Bapak itu memang tidak paham artinya proses

Bapak itu memang tidak paham artinya proses. Ketika dia punya ide yang menurutnya bagus, dia ingin ide tersebut segera dieksekusi. Secepatnya.

Dari awal mbrojol ke dunia ini ia sudah dapat privilege.

Lahir dari keluarga kaya raya. Apapun keinginannya pasti terpenuhi. Tidak perlu guling-guling tantrum seperti anak-anak lain agar dibelikan mainan.

Sudah melanglang buana ketika teman-teman sebayanya masih berjibaku dengan revolusi dan krisis moneter.

Ketika lulus akademi, langsung mempersuting putri penguasa. Karir militernya langsung moncer. Pernah jadi jenderal termuda sepanjang sejarah.

Lalu ketika negaranya bermasalah, dia dengan mudah pindah ke negara lain. Hidup nyaman dengan perlindungan seorang raja.

Ketika pulang, langsung jadi petinggi salah satu parpol yang saat itu masih jadi parpol nomor satu. Nggak perlu jadi kader rendahan dulu dan berjuang dari bawah.

Gagal menguasai parpol tersebut, dia bikin parpol sendiri, dengan dana dari keluarga yang sukses dikelola oleh adiknya.

Gagal di 2009, ia pun mulai melirik sosok kontroversial yang namanya saat itu sedang melejit dan jadi idola berkat mobil bodong yang konon katanya sudah diinden 6000 unit. Ia bawa sosok yang kemudian jadi masalah bagi negara itu ke ibukota.

Suara parpolnya pun melesat, walaupun akhirnya orang yang ia bawa itu kemudian jadi lawan politiknya.

Berkali-kali gagal pilpres, ia pun menyerahkan jiwa dan raganya pada orang yang sudah bikin negara porak poranda, demi mendapatkan jabatan yang sudah ia impikan sejak remaja.

Walaupun untuk meraih cita-citanya itu butuh waktu lama—tidak sepenuhnya instan, dan mungkin layak disebut proses, tapi proses yang ia lewati adalah proses yang penuh privilege, penuh kemudahan, tanpa perlu berkeringat. Dia hanya berkorban banyak uang, itu pun bukan uang yang ia kumpulkan sendiri.

Ketika dia dapat ide saat berpidato, dia ingin besoknya idenya itu segera dilaksanakan, karena menurutnya tidak ada yang sulit di dunia ini. Sebuah optimisme yang lahir dari sebuah keistimewaan, bukan perjuangan. Tidak perlu riset. Tidak perlu kajian ilmiah. Tidak perlu uji kelayakan. Tidak perlu dengarkan penjelasan para ahli.

Pokoknya eksekusi.

Contoh ketika ia asal ngomong menurunkan tarif potongan ojol hanya sekian persen, besoknya negara buru-buru membeli saham salah satu aplikator yang kondisinya saat itu sedang sakit, demi bisa mewujudkan omonannya.

Aplikator tidak mungkin sanggup begitu saja menurunkan tarif karena untuk bisa terus eksis, mereka telah dan masih banyak membakar uang untuk biaya promosi dan operasional. Ada perang yang harus mereka menangkan. Potongan ojol dipangkas, promo hilang. Harga jual jadi mahal. Konsumen berkurang. Penghasilan ojol pun menurun. Akhirnya balik lagi ke awal.

Masih banyak janji dan ide lain yang ia lontarkan saat pidato yang di mata anak buahnya jadi semacam perintah. Tapi kalau saya jembrengi semua, nanti kalian jadi tahu siapa orangnya. Bahaya.

Perkerjaan besar yang dikerjakan dengan cara terburu-buru, hasilnya jarang sekali yang memuaskan. Dari seratus, kemungkinan berhasil hanya sebelas. Persentase keberhasilannya kecil sekali.

Dan negara (baca: rakyat) harus membayar mahal atas ide-ide tersebut.

-Wendra Setiawan-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar