Pasca direbutnya kembali ladang-ladang minyak utama dari kendali Syrian Democratic Forces (SDF), arah kebijakan energi Suriah mulai menunjukkan perubahan signifikan.
Pemerintah baru di Damaskus bergerak cepat memanfaatkan momentum ini dengan membuka kembali sektor migas yang selama bertahun-tahun terfragmentasi akibat perang, sanksi, dan pembagian wilayah kekuasaan.
Salah satu sinyal terkuat datang dari kesepakatan awal antara raksasa energi Amerika Serikat, Chevron, dengan Syrian Petroleum Company dan perusahaan Qatar, UCC Holding, untuk mengevaluasi potensi eksplorasi minyak dan gas di perairan lepas pantai Suriah.
Masuknya Chevron, perusahaan yang sudah lama mengoperasikan ladang gas Leviathan juga mencerminkan pergeseran sikap internasional terhadap Suriah pasca jatuhnya Assad. Kawasan pesisir Suriah di Mediterania timur berada di jalur strategis menjadikannya target menarik secara komersial. Jika eksplorasi ini berlanjut, Suriah berpotensi kembali menjadi pemain energi regional, bukan hanya bergantung pada ladang darat yang rusak akibat perang, tetapi juga pada sumber daya laut yang selama ini belum tersentuh.
Kerja sama dengan perusahaan Qatar juga memberi dimensi politik tambahan. Kombinasi modal Teluk, teknologi Barat, dan kontrol teritorial pemerintah Suriah membentuk konfigurasi baru yang sulit diabaikan oleh kekuatan global.
Pasca runtuhnya dominasi SDF atas ladang minyak, narasi “perang melawan teror” dan “perlindungan sumber daya” yang selama ini digunakan untuk membenarkan kehadiran militer asing semakin kehilangan pijakan.
Pemerintah Suriah bukan hanya mengambil alih ladang minyak secara fisik, tetapi juga merebut kembali posisi tawar politik dan ekonomi. Kesepakatan awal dengan Chevron menunjukkan bahwa peta energi Suriah tengah digambar ulang, bukan lagi oleh aktor non-negara, melainkan oleh negara yang berupaya bangkit dan menormalkan dirinya di mata dunia.







Komentar