Harga Bahan Pokok Turun Saat MBG Libur, “MBG kalau bisa selesai saja, tidak perlu dilanjutkan lagi,” tutur Siti

“MBG kalau bisa selesai saja, tidak perlu dilanjutkan lagi,” tutur Siti.

“Kalau bisa MBG tidak perlu dilanjut lagi lah, soalnya harga-harga jadi naik,” kata Endang.

Harga sejumlah bahan pokok di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Komoditas yang turun meliputi sayuran, telur ayam, hingga daging ayam.

Penurunan harga tersebut terjadi bersamaan dengan liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.

Kondisi ini disambut gembira oleh banyak warga karena uang belanja kini bisa digunakan untuk membeli kebutuhan lebih banyak.

Pedagang di Pasar Wates juga mengaku penjualan sayuran meningkat setelah harga berbagai komoditas turun cukup tajam.

Pedagang sayur di Pasar Wates, Amios Jalu, mengatakan hampir seluruh jenis sayuran mengalami penurunan harga sejak awal libur sekolah.

“Turunnya bisa sampai 70 persen, terasanya sejak awal masa libur sekolah,” kata Jalu, dilansir dari TribunJogja, Senin (29/06/2026).

Ia mencontohkan harga brokoli yang semula Rp 29.000 per kilogram kini menjadi Rp 16.000 kilogram.

Sementara itu, harga kembang kol turun lebih tajam dari Rp 30.000 menjadi Rp 5.000 per kilogram.

Selain sayuran, harga telur ayam juga ikut merosot. Saat ini telur dijual sekitar Rp 21.000 per kilogram, padahal sebelumnya sempat mencapai Rp 26.000 per kilogram.

“Yang jelas sejak MBG libur karena libur sekolah, harga sayuran jadi turun sebab sangat dipengaruhi oleh MBG,” ungkap Jalu.

Menurut Jalu, harga yang lebih murah membuat masyarakat membeli sayuran dalam jumlah lebih banyak dibandingkan biasanya.

Harga Daging Ayam Ikut Turun

Penurunan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam.

Pedagang ayam di Pasar Wates, Ketut Ikasih, mengatakan harga saat ini berada di kisaran Rp 30.000 per kilogram.

“Sebelumnya Rp 35.000 per kg, turunnya sejak tiga hari terakhir,” kata Ikasih.

Ia mengaku cukup heran karena harga ayam justru turun saat masa libur sekolah.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh berhentinya sementara aktivitas MBG.

Meski harga lebih murah, peningkatan pembelian daging ayam belum terlalu signifikan.

Ikasih berharap harga tetap terjangkau supaya masyarakat semakin mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Harapannya ya bisa murah terus seperti ini agar masyarakat juga lebih nyaman untuk membelinya,” ucap Ikasih.

Warga Mengaku Belanja Lebih Hemat

Turunnya harga bahan pokok membuat para ibu rumah tangga merasa lebih ringan saat berbelanja. Salah satunya Siti Prayekti, warga Kecamatan Panjatan.

“Ya saya senang, karena dengan uang Rp 100.000 bisa belanja lebih banyak karena harganya sedang murah,” kata Siti, dikutip dari TribunJogja, Senin (29/06/2026).

Siti mengaku sebelumnya uang Rp 100.000 sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Kini, ia bahkan bisa membeli daging ayam hingga satu kilogram, sedangkan sebelumnya hanya membeli setengah kilogram.

Menurutnya, perubahan harga saat ini berkaitan dengan berhentinya sementara program MBG selama libur sekolah.

“MBG kalau bisa selesai saja, tidak perlu dilanjutkan lagi,” tutur Siti.

Pendapat serupa disampaikan Endang Sri Widarti, ibu rumah tangga asal Wates.

Ia menilai harga bahan pokok cenderung meningkat sejak adanya program MBG sehingga cukup membebani pengeluaran rumah tangga maupun usahanya.

Setelah sejumlah komoditas turun, Endang berharap kondisi tersebut dapat bertahan lebih lama.

“Kalau bisa MBG tidak perlu dilanjut lagi lah, soalnya harga-harga jadi naik,” kata Endang.

Ia berharap harga bahan pokok tetap stabil dan tidak mengalami lonjakan maupun penurunan yang terlalu tajam karena akan berpengaruh terhadap biaya operasional usaha katering yang dijalankannya.

Sementara itu, Amios Jalu mengatakan penurunan harga membuat pembelian sayur-mayur meningkat pesat.

Ia juga sering mendengar para pembeli mengaku senang karena harga kebutuhan pokok kini lebih terjangkau.

“Sebab mereka maunya ya harganya segini saja, apalagi ternyata program MBG sangat berpengaruh pada harga bapok,” pungkas Jalu.

Sumber: KOMPAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar