Ora menang menang, priben kiye

Trump dalam seminggu ini saja, telah 9 kali mengklaim kemenangan atas Iran. Ini sangat ganjil dalam pola komunikasi seorang Presiden.

Ada kondisi plin plan, kebingungan, dan kondisi tidak percaya diri Trump dan kabinetnya dalam setiap pola komunikasi yang dia jalankan selama ini.

Trump juga mengklaim telah menghancurkan angkatan Laut Iran, tapi anehnya, AS belum berani melintas di selat Hormuz. Kalau memang angkatan laut Iran sudah dihancurkan, apa yang menghambat AS melewati Selat Hormuz?

AS saat ini sedang menggalang kekuatan Internasional untuk melakukan by pass atas selat Hormuz yang dikauasi Iran. Kekuatan militer laut AS dan Israel sendiri terbukti tidak mampu menghadapi Iran di selat Hormuz.

Mari kita lihat perang ini dengan analisa yang fair dan moderat, karena perang ini pada dasarnya adalah perang yang tidak berimbang.

Iran saat ini sedang menghadapi dua negara besar dengan kekuatan militer yang sangat kuat diatas kertas. Dua negara yang memiliki budget militer 1 triliun dolar lebih, dan memiliki 6000 hulu ledak nuklir di gudang mereka jika digabung.

Secara tidak langsung, Iran juga menghadapi negara negara Eropa sekutu AS, dan negara negara arab yang saat ini masih membantu AS melindungi aset aset militer AS di kawasan itu. Itulah kenapa negara arab juga ikut diserang oleh balistik Iran.

Iran, negara yang hanya memiliki budget militer 15 miliar dolar, dengan sistem persenjataan yang mayoritas dibuat sendiri di dalam negeri oleh anak anak negeri.

Tapi dengan semua kekuatan itu, Iran mampu memberikan perlawanan sengit dan keras, yang AS, Israel, dan sekutunya berpikir ulang untuk melanjutkan perang.

Bahkan perlawanan yang diberikan Iran diluar dugaan publik internasional. Iran mampu melumpuhkan Israel, melumpuhkan semua ekonomi, politik, misi diplomatik, dan aktivitas militer AS di seluruh timur tengah.

Iran juga mampu membuat goncangan dalam sistem keamanan dan pertahanan kawasan teluk, dan menghancurkan banyak aset AS dan Israel di seluruh kawasan.

Melihat perang ini harus dengan persepektif yang benar, terutama ketika kita bicara Iran dan upaya survive nya mereka sebagai sebuah bangsa.

Bagi Iran, perang ini adalah perang eksistensial, pertaruhan antara apakah Republik Islam Iran yang dibangun 1979 akan tetap eksis atau Iran akan kembali ke era sebelum 1979.

Menang kalah perang ini tidak dilihat dari berapa bangunan yang hancur di Iran, berapa rakyat yang tewas, berapa pasukan keamanan yang tereliminasi, atau berapa kerugian materil dari efek serangan AS dan Israel ini.

Menang kalah dalam perang ini ditentukan oleh, apakah Republik Islam Iran akan tetap berdiri kokoh sebagai sebuah negara atau tidak diujung perang nanti.

Kalau AS dan Israel mampu menggulingkan pemerintahan Iran saat ini, maka Iran kalah. Tapi kalau AS dan Israel tidak mampu menggulingkan pemerintah Iran dan menggantinya dengan rezim boneka AS, maka AS dan Israel kalah telak.

Seberapapun mereka menghancurkan bangunan dan infrastruktur Iran, dan seberapa pun banyak yang mereka bunuh dalan perang, AS dan Israel akan kalah total. Menang kalah dalam perang ini ditentukan diujung bukan sekarang.

Jika pada akhirnya Iran tetap tegak sebagai sebuah negara berdaulat dalam bentuk republik Islam seperti sekarang, maka perang AS dan Israel disana sia sia.

Kondisi saat ini dari berbagai data dan fakta yang ada, kemungkinan AS bisa berhasil menggulingkan pemerintahan Iran sangat kecil dan sangat tidak realistis. Itulah kenapa, Iran akan keluar sebagai pemenang perang ini secara substansial.

Kondisi ril di lapangan, Iran masih kokoh, rakyat yang solid, angkatan bersenjata yang masih kuat dan kepemimpinan Iran yang masih efektif. Ambisi melengserkan pemerintah Iran adalah ambisi semua yang akan gagal.

Perang eksistensi bagi Iran ini adalah perang yang sangat menentukan masa depan Iran sendiri, GeoPolitik asia barat khususnya, dan kondisi global pada umumnya.

Iran dalam analisis yang sesuai fakta saat ini, akan tetap tegak sebagai sebuah negara berdaulat Pasca perang, peta Iran tidak akan berubah sama sekali akibat invasi AS dan Israel saat ini.

Jika AS gagal menumbangkan Republik Islam Iran saat ini, maka Iran akan berpeluang menjadi kekuatan baru yang lebih kuat di Asia Barat dan akan terus menjadi mimpi buruk Israel sepanjang hidupnya.

Dengan semua data yang ada saat ini, Iran bukan hanya akan tetap kokoh sebagai sebuah negara, tapi dia akan menjadi lebih kuat dan lebih powerfull Pasca perang besar ini.

Iran juga berpeluang menjadi satu satunya negara nuklir di dunia Islam yang benar benar tidak punya hubungan apapun dengan AS dan sekutunya.

Jika Iran tegak sampai akhir perang, maka Iran akan berubah drastis, Iran berpeluang menjadi the real game changer bagi kekuatan hegemoni AS di seluruh kawasan itu.

Kemenangan Iran diujung perang nanti akan mengubah lanskap GeoPolitik di asia barat dan timur tengah secara signifikan dan radikal.

Hegemoni AS di kawasan itu akan mengalami decline secara ekstrem, dan kekuatan Israel sebagai negara yang saat ini mengokupasi negara negara arab, cengkraman nya akan semakin melemah.

Itulah kenapa, bagi siapapun muslim cerdas yang memahami konstelasi GeoPolitik global dengan baik, maka Iran yang survive dan kuat adalah kebutuhan darurat seluruh dunia Islam saat ini tanpa bisa ditawar-tawar.

(Tengku Zulkifli Usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar