✍🏻Wendra Setiawan
Banyak yang skeptis ketika BPS merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% di triwulan pertama 2026 ini.
Bagaimana mungkin di tengah gejolak perekonomian dunia, ketika rupiah dan bursa saham menunjukkan tanda-tanda melemah, tapi kok perekonomian Indonesia bertumbuh melampaui prediksi para ekonom, bahkan melampaui ekspektasi pemerintah sendiri?
Paradoks?
Apakah BPS memanipulasi angka PDB?
Saya jawab: Tidak!
Tidak mungkin BPS berbohong. Tidak mungkin mereka berani memanipulasi data statistik yang diawasi oleh badan-badan keuangan dunia.
Ingat ya, ada banyak komponen yang digunakan sebagai dasar penghitungan PDB. Dua di antaranya adalah konsumsi rumah tangga dan belanja negara.
Dengan semakin masifnya pemerintah mengeluarkan anggaran untuk proyek MBG, Kopdes Merah Putih, dan bantuan sosial, belanja negara dan belanja rumah tangga otomatis terdongkrak. Begitu juga pertumbuhan investasi yang ikut melejit hasil dari pembangunan dapur-dapur MBG baru dan ribuan gedung KDMP.
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang bagus, dong?
Ya tidak otomatis juga.
Masalahnya, PDB kita di triwulan pertama 2026 ini terdongkrat berkat belanja pemerintah, bukan karena menggeliatnya perekonomian sektor swasta. Ekspor kita hanya tumbuh 0,34%, sedangkan impor yang didominasi migas naik 10%. Belanja rumah tangga yang menggeliat hanya di seputaran dapur MBG, sedangan transaksi retail menurun.
Rakyat semakin berhemat karena laju inflasi melebihi laju penghasilan mereka.
Realisasi belanja pemerintah hingga 31 Maret 2026 Rp815 triliun (naik hampir 35% dibanding 2025), sedangkan realisasi pendapatan dari pajak dan sejenisnya mencapai Rp575 triliun (naik 10%).
Defisit, dong?
Karena belanja melebihi pendapatan, mau tidak mau pemerintah harus menarik utang baru. Beban baru. Konon pemerintah sudah menarik utang baru sebesar 265 triliun di tahun 2026 ini, Padahal kewajiban pembayaran utang 833 triliun tahun ini belum terealisasi.
Kenapa pemerintah jor-joran belanja di awal tahun?
- Pertama, tentu saja untuk menggenjot daya beli. Daya beli meningkat, harapannya perekonomian menggeliat.
- Kedua, mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Belanja negara adalah komponen terbesar yang bisa mendongkrak PDB. Semakin besar belanja, semakin besar pembilang penghitungan rasio PDB.
- Ketiga, menumbuhkan optimisme pasar. Pertumbuhan ekonomi membaik, harapannya optimisme pasar juga membaik.
Semoga ya, semoga fundamental perekonomian ke depannya semakin menguat, walaupun angka pertumbuhan ekonomi sekarang masih dikatrol pemerintah.







banyak? cuma 20% dari 80% drunnnnn berkaca dirilah
bisa dikata.. satu poin yg positif.. sedang poin laen masi biasa aj ato bahkan negatif..
👆👇
angka prtumbuhan trsebut didpt dr satu poin positif itu.. dmn nilainya naek scara “drastis”..
👆👇
yakni belanja negara yg gacor.. ampe lupa APBN boncos.. & siap2 hutang baru lg..
duhh pajak2..
😵💫😵
Ekonomi tumbuh , devisit juga tumbuh dan utang ikut tumbuh dan jangan lupa PHK dan pengangguranpun gak mau ditinggal. 😁