Penggunaan narasi oleh Arab Saudi bahwa Ansar Allah (Houthi) menargetkan Mekkah bukanlah hal baru

Ansar Allah (Houthi) tidak pernah menargetkan Mekah dan tidak akan pernah melakukannya. Rudal balistik yang menuju target lebih jauh ke utara mungkin secara alami memicu sirene serangan udara di kota tersebut; hal itu tidak menjadikan Mekah sebagai target yang dimaksudkan.

Penggunaan narasi oleh Arab Saudi bahwa Ansar Allah menargetkan Mekkah bukanlah hal baru. Narasi ini telah digunakan berulang kali selama bertahun-tahun perang di Yaman yang dipimpin oleh Saudi.

Namun, mungkin salah satu indikasi paling jelas mengenai bagaimana narasi ini digunakan muncul ketika Ansar Allah menangkap tentara Sudan yang bertempur di pihak Saudi.

Dalam laporan Al Masirah ini, seorang sersan Sudan yang ditangkap pada tahun 2018 di front Jizan, di sepanjang perbatasan Saudi-Yaman, menceritakan bagaimana tentara Sudan dipersiapkan untuk perang tersebut.

Menurut kesaksiannya, petugas pembina moral militer Sudan mengatakan kepada mereka bahwa Ansar Allah ingin menargetkan Mekkah dan Madinah, menghina simbol-simbol Islam, serta berupaya menghancurkan tempat-tempat suci. Mereka diberi pembenaran agama untuk perang tersebut agar meyakini bahwa mereka sedang berjuang demi melindungi Islam dan tempat-tempat suci, di samping insentif finansial yang ditawarkan kepada mereka.

Pasukan Sudan ini kemudian dikerahkan ke beberapa front paling berbahaya di Yaman. Ribuan petempur Sudan ambil bagian dalam perang koalisi yang dipimpin Saudi dan UEA, termasuk di pantai barat sekitar Mokha, Khokha, Tuhayta, Durayhimi, dan wilayah selatan Hodeidah, serta di Midi, Haradh, dan sepanjang perbatasan Saudi-Yaman.

Di perbatasan, pasukan Sudan dilaporkan ditempatkan di garis depan sementara pasukan Saudi tetap berada di belakang mereka. Berbagai laporan yang diterbitkan selama perang menggambarkan bagaimana petempur Sudan ditempatkan di posisi garis depan yang terbuka dan, dalam beberapa kasus, dijadikan penyangga untuk melindungi pasukan Saudi.

Terdapat pula banyak video dan kesaksian dari tentara Sudan yang ditangkap yang menceritakan bagaimana mereka didorong ke medan pertempuran, bagaimana mereka dilarang untuk mundur, dan bagaimana mereka yang mencoba pergi mendapat ancaman.

Namun, hal yang mungkin paling mencolok dari kesaksian-kesaksian ini adalah apa yang terjadi setelah sebagian dari mereka ditangkap.

Beberapa tawanan Sudan mengaku terkejut dengan kenyataan yang mereka hadapi setelah menyerah kepada Ansar Allah. Orang-orang yang sebelumnya disebut sebagai musuh yang harus mereka lawan itu, menurut mereka, justru memperlakukan mereka dengan memberikan makanan, air, serta sikap yang bermartabat dan manusiawi.

Bagi sebagian tawanan ini, pengalaman tersebut dilaporkan sangat kontras dengan apa yang mereka alami dari pihak Saudi maupun dari pasukan Yaman yang bersekutu dengan koalisi—pihak yang bersama-sama dengan mereka dikirim untuk bertempur.

Perbedaan yang kontras itu sangatlah berarti. Sebab, jika para tentara diberitahu bahwa mereka pergi berperang demi membela Islam, Makkah, dan Madinah dari pihak-pihak yang konon membenci umat Muslim, namun kemudian mendapati kenyataan yang sangat berbeda saat mereka tertawan, hal ini memunculkan pertanyaan serius mengenai narasi yang dicekoki kepada mereka sebelum dikirim ke medan perang.

Oleh karena itu, tragedi yang menimpa tentara Sudan—baik yang tewas, terluka, maupun tertawan di Yaman—jauh melampaui sekadar angka statistik militer. Ribuan orang dikirim ke medan perang yang jauh dari tanah air mereka; banyak di antaranya direkrut dalam kondisi kemiskinan, tekanan finansial, dan dorongan pesan-pesan keagamaan.

