Penyambutan PM Thailand apa gak terlalu berlebihan begini?

📍Apakah standar penerimaan kunjungan dari negara lain sudah berubah?

Penyambutan PM Thailand banyak menguras anggaran ya, mulai dari dentuman meriam, penyambutan berkuda ala kerajaan, dan tarian daerah di istana negara, segala prosesi dengan kemegahannya.

Tapi jujur kocak sih, di saat urusan perut, harga beras, sampai fasilitas publik masih perlu penyesuaian dan butuh dibenahi secara darurat, malah dipakai untuk bikin tamu kagum tanpa rem.

Belum penanganan dapur MBG di daerah timur, dan gaji guru honorer yang hanya 300 rb/bulan.

Prinsipnya simpel, Rumah sendiri boleh bocor dan berantakan, yang penting tetangga datang, keliatan suguhan istana.

Di Indonesia ketimpangan dan perbedaan seolah hal yang dipaksa dimaklumi oleh warga, antar disuruh ikhlas dengan kebijakan atau kapasitas SDM dari pejabat yang gitu gitu saja.

*Perdana Menteri (PM) Thailand, Anutin Charnvirakul, melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada 3–4 Agustus 2026.

[VIDEO]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 komentar

  1. gausah terlalu banyak nyinyir apa aja dijadiin bahan mending beritain interpol udh terima laporan polisi ri yg akan memburu sam yg sembunyi di mesir akibat mencabuli santri

  2. yg dilakukan presiden prabowo subianto sudah sesuai sunnah nabi : “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
    kenapa dinyinyirin begitu drun drun

    1. sampe dibelain pake dalil buat nyebokin junjungan. konteksnya apa dulu blok goblok, harus nyambut tamu negara dgn iringan voorijder sebanyak itu? klo kondisi ekonomi makmur mau nyambut pake iringan kudanya bowo pun ga masalah

  3. menyambut tamu seperti yg di share terwo bagus tapi tidak membebani dirinya untuk tamunya, apalagi ekonomi kita masih amburadul, dolar melambung, investor kabur, rakyat dibawah vario kemiskinan pun banyak. bahkan kadang² mungkin sampai berhutang dan hutang kita kepada negara lain luar biasa besar. dan memuliakan tamu itu sebagaimana dikatakan para ulama, itu juga sesuai dengan ‘urf yang ada. ‘Urf yaitu seperti ibarat suatu kebiasaan, suatu budaya yang ada di suatu masyarakat. selama budaya itu tidak bertentangan dengan tuntunan Islam, maka kita seadaanya dalam menerima tamu itu dengan tidak membebani. dan yang penting juga, tamu juga berharap disambut semeriah itu.