN 1 Berastagi teriak histeris, ginjal anaknya kena, ‘Ini tentang nyawa!!!’

Insiden keracunan massal program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa SMAN 1 Berastagi memicu kemarahan mendalam dari para orang tua murid.

Momen histeris tersebut terjadi saat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menjenguk para korban yang dirawat di Rumah Sakit Efarina Etaham, Berastagi. Seorang ibu meluapkan emosinya karena kondisi anaknya yang terus memburuk dan terkena ginjalnya.

“Anak saya terkena ginjalnya. Bapak punya anak apa tidak?!!! ini tentang nyawa!!!” teriak histeris ibu.

“Kok ya tega meracuni anak-anak!!!”

[VIDEO]

Berdasarkan laporan medis terbaru per September 2026, Agnesia P. br Silitonga, siswi SMA Negeri 1 Berastagi yang menjadi korban keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG), memang didiagnosis mengalami gangguan ginjal setelah kondisinya kembali memburuk pasca-rawat. Dokter telah menyarankan agar ia segera dirujuk ke rumah sakit di Medan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ini adalah situasi medis darurat yang menyangkut keselamatan jiwa. Beberapa korban lain dari tragedi Berastagi ini juga dilaporkan mengalami komplikasi berat setelah sempat diperbolehkan pulang, termasuk paparan racun jamur yang menyerang saraf kepala (dialami Feby br Purba) serta gangguan jantung.

Langkah Medis dan Hukum yang Sedang Berjalan

  • Aksi Orang Tua Korban: Para orang tua siswa, didampingi kuasa hukum dan Elemen Masyarakat Karo Peduli (EMKAP), telah mendatangi DPRD Kabupaten Karo dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk menuntut pertanggungjawaban penuh atas biaya pengobatan lanjutan jangka panjang.
  • Jalur Hukum: Kasus kelalaian fatal ini sudah resmi dilaporkan ke Polres Karo untuk mengusut tuntas zat racun yang terkandung dari pihak penyedia (SPPG Karo Berastagi Sempajaya).
  • Desakan Publik: Perwakilan keluarga menuntut Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pemerintah Kabupaten Karo menjamin penuh fasilitas penanganan medis terbaik karena dampak racun ini terbukti sangat membahayakan organ vital anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 komentar

  1. ntar ada komentar yg nyalahin takdir, ada yg bilang lbh banyak yg nerima manfaatnya, ada yg berkoar kasus keracunan sudah berkurang, ada yg komen goblok bin g nyambung anak kadrun kenyang makan mbg, ada jg yg komen sok bijak nunggu hasil tes medis dulu sblm menyimpulkan

  2. Sehalus sebijak apapaun komen abu² soal eksistensi MBG kalau ga kritis tegas sudahi di-stop saja itu program beracun mematikan berarti itu terwo pura² sok bijak.

    1. Hehehehee…..entar kalau anak atau saudara ente ..keracunan MBG sampai lupa ingatan…baru terasa sakitnya ….emang sih…cebonger mana punya empati…..nurani aja nggak punya….goblok sejak lahir…..