Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa kampanye “Economic D-Day” yang diluncurkan oleh Presiden AS Donald Trump hanya akan membawa “kekalahan lebih lanjut” bagi Washington dan memperdalam permusuhan rakyat Iran terhadap Amerika Serikat.
Pernyataan keras ini disampaikan oleh Araghchi melalui platform media sosial X sebagai respons langsung atas pengumuman Trump mengenai operasi ekonomi paling masif untuk mengisolasi total Republik Islam tersebut.
Inti Respons Iran terhadap “Economic D-Day”:
- Pengalihan Isu Domestik AS: Araghchi menyebut istilah “Economic D-Day” tersebut hanyalah taktik pengalihan isu dari krisis internal yang sedang dihadapi Amerika Serikat sendiri, khususnya terkait lonjakan utang federal yang belum pernah terjadi sebelumnya serta pembengkakan biaya bunga.
- Kegagalan Kebijakan Berulang: Menurut Menlu Iran, bersikeras menduplikasi kebijakan tekanan maksimum (maximum pressure) yang terbukti gagal di masa lalu tidak akan membuahkan hasil baru, melainkan hanya mendatangkan kekalahan strategis lain bagi AS.
- Ancaman “Terorisme Ekonomi”: Iran mengecam langkah Washington sebagai bentuk “terorisme ekonomi” yang tidak hanya mengincar Teheran, tetapi juga mengancam kedaulatan negara lain serta stabilitas ekonomi global.
“Apa yang disebut sebagai “D-Day Ekonomi” hanyalah pengalihan perhatian dari krisis yang dihadapi Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lonjakan biaya bunga.
Bersikeras melanjutkan kebijakan yang telah gagal hanya akan berujung pada kekalahan lebih lanjut—serta memicu permusuhan rakyat Iran. Terorisme ekonomi AS mengancam perekonomian global dan kedaulatan di seluruh dunia,” tandas Abbas Araghchi.
Konteks Sanksi Baru dari Donald Trump
Perseteruan diplomatik ini memanas setelah Donald Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap suatu negara”. Kampanye ini diluncurkan akibat mandeknya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik enam bulan terakhir antara kedua negara.Aspek Kebijakan “Economic D-Day” AS Tanggapan & Situasi Iran Target Utama Penutupan total jalur keuangan, penyelundupan minyak, transfer kas, perusahaan depan (front companies), dan ruang penukaran uang. Mengklaim struktur ekonomi dan militer mereka sudah terlatih serta memiliki ketahanan fundamental terhadap sanksi. Ancaman Negara Ketiga Konsekuensi ekonomi berat (seperti tarif dagang 25%) bagi negara mana pun yang memberi bantuan atau “talian hidup” komersial ke Iran. Memiliki rute perdagangan darat alternatif yang kuat dengan negara tetangga seperti Turki, Irak, dan Asia Tengah. Tujuan Akhir AS Melumpuhkan kemampuan Iran mendanai proksi dan memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mengubah doktrin militer dari defensif menjadi ofensif jika konfrontasi bersenjata kembali pecah.
Dampak Nyata pada Situasi Regional
Ketegangan ekonomi ini berjalan beriringan dengan krisis energi global yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Iran. Jalur perairan vital bagi pasokan minyak dunia tersebut tetap ditutup oleh Teheran.
Iran bersikeras tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai AS menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka, mencabut sanksi minyak secara penuh, dan mencairkan aset-asset Iran yang dibekukan di luar negeri.








Kalian pikir kami takut dan menyerah? Kata Iran. Kami sdh 47 thn diembargo dunia, tp kami mampu mengalahkan perang asimetris melawan negara terkuat di dunia …