Dalam dunia demokrasi, pers memiliki peran yang sangat penting karena ia dianggap sebagai kontrol sosial dan kerap disebut sebagai watchdog alias anjing penjaga bagi penguasa.
Informasi yang disajikan ini tentu harus berisi fakta, bukan berita bohong yang membahayakan.
Berita, menurut para pakar di bidangnya bahwa ia adalah informasi yang berisi fakta dan bernilai kejutan.
Ada istilah yang populer “Jika ada anjing menggigit manusia, maka itu bukan berita. Tapi jika ada manusia menggigit anjing, barulah itu berita.”
Jadi, berita harus unik dan mengandung unsur mengagetkan bagi yang membaca, mendengar, atau menontonnya.
Belakangan ini, lembaga-lembaga media seakan tak lagi menjalankan sebagaimana mestinya. Bombastis sih iya, fakta juga, tapi kadang menjadi kepanjangan tangan penguasa.
Memasuki era disrupsi ini, sekarang mudah bagi siapapun menyiarkan berita. Tidak harus menjadi wartawan dan gak mesti terdaftar di dewan pers. Cukup modal kuota dan bikin akun media sosial, lalu rajin share info, maka dijadikan rujukan oleh masyarakat.
Orang menyebutnya homeless media, yang bisa kita artikan secara harfiah sebagai media gelandangan. Pemerintah memanggilnya dengan new media. Jumlahnya amat banyak dan mereka dibuat sesuai dengan warna pemikiran pemiliknya.
Baru-baru ini, pemerintah mengajak 40 media gelandangan ini untuk menjadi partner. Dalam artian, mereka dijadikan sebagai mitra yang dibayar dengan syarat memuat informasi sesuai yang diinginkan si pembayarnya.
Bahasa kasarnya, media-media ini dijadikan sebagai buzzer untuk memuji-muji kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
Kalau seperti itu keadaanya, tentu media tidak menjadi anjing penjaga lagi, tetapi sebagai perpanjangan lidah penguasa atau menjadi humasnya gitu.
Kebalikan dengan itu, Dandhy Dwi Laksono telah belasan tahun dengan istiqomah menyiarkan berita dan informasi berisi counter dan sisi gelap penguasa melalui platform media sosial baik di Youtube, Instagram dan X.
Yang terbaru dilakukan Dandhy dan tim adalah pembuatan film Pesta Babi yang ramai diperbincangkan orang.
Film ini berisi investigasi dokumenter tentang kerusakan alam yang diakibatkan oleh program bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.
Dandhy mengulasnya dengan epik, model gaya feature human interest dimunculkan dengan mendatangi narasumber dan tempat-tempat langsung di Papua. Orang yang melihatnya akan terenyuh dan merasa iba dengan keadaan tersebut.
Dari judulnya saja, film ini sudah sangat provokatif dan menggelitik. Isinya lebih sangar lagi. Proyek resmi negara seperti mendapatkan perlawanan besar dari masyarakat adat dan nampaknya ada pesan terang bahwa proyek ini agar dihentikan, karena dianggap menghancurkan alam, tidak berpihak kepada rakyat kecil, menghilangkan mata pencaharian warga setempat, dan menguntungkan segelintir orang yang punya kuasa.
Entah nanti ujung dari film ini apa. Apakah ada deal-deal tertentu atau menguap dilupakan begitu saja.
Sebenarnya apa tujuan dibuatnya film tersebut? Apakah untuk cari perhatian publik, cari uang, atau murni ingin menyelamatkan bumi Indonesia dari para perusak alam?
Kita akan tahu jawabannya mungkin beberapa tahun ke depan.
Yang pasti, karya-karya dokumenter Dandhy cs cukup menghentak publik dan menyadarkan masyarakat betapa kerakusan segelintir orang dapat menyebabkan kerusakan alam yang sangat luas.
Saat media-media gelandangan bertekuk lutut di hadapan majikan barunya, Dandhy masih kokoh istiqamah dalam jalan juang pers sebagai anjing penjaga penguasa.
Masalahnya kita juga tidak tahu apakah Dandhy punya majikan yang jadi lawan oligarki saat ini?
Allahu a’lam.
(Budi Marta Saudin)
***
SIMAK DANDHY DI BOCOR ALUS TEMPO:







wah kalau begitu si Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT MUNAFIK islamophobia ODGJ akut alias si af alias si Anonim Babi guRun alias BabRun bisa kita sebut dengan homeless pig buzzer dong‼️
🤣😝😂😜
ayo…. pengagum rezim babik..keluar lah 😂😂😂