Stuck
Bagaimana tahu kualitas pendidikan dasar nasional? Apakah lewat ‘perasaan’? Perasaan saya, Indonesia bagus pendidikannya? Apakah lewat anak-anak yang menang olimpiade fisika, matematika, dll?
Nah, untuk mengetahuinya, lembaga dunia OECD melakukan test. Setiap 3 tahun digelar di berbagai negara. Total murid yang di test tahun 2025 adalah 760 ribu. Dari 91 negara. Mewakili 33 juta teman-temannya.
Usia berapa yang di test? 15 tahun. Alias di akhir pendidikan dasar SD+SMP-nya.
Apa yang di test? Matematika, Sains, Reading alias membaca.
Wah wah, soal testnya bagus-bagus, dan keren-keren. Memang didesain buat tahu kualitas.
Di Indonesia, ada 400-an sekolah yang dipilih secara acak, dengan metode ilmiah yang super ketat. Sekitar 15.000 responden. Inilah test yang bisa menunjukkan kualitas pendidikan dasar suatu negara.
Nah, setelah 25 tahun berlalu, bagaimana skor Indonesia? JELEK.
Silahkan lihat tabel diatas.
Reading 360-an itu artinya Level 1, alias hanya bisa menemukan informasi eksplisit, hanya bisa memahami ide utama yang sederhana, daaan: kesulitan menghubungkan informasi.
Bandingkan murid-murid di negara lain yang skornya 500 lebih, yang artinya bisa memahami tulisan rumit, memahami konteks, dll.
10 tahun SBY berkuasa, skor PISA kita sebenarnya merangkak naik. Lumayan lah. Hasil test tahun 2015 adalah hasil akumulasi sistem pendidikan 10 tahun sebelumnya. Itu bukan berarti kinerja Jokowi (meskipun dia jadi presiden 2014).
Nah, kinerja Jokowi silahkan lihat hasil test 2025. Turun semua. Itulah faktanya. Covid yang disalahkan? No. Bahkan test 2018 saja sudah turun.
Kok bisa?
Karena akar masalah pendidikan kita TIDAK pernah disentuh. Apa? Kualitas guru.
Bagaimana agar guru berkualitas? Kesejahteraannya dong dipikirkan. Minta guru bagus, tapi gajinya kalah sama polisi, dkk. Dan kocaknya kita malah sibuk kurikulum baru, bagi-bagi smart TV, MBG, dkk. Pun sibuk mendirikan sekolah-sekolah elit (yang hanya dinikmati kurang dari 2% murid).
Hasil test PISA ini adalah bukti nyata. Semua strategi pendidikan era Jokowi ambyar. Pun menteri-menteri pendidikannya. Gagal. Sorry, kamu baper? Bodo amat. Saya bicara data. Silahkan bantah data ini.
(Tere Liye)








owh.. reading nya rendah.. pantes buzzer dimari biar artikel dah jelas.. trus dikasi jelas lg d bagian komentar.. komen mreka muter² di_situ² aj..!! 🤣🤣🤣
gimana gak stuck mimin aja doyan nyebar berita misleading dan hoax spt kemaren blm klarifikasi nyebar berita hoax roberto carlos masuk islam padahal dibantah sm roberto ga dimuat lagi, dan masih banyak lagi berita gajeals dari sini
tambahin lagi gan, upah pengupas bawang 700ribu/kg juga hoax itu, parahnya yg nyebar hoax malah presiden 😂😂😂
lucunya para pembantunya (atau penceboknya) minta masyarakat fokus pada konteks. datanya aja udah salah, sesat bin hoax gmn mau ngomongin konteks 🤣🤣🤣
beritanya ga jelas tapi Lo rajin dimari??🤣🤣🤣
ya keliatan sih wong kadrun2 juga biasanya literasinya cuma dari media clickbait dan cuma dari video2 reels tiktok, makanya pemikiran cetek dan sempit
perasaan tiktok itu aplikasi favorit terwo deh 🤣🤣
yg bikin wowo menguasai kampanye medsos kan gegara konten bocil² mewek bowo dikasih nilai 11 🤣
konten tiktok goyang ok gas itu kan sarapan terwo tiap hari
orang lain liat konten tiktok aki² ngebadut goyang g jelas pasti jidatnya berkerut, terwo malah doyan & ketagihan
yg bikin hoax sapa bro…. portal islam ga pernah beritain Roberto Carlos masuk IsIam
https://portal-islam.id/roberto-carlos-salah-satu-legenda-sepak-bola-dari-brasil-telah-memeluk-islam/
GAK NYAMBUNG NYET!! INI CONTOH ORANG KURANG LITERASI, KURANG OTAK! GAK TAHU KONTEKS!!!