Harusnya malu jadi Presiden di luar negeri bilang Indonesia hebat

Kamu gak salah baca. Ini bukan berita basi. Ini terjadi di bulan Mei tahun 2026. Di negeri ini masih ada seorang ibu hamil ditandu selama 6 jam, menempuh jarak 30 Km, karena akses jalan ke dusun tempatnya tinggal belum bisa dilewati kendaraan. Anak yang dikandungnya sudah meninggal.

Khalifah Umar bin Khattab pernah bertutur, “Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya, seraya ditanya: Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?”.

Hal ini mencerminkan begitu pedulinya seorang pemimpin terhadap kondisi rakyatnya meskipun hanya seekor binatang, sebab binatang itu berada di bawah wilayah kekuasaannya, seorang Umar yang perkasa begitu takut ditanya Rabbnya tentang pertanggungjawabannya dalam memimpin.

Ibu Hamil di Tapsel Ditandu Pakai Bambu Selama 6 Jam ke RS, Bayi Meninggal

Seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terpaksa ditandu warga ke rumah sakit menggunakan bambu.

Tuti ditandu warga selama 6 jam perjalanan menuju rumah sakit dengan jarak sekitar 30 kilometer.

Samsul Bahri Sihombing, seorang mantarai (sebutan dokter kampung di Tapanuli Selatan), menjelaskan bahwa Tuti ditandu warga pada Sabtu, 9 Mei 2026. Awalnya ia dihubungi keluarga Tuti untuk memeriksa kondisi bayi di dalam kandungannya.

Namun, setelah Samsul memeriksa, bayi dalam kandungan Tuti diketahui telah meninggal dunia. Kemudian, ia merekomendasikan agar Tuti dibawa ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lanjut.

“Ternyata saya sampai di Dusun Aek Nabara, saya cek bayinya di dalam kandungan ibu itu sudah meninggal, menurut pengamatan saya. Makanya saya anjurkan dibawa ke rumah sakit. Makanya dibawa, digotonglah, ditandu rame-rame sekitar perjalanan 6 jam menempuh 30 kilometer biar sampai ke Kecamatan Sipirok,” kata Samsul saat dihubungi wartawan, Senin (11/5/2026).

Akses jalan tanah yang belum diaspal membuat Tuti terpaksa ditandu warga menggunakan bambu dan rotan.

Samsul menyebut sebanyak 20 warga membantu ibu tersebut secara bergantian karena akses jalan sempit dan masih berupa tanah.

“Roda dua saja pun jarang yang bisa lewat. Kalau pun bisa, dipaksakan warga. Jangankan pengaspalan, alat berat aja pun belum pernah masuk ke sana,” ujar Samsul.

Sesampainya di rumah sakit, operasi pun dilakukan pada Minggu, 10 Mei 2026. Tuti berhasil diselamatkan, namun bayinya telah meninggal dunia.

“Operasinya berjalan, ternyata ibu itu sehat. Bayinya sudah meninggal dunia,” imbuh Samsul.

Tak Ada Bidan

Samsul menyebut di kampung tersebut tidak ada bidan yang bertahan karena jalan yang tidak memadai. Sehingga, hanya Samsul yang melakukan pengobatan terhadap warga yang mengalami masalah kesehatan.

“Penerangan enggak ada. Bidan pun sudah pernah ditugaskan di sana enggak tahan orang itu. Langsung ngurus surat pindah,” ucap Samsul.

Kejadian ini bukan pertama kali terjadi di kampung tersebut. Samsul mengatakan beberapa warga sebelumnya juga menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama 7 jam. Hal itu dilakukan karena akses jalan masih sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Samsul berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap desanya yang belum mendapatkan akses jalan dan penerangan listrik.

Ia pun terpaksa berjalan kaki untuk mengobati masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan. Ia juga berharap diberikan izin oleh pemerintah untuk mengobati masyarakat sekitar.

“Kita belajar waktu dulu sama almarhum orang tua dengan menyuntik kalau ada orang yang luka. Mengobati orang di kampung-kampung. Saya berharap kepada pemerintah daerah atau pusat, kalau bisa saya dikasih izin. Saya bukan mengharapkan gaji pemerintah, saya hanya membantu kemanusiaan itu aja,” pungkas Samsul.

Sumber: kumparan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. ya memang hebat kok, kecuali gw warga yemn, ugnda, zmbbwe atau sdan ya iya malu gw sm negara sendiri, kalo indonesia ya not that bad lah