Scoutro (karya mahasiswa ITB) vs Motor MBG

Oleh: Eep S. Maqdir

Di tengah ramainya pengadaan motor listrik untuk program MBG, muncul satu pertanyaan sederhana: mengapa tidak menggunakan karya anak bangsa?

Padahal Indonesia memiliki Scoutro, motor listrik buatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Scoutro bahkan sudah digunakan langsung di Taman Nasional Way Kambas untuk patroli polisi hutan. Bobotnya sekitar 80 kilogram, menggunakan dual motor listrik 3000 watt, baterai smart BMS, dapat dipantau melalui ponsel, dan memiliki jarak tempuh sekitar 65 kilometer.

Sekarang bandingkan dengan Emojo VX GT yang disebut memiliki tenaga 7000 watt dan jarak tempuh sekitar 70 kilometer. Dan yang menjadi sorotan publik, motor MBG ini belum pernah terlihat diuji jalan atau direview oleh media otomotif arus utama. Tiba-tiba muncul dan langsung disebut dipesan sebanyak 25.000 unit. Bahkan disebut-sebut membuat banyak pihak terkejut, termasuk Purbaya, Menkeu.

Di sinilah pertanyaan itu menjadi relevan. Jika sudah ada motor karya anak bangsa yang nyata, pernah dipakai di lapangan, dan memiliki basis pengembangan teknologi lokal, mengapa tidak sekalian didorong dan dikembangkan lebih serius?

Padahal Prabowo Subianto dikenal memiliki semangat kuat agar Indonesia mampu melahirkan kendaraan buatan sendiri. Bayangkan jika dana sebesar itu diarahkan ke riset dan pengembangan dalam negeri. Hasilnya bukan sekadar kendaraan operasional, tetapi bisa menjadi lompatan bagi industri otomotif nasional.

Kerja bagus tentu penting. Tetapi akan jauh lebih baik jika kerja besar itu sekaligus menjadi jalan lahirnya kemandirian teknologi Indonesia.

***

Scoutro adalah motor listrik utilitas hasil inovasi Fadhil Ahmad Muzakki, mahasiswa Desain Produk ITB (angkatan 2021), yang dirancang khusus untuk patroli senyap di Taman Nasional Way Kambas. Motor ini menonjolkan fitur Dual Hub Motor 6 kW, berat ringan di bawah 80 kg, dan sistem baterai swap LiFePO4 untuk medan ekstrem.

Fitur Utama dan Keunggulan Scoutro:

  • Performa Medan Ekstrem: Dilengkapi penggerak ganda (depan-belakang) 3 kW + 3 kW tanpa rantai, memberikan efisiensi tinggi di medan berlumpur.
  • Desain Senyap & Lincah: Didesain khusus untuk patroli hutan, motor ini beroperasi tanpa suara, sangat mendukung operasi taktis melawan pemburu liar.
  • Baterai Swap: Menggunakan dua unit baterai LiFePO4 72V 30Ah yang dapat ditukar (swap), memberikan daya jangkau operasional yang lebih jauh.
  • Desain Modular: Rak penyimpanan modular yang dapat diubah menjadi meja kerja lapangan dan memiliki fitur tambahan seperti kompresor udara.
  • Ringan & Tinggi: Berat total kurang dari 80 kg dan ground clearance tinggi (330 mm), mempermudah manuver dan evakuasi.

Inovasi ini merupakan bagian dari tugas akhir mahasiswa Desain Produk ITB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. Yang muda punya semangat MANDIRI. Kaum Lansianya malah cari cantolan ke Trumpedo untuk jaga langit Indonesia !!! BAHLIL eh…. BAHLUL lo !!!

  2. mobil listrik nya pa Dahlan Iskan aja di cuekin..apalagi motor punya anak mahasiswa …
    karna kgk ada fee/ komisi kalo pake produk lokal