✍️M Maki
Pak Dahlan Iskan menganalogikan Prabowo dengan Mahathir dan saya sedikit terkejut, kok bisa??
Pak Dahlan bilang “Serangan Fajar” Mahathir di London 1981 mirip sama isu “akuisisi Bayan Resources” di Kalimantan pekan lalu. Sama-sama kilat katanya, mendadak, dan nama presidennya gak muncul.
Tapi saya sih mikir, analogi ini terlalu dipaksakan. Begitu digali lebih dalam, banyak celah perbedaannya.
Mahathir dulu targetnya jelas yaitu Guthrie Plantation, perkebunan Inggris terbesar di Malaysia, simbol kolonialisme ekonomi. Malaysia rebut kembali 800 km persegi tanah dari Inggris. Itu perlawanan terhadap kekuatan asing yang udah berkuasa sejak jaman kolonial.
Sementara isu Prabowo sekarang, rumor yang beredar soal Haji Isam (pengusaha lokal Kalsel) katanya mau akuisisi 62,2% saham BYAN dari Low Tuck Kwong, yang juga udah puluhan tahun jadi pengusaha di Indonesia. Ini bukan ngelawan asing, ini perpindahan kepemilikan antar-sesama pengusaha dalam negeri. Kalo ini beneran terjadi, yang berubah cuma siapa yang duduk di kursi pemilik, bukan status kepemilikan nasionalnya.
Lalu tujuan Mahathir jelas buat “nasionalisme ekonomi”, ngambil alih aset strategis dari asing. Hasilnya Guthrie, Golden Hope, dan Sime Darby digabung jadi SD Guthrie Berhad, BUMN Malaysia yang profesional. Itu tentang membangun kekuatan ekonomi nasional.
Sementara isu “akuisisi Bayan” ini terjadi di bawah rezim Danantara yang lagi konsolidasi semua aset negara dan sumber daya di bawah satu kendali. Ini bukan soal “mengembalikan aset ke rakyat,” tapi soal ngatur ulang peta kekuasaan di antara para loyalis.
Di sisi lain, Mahathir pakai profesional perbankan yaitu Tun Ismail Mohamad Ali (Gubernur Bank Sentral Malaysia) dan Abdul Khaled Ibrahim (CEO BUMN Malaysia). Mereka rancang serangan di London dengan perhitungan matang dan eksekusi profesional.
Kalo di sini, gak ada tokoh profesional yang disebut-sebut sebagai pelaksana. Isu ini beredar setelah ada foto pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong. Manajemen BYAN dan Jhonlin Group bahkan udah bantah adanya rencana akuisisi. Jadi ini masih sebatas rumor, bukan fakta terkonfirmasi. Tapi yang menarik, rumor ini aja udah cukup bikin harga saham BYAN melonjak 19,97 persen dalam sehari.
- Mahathir pakai “Serangan Fajar” buat ngelawan hegemoni asing.
- Kalo Prabowo, lewat rumor ini, yang dia lakuin adalah ngatur ulang peta kekuasaan di antara para loyalis. Ini bukan kebangkitan nasional ala Mahathir, tapi pergantian tahta di dalam istana yang sama. Low Tuck Kwong emang bukan pribumi, tapi dia udah puluhan tahun bangun kerajaan bisnis di sini. Menggantinya dengan Haji Isam (yang jelas-jelas dekat sama kekuasaan) bukan nasionalisasi, tapi perpindahan kepemilikan dari satu konglomerat ke konglomerat lain.
Pak Dahlan bener dalam satu hal dua peristiwa ini sama-sama “kilat” dan “mendadak.” Tapi di situ aja akhir persamaannya.
Mahathir rebut dari Inggris buat rakyat Malaysia.
Prabowo, kalo ini bener, cuma mindahin tambang dari satu taipan ke taipan lain yang lebih deket sama istana.







mas penulis dan admin makanya tulisannya DI dibaca semua, dianalisa dan baru ambil kesimpulan, hadehhh
trus kesimpulannya apa?
mantap emang dua2nya macan asia bukan kadal gurun asia 👍
nah lu nya penjilat pantat macan😂😂😂
biarin om… sekali2 bikin seneng
nyata bener disekiling pa Ndut emang penjilad ulung semua 😂😂😂