✍️Dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP
Lucunya Negeri Ini
Kalau Punya Rp11 Triliun, Kenapa Tidak Bikin Anak Indonesia Berlomba Jadi Pintar?
Pemerintah merencanakan pembukaan rekening untuk lebih dari 200 juta orang.
Saldo awalnya Rp50.000 per rekening dari APBN.
Perkiraan kebutuhan anggarannya?
Sekitar Rp11 TRILIUN.
Saya sampai mikir:
Ini program macam apa lagi?
Rp50 ribu untuk satu orang memang terlihat kecil. Mungkin sekali belanja sudah habis.
Tapi kalau dikalikan ratusan juta orang, uang receh berubah menjadi TRILIUNAN uang negara.
Katanya tujuannya untuk meningkatkan inklusi keuangan.
Masalahnya, inklusi keuangan bukan sekadar lomba memperbanyak jumlah rekening.
Yang kita butuhkan adalah masyarakat yang punya penghasilan, mampu menabung, berusaha, berinvestasi, dan menggunakan layanan perbankan karena memang membutuhkannya.
Bukan sekadar punya rekening dengan saldo Rp50 ribu.
Dan Rp11 triliun itu bukan uang receh.
Itu uang rakyat.
Kalau negara mau mengeluarkan uang sebesar itu, kenapa tidak sekalian dipakai untuk menciptakan perilaku yang kita inginkan?
Kalau ingin Indonesia maju, salah satu yang harus kita bangun adalah budaya PRESTASI.
Bikin anak-anak Indonesia tergila-gila mengejar prestasi.
Bikin pintar menjadi keren.
Bikin belajar keras punya penghargaan nyata.
Saya punya usul:
BUAT PROGRAM PRESTASI NASIONAL
Kita bikin ujian akademik nasional yang serius, transparan, dan berstandar tinggi.
Semangatnya bisa belajar dari kompetisi akademik seperti Gaokao di China, tentu desainnya disesuaikan dengan Indonesia.
Bukan untuk menghukum anak.
Justru untuk menemukan talenta terbaik negeri ini.
Kemudian negara mengatakan kepada jutaan pelajar:
“Kalau kamu belajar keras dan menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia, negara akan menghargai kerja kerasmu.”
Hadiah?
Bikin sekalian menarik.
- Juara 1 nasional: Rp1 MILIAR.
- Juara 2: Rp500 juta.
- Juara 3: Rp250 juta.
- Peringkat 4–100: Rp100 juta.
- Peringkat 101–1.000: Rp25 juta.
- Peringkat 1.001–10.000: Rp10 juta.
Bayangkan percakapan anak SMA nanti:
“Gue harus belajar. Kalau masuk 10.000 besar nasional, gue bisa dapat Rp10 juta buat kuliah.”
Belajar mendadak punya hadiah nyata.
Lalu berapa uang negara yang diperlukan?
Saya hitung.
Sekitar Rp124 MILIAR.
Bandingkan dengan Rp11 TRILIUN.
Hanya sekitar 1%.
Dengan sekitar 1% saja, kita sudah bisa memberikan penghargaan besar kepada 10.000 anak berprestasi setiap tahun.
Dan masih tersisa lebih dari Rp10 triliun.
JANGAN CUMA ANAK SEKOLAH ELITE
Tentu jangan sampai program seperti ini akhirnya hanya dimenangkan anak-anak dari sekolah terbaik di Jakarta, Bandung, Surabaya atau kota besar lainnya.
Buat kategori lain:
- Siswa terbaik setiap provinsi.
- Siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu.
- Siswa terbaik daerah 3T.
- Sekolah dengan peningkatan prestasi terbesar.
- Guru pembimbing terbaik.
Jadi negara tidak hanya menghargai siapa yang PALING PINTAR.
Negara juga menghargai siapa yang PALING MAJU.