Tanggung jawab atas tragedi tersebut tidak hanya terletak pada pundak para tentara. Tanggung jawab itu juga berada di tangan pemerintah dan pihak-pihak yang merekrut, mengerahkan, serta mempertahankan keberadaan mereka—termasuk pemerintah Sudan, koalisi Arab Saudi-UEA, dan kekuatan asing yang mendukung perang tersebut.

Itulah sebabnya kemunculan kembali narasi “melindungi Makkah” saat ini tidak boleh begitu saja dianggap sebagai slogan politik semata.

Narasi serupa pernah digunakan sebelumnya.

Mengingat narasi tersebut kabarnya pernah dipakai untuk memobilisasi tentara Sudan, kemunculannya kembali memicu pertanyaan: apakah narasi yang sama sedang disiapkan lagi untuk menarik minat para pejuang Muslim agar terlibat dalam perang lain?

Saya akan mengunggah lebih banyak video dan kesaksian dari tentara Sudan di kolom komentar, agar khalayak dapat mendengar langsung pengalaman mereka dengan kata-kata mereka sendiri.

محمد عبدالملك – Mohamed
@Almutawakkil560

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

21 komentar

          1. malah bahas kawin! 🤣
            kalau ini liat merosotnya moral sekitar kalian aja, ga usah bawa-bawa Syiah!

            masak tinggal chat di app, deal harga, jadi dah kontrak perzinahan! generasi Indonesia emas. 😵

  1. knapa pas mau mati org siah pada teriak ya Ali bukan ya Allah spt penunpang pesawat di iran yg viral kemaren, knapa karbala tanah suci sejak kapan karbala jadi tanah suci ngehalu dan boong aja emang kebiasaan siah, knapa nembakin negara muslim semangat amat tp nembak ke amerika ga mampu dan nembak ke israel ga mampu tanya dg lemah lembut

    1. ga ngikutin berita ya! itu awal gencatan senjata kamu kira terjadi karena apa?

      setiap hari Iran ngerudal zionis tanpa jeda! terjadilah permintaan gencatan senjata dari Amrik zionis!

      kenapa malah berharap mereka yang nembak Amrik dan zionis? 🤭 karena arab susah untuk diharap ya! 🤣

      semoga ini masih termasuk jawaban yang lemah lembut!

    1. makanya kita ahlusunnah perangi narasi mereka jgn sampai anak cucu kita kena tipu daya takiyah mereka, cukup turunan mereka aja yg ikhlas dikawinin kontrak

      1. kamu kan komen takiyah, ngerti takiyah ga sih? semua juga bisa takiyah, ga harus jadi Syiah dulu baru sah bertakiyah! 🤣 sekali lagi, ngerti takiyah ga sih? 😅

      2. wo2 juga suka ber-taqiyah tuh,,,
        contohnya, menyebut Ibu Susanah asal Bogor sebagai buruh pengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kg,,,,
        padahal nyatanya, Ibu Susanah cuma penjahit kain majun dengan upah Rp700 per kg…….

        terwo/termul GOBLOK-nya kebangetan…
        L.O.L

    1. afwan malah menurutku irgc dan milisi siah yg kelakuannya percis kayak zionis yg membunuhi sipil bahkan korban kebiadaban milisi siah di suriah jauh lebih besar daripada korban israel m, di suriah jutaan tewas dan banyak yg dibantai

  2. hari ini sdh ada tanda peringatan di mekkah terhadap serangan houthi ke mekkah. hanya kaum aswajasufi yg percaya dan fanboy syiah laknatullah.

  3. rezim bangsat bani saud memainkan narasi untuk menarik simpati dunia islam….mau narik simpati itu mudah bos..serang israel sekarang juga….pasti byk yg bantu…jgn ngorbankan houthi…

    dulu rezim saud ngambil mekkah madinah banjir darah…sejarah tak mungkin bisa dihapus….rezim saudi yg baik cuma raja Faisal doang…semoga Allah merahmati ruhnya….yg lain bangsat semua…

  4. “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat setelahku. Salah satunya lebih besar dari yang lain, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) sebagai tali yang terbentang dari langit ke bumi, dan ‘itrahku (keturunanku) Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangi telagaku (Al-Haudh). Maka perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku.” (HR. Tirmidzi no. 3788). DI shahihkan Syeikh Albani…

    Matilah kalian pembenci Ahlul Bait….mau minta syafaat Nabi tapi iri dan dengki dengan anak cucu Nabi…