✍️Ustadz Anshari Taslim
Berhubung makin banyak yang menjadikan hadits Hudzaifah yang “dhaif redaksinya” tentang pemimpin berhati setan, maka saya keluarkan lagi tulisan ini.
Ada sebuah hadits yang saat ini sangat popular dijadikan dalil untuk menekankan ketaatan kepada pemimpin meskipun pemimpin itu menyiksa dan berlaku zalim. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman yang ada dalam Shahih Muslim.
Apakah hadits ini bisa dipahami demikian? Tentu untuk memahami sebuah hadits maka kita harus mengumpulkan dulu semua jalur isnadnya dan juga redaksionalnya, lalu memilah mana isnad yang shahih mana yang dhaif, kemudian memilah mana redaksi yang shahih mana yang syaadz atau munkar.
Hadits Hudzaifah yang dikenal dengan hadits tentang fitnah (huru-hara akhir masa) ini ada dalam Shahihain dengan redaksi yang sudah disepakati keshahihan isinya. Riwayat yang disepakati ini melalui jalur Abu Idris Al-Khaulani yang nama aslinya adalah ‘A`idzullah bin Abdullah yang berkata, Aku mendengar Hudzaifah bin Al-Yaman berkata,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»
“Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan, sementara aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?”
Rasulullah, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).”
Aku, “Apa kabutnya?”
Rasulullah, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.”
Aku, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?”
Beliau, “Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan mereka lemparkan ke dalamnya.”
Aku, “Tolong diskripskan kaum itu kepada kami ya Rasulullah.”
Beliau, “Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.”
Aku, “Wahai Rasulullah, apa saran anda kalau aku mendapati itu?”
Beliau, “Tetaplah bergabung pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.”
Aku, “Bila tidak ada jamaah tidak pula ada imam?”
Beliau, “Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.”
(HR. Al-Bukhari, no. 3606 dan 7084, Muslim, no. 1847).
Inilah redaksi yang telah disepakati keshahihannya dari hadits Hudzaifah ini. Dengan redaksi inilah ditimbang riwayat lain apakah ada tambahan yang munkar atau syaadz, ataukah tambahan yang bisa diterima.
Selain Abu Idris Al-Khaulani hadits Hudzaifah ini juga diriwayatkan oleh Abu Sallam Mamthur dari Hudzaifah dengan ada tambahan yang diperbincangkan. Berikut redaksinya:
وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ التَّمِيمِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ، ح وحَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ، أَخْبَرَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ سَلَّامٍ، عَنْ أَبِي سَلَّامٍ، قَالَ: قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قُلْتُ: هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، قُلْتُ: كَيْفَ؟ قَالَ: «يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ» ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ»
Secara umum redaksinya sama dengan riwayat Abu Idris tapi ada tambahan yang berbeda dengan redaksi Abu Idris yaitu pada kalimat yang dicetak merah. (وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ) (Akan ada di kalangan mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan berwujud manusia) dan juga kalimat (وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ) (meski punggungmu dipukul dan hartamu diambil).
Dengan redaksi inilah sebagian orang berdalil untuk tetap mentaati pemimpin yang berhati Iblis termasuk yang berhukum dengan undang-undang thaghut atau hukum jahiliyyah meski mengambil harta dan memukul punggung.
👉Mari kita tinjau riwayat Mamthur ini dari sisi sanad. Imam Muslim memuat hadits ini sebagai mutabi’ (penguat) bagi hadits Abu Idris Al-Khaulani, bukan sebagai riwayat utama. Sebagaimana diketahui bahwa riwayat mutabi’ dalam shahih Muslim kadang sanadnya dha’if, karena memang tidak dijadikan hujjah hanya sekadar dijadikan penguat riwayat di atasnya. Maka, harus ditinjau bila ada tambahan kalimat yang tidak terdapat pada riwayat utama, bila isnadnya dha’if maka kalimat tambahan itu tidak dapat dijadikan hujjah.
Sisi kelemahan riwayat ini adalah pada Mamthur ke Hudzaifah dimana Mamthur ini meskipun tsiqah tapi menurut para kritikus hadits dia tidak bertemu dengan Hudzaifah dan tidak mendengar hadits darinya, sehingga riwayatnya dari Hudzaifah dianggap munqathi’ (terputus) dan riwayat yang terputus terkategori dha’if tak bisa dijadikan hujjah.
SELENGKAPNYA BACA: https://pesantrenbik.com/kajian-hadits/mendudukkan-hadits-hudzaifah-tentang-taat-pada-khalifah/







selalu cari sela supaya mencari pembenaran
@?.. abang kh yg post hadist yg lg dibahas diartikel..!?
🫣🫢
pantesan ridho sama dinasti kerajaan 👑 Saudi diktator korup 🤣