
Penuturan Azzam Mujahid Izzulhaq (Entrepreneur dan aktivis muslim):
Saya bersilaturrahim dengan 11 pondok pesantren dan sekolah Islam secara random di Jawa dan Sumatera yg badan hukumnya (yayasan) menjadi mitra pengelola program MBG. Pada kesempatan terpisah, saya beserta tim berbincang dengan para gurunya.
Data sementara:
Dari 11 pondok pesantren dan sekolah Islam tersebut, hanya 1 lembaga yg menaikkan gaji atau tunjangan para gurunya (yg juga di bawah upah minimum). Itu pun kenaikan ‘hanya’ Rp 50.000 per bulannya. 10 lembaga lainnya tidak.
Saya mengurut dada.
Kemarin, secara tak sengaja saya melihat (karena ada business meeting) ternyata ada pertemuan yg digelar di Ballroom Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah Bekasi oleh Badan Gizi Nasional. Saya kemudian menyengaja shalat zhuhur di musholla samping ballroom tersebut. Memperhatikan makanan buffet, batik, sepatu, jam tangan hingga clutch beberapa peserta. Akhirnya menyengaja pula jalan kaki mengitari parkiran hotel tersebut yg lahan parkir luasnya penuh dengan kendaraan roda 4 para peserta yg adalah mitra. Tampak banyak kendaraan baru ternyata.
Ada juga yg tidak makan di ruang ballroom bergabung bersama dan memilih untuk makan di Gendis Restaurant di samping resepsionis/lobi utama. Berbayar sendiri tentunya.
Sekitar jam 14 saya pulang dengan tangisan dan ingatan wajah para guru, Asatidz dan Ustadzat nan sederhana di hari sebelumnya.
Jangan menyimpulkan apa pun, saya hanya ingin berbagi cerita saja.







MBG program TAI.
karena apa??
hari ini makan makanan TIDAK bergizi, dan di BAYAR rakyat.
lalu besokannya berakhir di JAMBAN!!
demi rakyat 1% dianya 99%
pondok pesantren dan sekolah islam, jangan mau jadi mitra MBG, Tolak semua yang berbau MBG, seperti muhamadiyah