AS Bakal Mengerahkan Rudal Hipersonik untuk Pertama Kalinya Melawan Iran

Laporan menunjukkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah secara resmi meminta persetujuan untuk mengerahkan rudal hipersonik Dark Eagle milik Angkatan Darat ke Timur Tengah untuk pertama kalinya.

Langkah ini merupakan bagian dari persiapan untuk kemungkinan serangan terhadap target-target di dalam wilayah Iran jika peperangan kembali berlanjut di tengah gencatan senjata yang sedang rapuh.

Permintaan tersebut muncul setelah intelijen menunjukkan Iran memindahkan peluncur rudal di luar jangkauan sistem AS yang ada. Laporan juga mengatakan Presiden Trump sedang diberi pengarahan tentang kemungkinan serangan terbatas baru terhadap infrastruktur Iran.

Berikut adalah poin-poin utama dari rencana pengerahan tersebut:

  • Alasan Strategis: Permintaan pengerahan ini didorong oleh laporan intelijen bahwa Iran telah memindahkan peluncur rudal balistiknya jauh ke pedalaman, di luar jangkauan sistem Precision Strike Missile (PrSM) yang saat ini digunakan (jangkauan ~500 km).
  • Kapabilitas Dark Eagle: Rudal ini, yang juga dikenal sebagai Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW), memiliki jangkauan lebih dari 2.700 kilometer. Rudal ini dapat meluncur dengan kecepatan melebihi Mach 5 dan bermanuver di tengah penerbangan untuk menghindari sistem pertahanan udara canggih.
  • Status Operasional: Meskipun permintaannya sudah diajukan, Dark Eagle belum dinyatakan beroperasi penuh secara resmi dan telah menghadapi serangkaian penundaan dalam pengujiannya. Jika disetujui, ini akan menjadi pengerahan operasional pertama AS untuk teknologi hipersonik di medan tempur.
  • Ketersediaan dan Biaya: AS diperkirakan hanya memiliki kurang dari 10 unit rudal ini dengan biaya sekitar $15 juta per rudal.
  • Konteks Politik: Permintaan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi nuklir antara pemerintahan Trump dan Iran. Pengerahan ini juga dipandang sebagai sinyal bagi Rusia dan China bahwa AS kini mampu menandingi kapabilitas hipersonik mereka.

Hingga saat ini, Departemen Pertahanan AS dilaporkan masih meninjau permintaan tersebut dan belum ada keputusan akhir yang diumumkan secara publik.

Sumber: Bloomberg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar