Langit Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kini lebih mirip kanvas kelabu daripada biru. Pagi hari diselimuti kabut tipis, sore hari memerah samar.
Udara membawa aroma asing, bau logam dan limbah yang menusuk, seolah ada rahasia besar yang dipaksa disembunyikan.
Di antara hutan tropis yang perlahan menghilang, berdiri megah sebuah pabrik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW).
Dulu ia datang dengan janji manis pekerjaan, kemakmuran, dan masa depan cerah. Namun, pertanyaannya kini sederhana apakah ia datang membawa harapan, atau meninggalkan luka?

Luka Ekologi Terkubur
Di Desa Mekar Utama, suara jangkrik digantikan dentuman mesin. Sungai yang dulu menjadi halaman kehidupan kini berubah jadi aliran keruh yang memantulkan bau besi dan belerang.
“Dulu kami mancing sore, dapat ikan sepat sama gabus. Sekarang sungainya bau, keruh, kalau nyemplung malah gatal-gatal,” tutur Yani (38), ibu rumah tangga yang tinggal di tepi sungai.
Yani bukan aktivis. Ia bukan paham soal laporan AMDAL atau undang-undang lingkungan. Tapi ia tahu satu hal hidupnya berubah sejak PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) mulai menggeliat. Rumah panggungnya kini menghadap sungai mati.
Ironi terbesar Kendawangan adalah ini: tanah kaya bauksit, tapi warganya miskin air bersih. Sungai-sungai yang dulu sumber kehidupan kini jadi saluran limbah. Warga tak lagi bisa minum dari airnya, apalagi mencari ikan untuk makan.
Janji Palsu Korporasi
Masalah Kendawangan bukan sekadar udara kotor dan air tercemar. Ada lapisan luka yang lebih dalam pelanggaran kewajiban perusahaan.
Ketua Lembaga Peduli Lingkungan (LPL) Kalbar, Hendri, mengungkap dugaan bahwa WHW tak transparan soal kontribusi pajak daerah.
“Perusahaan sebesar WHW seharusnya jadi contoh. Tapi yang terjadi malah mencemari lingkungan dan mengabaikan kewajiban ke daerah,” tegas Hendri.
WHW adalah raksasa pengolahan bauksit terbesar di Kalimantan Barat. Setiap tahun, kapal-kapal pengangkut alumina keluar masuk, membawa hasil bumi menuju pasar global. Namun, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini nyaris tak terdengar.
Kaya mineral, miskin pemasukan. Sebuah ironi yang membungkus luka Kendawangan.
Keadilan yang Hilang
Lukman, tokoh pemuda Kendawangan, memegang sesak di dadanya ketika bicara tentang kampung halamannya.
“Kami bukan anti-investasi. Kami cuma mau hidup layak. Jangan jadikan kami penonton di tanah sendiri,” ucapnya lirih.
Diskusi publik pernah digelar, surat terbuka pernah dikirim, proposal penyuluhan lingkungan pernah disusun. Hasilnya? Nihil. Pabrik berdiri tegak, debu beterbangan, sungai menghitam, dan suara warga tak sampai ke ruang rapat perusahaan.
Lebih pedih lagi, janji awal perusahaan untuk menyerap tenaga kerja lokal nyaris tak ditepati. Banyak posisi strategis—dari manajer produksi hingga operator alat berat diisi oleh pekerja luar daerah, bahkan luar negeri.
“Anak-anak muda sini paling cuma kebagian jaga gudang,” kata seorang warga yang tak ingin disebut namanya.
Di tanah sendiri, jadi penonton. Di halaman rumah sendiri, jadi korban.
Audit Tak Pernah Datang
Hendri dari LPL mendesak audit menyeluruh terhadap WHW. Mulai dari izin lingkungan, pajak, hingga program CSR yang seharusnya menopang kesejahteraan warga.
“Jangan tunggu tragedi besar baru pemerintah turun tangan. Setiap hari ada yang mati pelan-pelan karena limbah,” ucapnya mengingatkan.
Sayangnya, jawaban pejabat daerah selalu serupa, “Masih dikaji.” “Dalam proses evaluasi.” “Akan ditindak.” Kata-kata itu sudah basi bagi warga Kendawangan.
Sementara itu, kelompok aktivis tengah menyiapkan laporan resmi untuk KPK dan KLHK. Mereka berharap, suara Kendawangan bisa didengar lebih keras di Jakarta.
Antara Investasi dan Luka Ekologis
Kendawangan sedang berdiri di persimpangan yang getir. Di satu sisi, pemerintah pusat memuji investasi besar ini sebagai tonggak ekonomi nasional.
Di sisi lain, ada harga yang harus dibayar ekosistem hancur, udara rusak, dan masyarakat lokal terpinggirkan.
PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi wilayah. Namun faktanya, yang warga rasakan adalah:
– Debu yang menyelimuti pagi,
– Bau limbah yang meracuni malam,
– Sungai kehilangan ikan,
– Dan langit yang tak lagi biru.
Di tengah semua ini, hukum pun tampak rapuh. Banyak warga percaya, hukum di Kendawangan bisa dibarter dengan janji investasi.
CSR seremonial PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) tak menyembuhkan luka ekologis. Bantuan bencana tak menghapus air mata warga yang kehilangan kampung halaman.
Masa Depan Dipertaruhkan
Anak-anak di Desa Mekar Utama masih bermain di bawah langit kelabu. Mereka tertawa tanpa tahu bahwa sungai yang mereka kenal menyimpan racun logam berat.
Mereka menghirup udara berpartikel logam, tanpa sadar paru-paru mereka jadi taruhan.
PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) mungkin mengolah bauksit menjadi alumina. Tapi siapa yang mengolah keadilan jadi kenyataan?
Negeri ini tak akan besar hanya dengan pabrik-pabrik megah. Negara yang besar adalah negara yang tahu memperlakukan rakyat kecilnya dengan adil.
Dan Kendawangan, dengan langitnya yang kelabu dan sungainya yang mati, sedang menunggu jawaban itu.
Sumber: Istimewa






