✍️Fitriyan Zamzami
Buat kita orang masa kini, apalagi yang tinggal di kota penuh cahaya lampu, waktu pagi kadang-kadang kehilangan keagungannya. Kita orang jarang sekali, kecuali PLN lagi iseng, merasakan malam dalam kegelapan sejatinya.
Tapi buat orang-orang zaman dulu, apalagi yang tinggal di gurun-gurun di mana malam membuat bumi kehilangan batas-batasnya, lain cerita. “Dhuha” bukan sekadar kata untuk waktu tertentu.
Sedikit saja bahasa lain yang punya padanan untuk kata itu. Terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia, misalnya, agak kerepotan menangkap satu kata itu. Kementerian Agama memilih menerjemahkan dengan posisi matahari. Sementara terjemahan UII, tempat saya bersekolah, merayakan suasana hati: “Demi waktu dhuha yang ceria”.
Penerjemah dalam Bahasa Inggris juga beragam. Ada yang menekankan penunjuk waktunya seperti M Pickthall: “By the morning hours”. Ada yang menekankan keberadaan cahaya. Yusuf Ali misalnya, menerjemahkan ayat itu menjadi “By the glorious morning light” (“Demi cahaya pagi yang gemilang”). Serupa, MAS Abdul Haleem menerjemahkan menjadi “By the morning brightness”.
Ibnu Faris pada abad ke-11 menjelaskan bahwa akar dari kata “dhuha” tersebut adalah “dhaha” yang artinya cahaya yang menyingkap kegelapan, membuat apa-apa tampak jelas.
Yang menarik, dalam surah ini Allah Sang Cahaya sumber semua cahaya memilih bersumpah dengan sinar pagi itu mendahului ayat kedua yang menggambarkan malam dalam keadaan tergelap dan paling sunyinya.
Harapan, ditempatkan duluan ketimbang keputusasaan… Selalu ada harapan bahwa cahaya suatu kala akan datang menghapus kegelapan, kegalauan, kejahatan, dan kegelisahan di hati manusia… Selalu ada harapan bahwa cahaya pagi yang gemilang tersebut kelak menerangi hati adik-adik di pesta-pesta itu…







kok nge-share murotal mishari Rasyid dia pro zionist min
payah ente