TIYO ARDIANTO, mantan Ketua BEM UGM, menanggapi kasus korupsi MBG dan ditangkapnya tiga pimpinan BGN (Badan Gizi Nasional), yakni Kepala BGN Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN Irjen Pol Sony Sanjaya, Wakil Kepala BGN Letnan Jenderal (Letjen) TNI Lodewyk Pusung.
Berikut tanggapan cerdas Tiyo Ardianto (video dibawah):
“Kita telah mendapatkan satu kabar yang luar biasa membahagiakan karena Kepala dari lembaga yang berkali-kali kita kritik ditangkap oleh Kejaksaan Agung. Kepala BGN Badan Gizi Nasional. Yang akhirnya kalau kepalanya saja sudah maling berarti bukan badan gizi tapi Badan Garong Nasional.
Dan jelas bahwa apa yang kita sebutkan berkali-kali itu tidak salah. Kita sebut bahwa MBG ini bukan makan bergizi gratis tapi Maling Berkedok Gizi.
Dan kita bayangkan kalau kepala BGN-nya saja itu korupsi miliaran per hari bukan mustahil dan justru cenderung terindikasi dibawahpun hal yang serupa terjadi.
Karena Pak Prabowo sendiri berkata ikan itu busuk mulai dari kepalanya. Kalau kepala yang sudah busuk bisa dibastikan badannya juga busuk.
Nah hari ini kita tahu bahwa kepala yang busuk itu namanya adalah Pak Dadan dengan dua wakilnya yang kemudian juga ditangkap Kejaksaan Agung.
Yang kebetulan kalau sama Pak Sony (Irjen Pol Sony Sanjaya) salah satu wakil kepala BGN yang ditangkap itu saya punya pengalaman khusus. Beliau itu sempat mengatai saya ‘monyet’ ketika saya mengeritik MBG.

Dan terima kasih Pak Sony dan selamat untuk memproses nasibnya yang baru. Semoga tidak kedinginan kalau di ruang-ruang tahanan nanti.
Saya ingin memotret kejadian ini dalam kerangka, pertama: apresiasi.
Karena apa yang kita kritik akhirnya dibuka oleh aparat penegak hukum yang dalam hal ini adalah Kejaksaan Agung.
Bagi saya peristiwa ini secara objektif tetap harus kita apresiasi. Karena ini adalah langkah yang positif untuk penegakan hukum kita.
Tetapi kita sama-sama tahu bahwa yang namanya hukum itu tidak pernah lepas dari politik.
Apalagi sejak dalam kepemimpinannya Pak Prabowo dan Mas Gibran. Yang sejak awal saja memang memperlakukan hukum sebagai alat untuk politik.
Sehingga saya ingin mengcapture kejadian ini dalam kerangka itu. Bahwa kita harus sama-sama hati-hati.
Kalau setelah Pak Dadan ditangkap tidak ada perbaikan sistem di dalam menjamin akuntabilitas daripada penggunaan anggaran di MBG maka yang terjadi sebenarnya bukan penegakan hukum.
Tetapi penumbalan, pengkambinghitaman supaya medan konflik itu berpindah.
Kita sama-sama tahu bahwa selama ini ketika orang mengkritik MBG, orang tidak sekedar bicara soal implementasi. Orang bicara soal design thinking, intensi yang sejak awal melatarbelakangi program ini.
Saya berkali-kali sampaikan bahwa program ini sebenarnya tidak didesain untuk membuat anak-anak yang stunting jadi tidak stunting.
Karena sudah terlambat.
Stunting itu bisa diatasi ketika usianya sebelum 5 tahun.
Kalau orang sudah SD, SMP, SMA usianya jauh daripada 5 tahun.
Yang kedua, kalau ini untuk Gizi pun, stunting itu kan angkanya 19 persen. Kenapa yang dikasih itu targetnya adalah 100 persen?
Ini adalah tanda bahwa sejak awal intensi daripada MBG adalah Maling Bergedok Gizi.”
[VIDEO]







teruslah bersuara mas tyo..biar babik- babik byk yg ketangkep
statemen penuh daging & berkelas, ngga cuman kodran kadrun, yemn, siah, anis kayak komentar orang goblok pemuja mbah wo
Ikan busuk dimulai dari kepalanya…terus kepala/atasan BGN siapa? Sukanya gak ngaca….
terbukti wowo berpihak ke rakyat dan ga segan2 motong kepala yg bermasalah, kalo dia kotor sudah pasti ditutupi
huahaha… nyebokinnya kurang bersih…