Entahlah negeri ini, mau dibawa kemana sebenarnya.
Berita ini menyesakkan sekali membacanya. Mau segila apapun pembelaan pelaku, pembelaan teman-temannya, adalah fakta polisi ini telah divonis bersalah. Mau bla bla bla membela diri, inilah itulah, adalah fakta dia sudah divonis begitu. Dan itulah gunanya proses pengadilan bukan? Saat seseorang divonis atas kasus pemerkosaan, dia adalah pelaku. Penjahatnya! Titik final.
Tapi polisi satu ini spesial sekali. Sudahlah proses hukumnya dulu bertele-tele, sudahlah eksekusi hukuman juga bertele-tele, eeh, setelah dibui 4 tahun, pelaku ternyata aktif lagi jadi polisi.
Jika kasus ini menimpa rakyat rendahan, wah wah, langsung dihajar habis-habisan, lemparkan ke penjara, dan membawa nista seumur hidup. Tapi jika menimpa polisi, aparat, pejabat, politisi, mereka bisa bekerja dengan tenang. Bahkan ada yang dianggap bagai pahlawan, diangkat jadi komisaris BUMN.
Lihatlah Silvester, terus menerima gaji dari BUMN, padahal dia terpidana. Dipertontonkan terang benderang, tanpa malu-malu loh. Tanpa merasa harus bergegas diselesaikan, ditegakkan keadilan.
Seriusan, mau dibawa kemana sebenarnya negeri ini?
Itulah kenapa negeri ini seperti jauuuh sekali dari berkah Tuhan.
Yang banyak gerah, ribut-ribut, panas, korup, mencuri, maling.
Karena setiap memilih pemimpin malah sibuk terima amplop, sembako, bansos, bahkan dilempar kaos jelek pun jejeritan seolah itu dilempar emas 1 kg.
(Tere Liye)






