FATWA VS ORANG BEBAL

Oleh: Nyai Wilda Wahab

Ulama itu memang serba salah. Diam, dibilang tidak peduli. Bicara, dibilang cawe-cawe. Miskin, dicela. Punya fasilitas, dibilang cinta dunia. Sederhana, dibilang kolot. Mengikuti zaman, dibilang kebarat-baratan. Mengingatkan kemaksiatan yang sedang marak, malah dibilang “sepi job, makanya cari panggung.” Seolah apa pun yang dilakukan ulama selalu tersedia alasan untuk menyalahkannya.

Sekarang ketika ulama membahas sound horeg, muncul suara, “Ingatkan juga soal korupsi. Coba keluarkan fatwa kalau korupsi haram, jangan cuma mengurus sound horeg.”

Padahal haramnya korupsi bukan hal baru. Fatwanya sudah ada, bahkan MUI sudah fatwakan hukuman mati untuk koruptor, tapi anehnya, setiap teguran selalu bisa dialihkan kepada persoalan lain.

Hari ini horeg. “Korupsi bagaimana?” Besok MUI bahas korupsi, dialihkan “Pelecehan bagaimana?” Lusa pelecehan. “Miras bagaimana?”

Kalau begini terus, teguran tidak akan pernah sampai kepada siapa pun. Sebab selalu ada topik baru untuk menghindar dari topik yang sedang dibicarakan.

Koruptor, pezina, pemabuk, penjudi, pelaku pelecehan, dan orang yang menzolimi atau merugikan orang lain sebenarnya tahu bahwa perbuatannya salah. Mereka tidak menunggu fatwa untuk tahu bahwa dosa itu dosa.

Maka jangan salah memahami tugas ulama.

Fatwa bukan remote control. Ulama bisa menjelaskan, mengingatkan, menegur, dan memfatwakan, tapi tidak ada tombol di tangan ulama yang ketika ditekan membuat manusia otomatis berhenti berbuat dosa.

Menyalahkan ulama jauh lebih mudah daripada mengakui: “Saya sudah diingatkan, tetapi saya memilih tidak mendengarkan.”

Jadi sebelum bertanya, “Ulama ke mana?”
Coba tanyakan dulu kepada diri sendiri:
“Sudah berapa kali saya diingatkan, dan berapa yang benar-benar saya taati?”

Jangan-jangan yang kurang bukan fatwanya,
Jangan-jangan yang kurang adalah kemauan kita untuk taat.

Dan ketika nafas terhenti, penyesalan tak ada arti…

وَقَالُوا۟ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

Surat Al-Mulk: 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 komentar

    1. cieeee…Anonim TerWo BabRun KAFIR. Eh gak usah ngurusin agama kami. Urusin aja agama lu, paham lu BabRun⁉️😜😂😝🤣

  1. Allah menganugerahi 2 telinga dan 1 mulut, maksudnya agar manusia lbh byk mendengar drpd mbacot, tp kaum horeg ini entah kenapa mulutnya lbh panjang dan banyak drpd telinganya … mirip bgt sama lalat …

  2. patuhin juga fatwa ulama yg mengatakan jgn menyebar ujaran kebencian di internet kayak yg selalu dilakukan kadrun di portal ini, paham drun?