
✍️Catatan Ayman Rashdan Wong (pakar geopolitik Malaysia)
Hari ini berlangsung “Parade Hari Kemenangan” di Beijing, bertepatan dengan peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II (PD II).
PD II berakhir pada 2 September 1945, setelah Jepang menyerah, menutup medan perang Asia-Pasifik.
Jerman menyerah sedikit lebih awal, yaitu pada 7 Mei 1945. Jadi, orang Eropa dan Rusia biasanya merayakan Hari Kemenangan pada tanggal tersebut.
Tradisi China dalam menyelenggarakan parade ini sebenarnya baru. Pertama dan terakhir kalinya diadakan pada tahun 2015 (peringatan 70 tahun). Saat itu, Xi Jinping baru berkuasa selama 3 tahun.
Jadi, parade ini lebih berkaitan dengan agenda geopolitik Xi: untuk menonjolkan China sebagai negara adidaya yang sedang bangkit.
Negara-negara yang hadir dianggap sekutu atau merasa nyaman dianggap bersahabat dengan China.
Pada tahun 2015, dari ASEAN, hanya Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam yang datang. Mereka semua sangat bersahabat dengan China (Vietnam memang agak rumit, bersahabat, tetapi penuh kebencian).
Tahun ini sedikit berbeda. Hampir semua pemimpin ASEAN hadir, kecuali Thailand (karena tidak ada PM) dan Filipina (hubungan dengan China saat ini sedang memanas).
Jadi jangan khawatir, Malaysia bukan satu-satunya yang terlihat sebagai “Geng China”. Sekarang hampir semua ASEAN ingin menunjukkan bahwa mereka berada di orbit China.
Pak Prabowo juga awalnya membatalkan, tetapi dia datang terakhir. Ingin menunjukkan muka kepada China.
Mengapa ini terjadi? Seperti yang selalu dikatakan para pakar geopolitik: tatanan dunia telah berubah.
Dulu dunia berpusat pada Amerika. Jika mau berteman dengan China atau Rusia, mereka akan memikirkan bagaimana reaksi Amerika. Sekarang, orang-orang tidak peduli.
Dengan Amerika yang sekarang kehilangan arah, banyak orang merasa lebih aman berada dekat dengan China daripada dengan Amerika.
Saya sudah menulis panjang lebar tentang ini di ADIKUASA. Saya lelah mengulanginya berkali-kali.
Satu-satunya hal yang menarik di sini adalah: “Hari Kemenangan” ini konon memperingati kemenangan China atas Jepang, tetapi kenyataannya China bukanlah pemenang yang sebenarnya.
China pada saat itu lebih karena berada di posisi pihak pemenang PD II: Amerika, Soviet, dan Inggris. Jepang kalah karena Amerika dan Uni Soviet, bukan karena China.
Jika bukan karena aliansi itu, China mungkin tidak akan mampu bertahan melawan Jepang.
Saat itu, China memang sangat lemah. Untuk merasakan betapa buruknya keadaan China saat itu, Anda dapat menonton film China tentang Perang China-Jepang. Salah satu film terbaiknya adalah “Dead to Rights“.

Kisah Pembantaian Nanjing, di mana tentara Jepang membunuh lebih dari 300.000 orang China.
Saat itu, tidak ada yang membantu China. Liga Bangsa-Bangsa (pendahulu PBB) sama sekali tidak berfungsi.
Inggris dan Amerika yang mencoba menyelamatkan China juga diserang oleh Jepang. Barat pun tidak berbuat apa-apa (karena saat itu perang antara Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang belum dimulai).
Singkatnya: seluruh dunia menyaksikan China dibantai.
Namun pada akhirnya, terlepas dari keputusasaannya, China berhasil bertahan.
Setelah 80 tahun, China tidak hanya bangkit dari periode kemiskinan dan kelemahan, tetapi juga berhasil menyalip Jepang untuk menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.
Dalam hal kekuatan militer, Jepang saat ini tidak berani berurusan dengan China.
Semua ini terjadi hanya dalam 80 tahun.
Jadi, jika dibandingkan dengan situasi Muslim vs. Israel, apa alasan untuk menyerah?
Sistem dunia memang tidak adil, mengikuti hukum rimba: siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Jadi, jika ingin mengubah nasib, harus kuat.
Itu juga prinsip Salahuddin al-Ayyubi. Itulah sebabnya setelah 88 tahun (dikuasai pasukan Salib), Yerusalem kembali ke tangan umat Islam.
China telah berhasil memulihkan martabatnya. Hanya umat Muslim yang dapat melakukan hal yang sama, jika mereka benar-benar memahami hukum kekuasaan.
Inilah beberapa hal yang akan saya bahas dalam buku mendatang, ISLAM DAN GEOPOLITIK. Sementara itu, Anda bisa mendapatkan buku ADIKUASA untuk lebih memahami geopolitik negara-negara adidaya ini.
(fb penulis)






