Postingan viral dari akun Muhammad di fb:
Setelah hampir 9 tahun bekerja dipesantren
Adakah yg bisa membantu membagi gaji saya agar cukup untuk satu bulan kedepan..
Malam ini sambil aku tatap anak-anakku penuh dgn iba aku berfikir selaku kepala keluarga, dengan istri dan 4 buah hati yg sedang bertumbuh. Aku bingung bagaimana cara menyelesaikan soal ini, jika disini ada para pakar ekonomi alumni dalam ataupun luar negri bolehlah kiranya membantu saya menyelesaikan soal ini
Mari kita nyalakan kalkulator akal sehat: Rp 471.000 untuk 6 jiwa selama 30 hari.
Artinya, satu nyawa di hargai Rp 2.616 per hari.
Ya slip gaji pertaruhan 6 nyawa.
Di negeri ini, dua ribu lima ratus rupiah bahkan tidak cukup untuk membayar parkir motor di depan minimarket. Namun di tempat ini, seorang pendidik dituntut memberi makan, keluarganya dengan sisa-sisa remah anggaran yang dinilai lebih murah dari tarif parkir.
Apakah nasi harus dihitung perbutir? Kuwah bening harus diperbanyak agar air bercampur garam itu cukup untuk 6 piring?
Haruskah cita-cita anak digadaikan demi membiayai gaya hidup para pemangku jabatan yang tak pernah merasakan dapur tak ngebul?
Realitas lebih menjijikan lagi guru harus dipertontonkan sandiwara busuk.
Rangkap jabatan tanpa urat malu Pucuk-pucuk jabatan diborong dan dipangku oleh 1 orang yang sama. Bukan karena tidak ada staf lain yang mampu, melainkan karena srakah, haus kekuasaan dan ketakutan kehilangan kendali.
Segala Potensi dimatikan, dibatasi, dan dibungkam. Siapa berpotensi unggul dieliminasi secara halus melalui adu domba, desas-desus, dan pembunuhan karakter adu domba yang sistematis.
Saat ada yg akan menuntut hak, pejabat pesantren itupun sudah menyiapkan freming, guru pemalas guru problematik guru blabla hingga semua takut untuk besuara.
Disisi lain Di saat guru yang memeras keringat dibayar dengan angka penghinaan, ada banyak pengangguran terselubung —tanpa beban kerja yang jelas, tanpa prestasi, bahkan 5 tahun tak berproduksi—tetapi tetap menerima amplop tebal hanya karena faktor kedekatan dan loyalitas buta.
Kalimat suci ikhlas, sabar, pahala akhirat, tujuannya bukan lagi untuk menguatkan jiwa, melainkan untuk membungkam kesadaran dan menutupi bobroknya manajemen.
Semua hanya untuk Membungkam Kritik Tanpa Perlu Memperbaiki Masalah, Melimpahkan Kesalahan (Victim Blaming), Senjata Murah untuk Menutup Inkompetensi & Kerakusan Penindasan hak dan ketidak adilan dibungkus rapi dengan narasi “perjuangan” atau “pengabdian suci”. Akibatnya, pekerja merasa bersalah jika menuntut hak dasar manusiawinya.
Dgn berat hati Apakah ini tahun terakhir ngajar dipesantren ya
Butuh uluran tangan org baik…mudhorobah, syirkah, ijarah, samsarah ok bolo tapi seng manusiawi.
–FB–







dzolim banget yang punya pesantrennya