Mereka tidak suka saja dengan FATWA MUI

Emang mereka peduli sama kasus pencabulan? Peduli sama pesantren? Peduli sama persoalan korupsi? apalagi sama Hukum Islam?

Gak. Mereka cuma ga suka MUI berfatwa. Itu aja.

Mereka adalah penyembah hawa nafsu.

Fenomena ini digambarkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an Surat Al-Jatsiyah ayat 23

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami apa dan bagaimana fenomena penyembah hawa nafsu ini terjadi:

Ciri-Ciri Utama

  • Prinsip Hidup Hedonistik: Menganggap bahwa tujuan hidup satu-satunya adalah mencari kesenangan duniawi. Perbuatan mereka tidak lagi didasarkan pada moralitas, kebaikan, atau kebenaran, melainkan pada apa yang menyenangkan ego mereka saat itu.
  • Menolak Kebenaran (Batalnya Logika): Ketika dihadapkan pada nasihat, dalil, atau aturan yang bertentangan dengan keinginannya, mereka akan menolak atau mencari-cari alasan untuk membenarkan perilakunya.
  • Diperbudak oleh Keinginan: Alih-alih mengendalikan hawa nafsu, mereka justru dikendalikan oleh hawa nafsu tersebut.

Dampak Buruk

Menurut penjelasan para ulama dan ayat Al-Qur’an, orang yang terjerumus dalam kondisi ini akan menghadapi beberapa konsekuensi:

  1. Buta Spiritual: Allah mengunci pendengaran, hati, dan menutup penglihatan mereka dari kebenaran sehingga sulit menerima hidayah.
  2. Kecemasan Tanpa Akhir: Nafsu tidak pernah merasa puas. Menurutinya hanya akan membawa pada ketamakan yang merusak kedamaian hati.
  3. Penyesalan: Setiap keputusan yang hanya didasarkan pada pemuasan emosi sesaat umumnya berujung pada kebinasaan atau penyesalan di kemudian hari.

Cara Mengatasinya: BERTAUBAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Ya mereka TAK SUKA FATWA MUI alias TAK SUKA ISLAM‼️
    Mereka terdiri dari KAUM KAFIR dan kaum MUNAFIK. Sama seperti gerombolan ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun JANCUK PKI yang tak suka dinasihati Dalam kebenaran. Karena mereka sudah terbiasa hidup dalam hal yang HARAM‼️

    Up:
    1. si Anonim TerWo BabRun KAFIR
    2. AF (Antek FuFuFaFa, ANak Fuck)
    3. Federico Valverde preman KAMPUNGAN GUOBLOKKKK alias Judi Belingham, ST.,M.Si (Semakin Tolol, Makin Sinting)

  2. percis kelakuan kadrun kalo fatwa ga sesuai hati mereka langsung maki ulama suu atau ulama istana spt kasus kurban apbn kemaren saya miris betul melihat kdrun

  3. ah kata siapa lih miris buktinya apa nyuk kamu disini kan udah dicap fasik munafik jd ga usah sok suci makanmu aja tai gimana sih

  4. apa bedanya dgn kadrun yg suka milih2 fatwa ulama yg sesuai dgn hawa nafsu mereka doang? astaghfirullah drunnnn drunnn segera tobat sebelum mati drunnn