LALU BIKIN ANAK INDONESIA BERLOMBA MENCIPTAKAN SESUATU
Bikin kompetisi nasional:
- Sains
- Matematika
- Coding
- Artificial Intelligence (AI)
- Robotika
- Kesehatan
- Pertanian
- Teknologi pangan
- Energi
- Bisnis
Anak yang berhasil menciptakan teknologi baru, kasih dana penelitian.
Anak yang membuat bisnis bagus, kasih modal.
Anak yang menemukan solusi untuk masalah Indonesia, kasih beasiswa.
Guru yang berhasil mengangkat prestasi sekolahnya, kasih penghargaan.
Nah, uang negara dipakai untuk menciptakan NILAI.
Bukan sekadar dibagikan, kemudian selesai.
Bayangkan kalau budaya ini berlangsung 10 tahun.
Sekarang anak-anak berlomba viral.
Besok kita bikin mereka juga berlomba masuk 10.000 siswa terbaik Indonesia.
Bermimpi menjadi influencer? Silakan.
Tapi kita juga membuat anak Indonesia bermimpi menjadi ilmuwan, dokter, engineer, programmer, peneliti, inovator dan pengusaha.
Karena sebenarnya pemerintah mempunyai instrumen luar biasa untuk membentuk perilaku masyarakat:
INSENTIF.
Kalau kita memberikan penghargaan besar kepada prestasi, jangan heran kalau masyarakat mulai mengejar prestasi.
Kalau kita memberikan modal kepada inovasi, jangan heran kalau semakin banyak inovator muncul.
Kalau anak miskin yang pintar tahu bahwa prestasinya bisa membawanya kuliah sampai perguruan tinggi, pendidikan benar-benar menjadi tangga mobilitas sosial.
Jadi kalau negara punya sekitar Rp11 TRILIUN, jangan cuma bertanya:
“Bagaimana caranya ratusan juta orang punya rekening?”
Pertanyaannya harus jauh lebih besar:
“Bagaimana caranya Rp11 triliun ini membuat Indonesia lebih pintar, lebih produktif, dan lebih maju?”
Hargai yang belajar.
Biayai yang berbakat.
Angkat anak miskin yang berprestasi.
Hargai guru yang berhasil.
Biayai penelitian.
Beri modal kepada anak muda yang mampu menciptakan sesuatu.
Karena kalau memang mau membagikan uang rakyat,
jangan cuma bagikan Rp50 ribu.
BAGIKAN MASA DEPAN.
–FB–








Kebijakan yg lahir dr mimpi habis tidur bersama botty ya begini ini, kacau bin ngawur ..
Siap-siap ada grombolan terwo, yaitu Anonim yang terwo dan/atau termul dan kawan-kawannya
itu bukan program tp perampokan APBN jenis baru dari babi ngepet
…..krn pemimpin & ring-1nya gk sampe situ mimpinya. Mimpi mrk sesederhana keruk-keruk terus sampai ludes…..miris, hiks 🤑😭
percuma wong Mentri nya manut2 aja takut di resafel kalo nolak
Gerombolan TerMul dan TerWo BabRun JANCUK PKI yang terdiri dari kaum KAFIR dan MUNAFIK khususnya yg sering komen di portal ini sudah pasti bahagia dg berita ini. Tapi Gerombolan ANJING-ANJING KURAP PENJILAT itu MEMUTARBALIKKAN FAKTA dengan mengatakan bahwa “Kadrun sangat senang dg adanya rencana pemerintah itu.”
Dasar makhluk GUOBLOKKKK‼️ Bagaimana mungkin kadrun berharap dg program junjungan sekaligus sesembahan gerombolan GUOBLOKKKK itu kalau kadrun sendiri menentangnya‼️
Bhuahahahaha…huahahahaha…ngoahahaha…🤣
wah…. dr. Erta kayaknya lagi halu…..
yang musti dicerdaskan duluan pemimpinnya atau pejabatnya (jangan salah faham, aku ga bilang mereka goblok ya….). mana mungkin pejabat yang biasa² aja (ga cerdas) bisa mencerdaskan rakyat nya.