Viral mantan tentara Israel setelah nonton NAZA serukan ‘FREE PALESTINE’

Sebuah unggahan reflektif dari Yotam Peled, mantan tentara Israel, telah viral di dunia maya dan meraih lebih dari 71.000 like di Instagram setelah ia merenungkan dampak menonton NAZA, sebuah film dokumenter pembantaian warga sipil Gaza oleh Israel yang disutradarai bersama oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor.

Unggahan tersebut mengisahkan perubahan sudut pandang penulis, menelusuri perjalanan batinnya mulai dari masa sosialisasi di usia muda hingga rasa kecewa yang mendalam terhadap narasi negara mengenai konflik yang sedang berlangsung. Dia berterima kasih kepada sutradara NAZA yang telah mengungkap fakta kepada dunia. Dia mengaku menangis setelah menonton NAZA. Di akhir postingannya dia menegaskan: “Jika membela kebenaran dan keadilan membuat saya dianggap pengkhianat, biarlah demikian adanya.”

Dia menutup postingannya dengan seruan “FREE PALESTINE”.

Berikut penuturan lengkapnya:

“Saya baru saja menonton NAZA.
Saya sempat ragu apakah ingin mengungkapkan perasaan saya, atau bahkan apakah saya bisa menemukan kata-katanya, namun saya memutuskan untuk mengumpulkan keberanian.

Meski tumbuh besar di lingkungan keluarga yang sangat liberal dan berhaluan kiri, saya tidak menyadari bahwa saya telah dicuci otak sampai akhirnya saya meninggalkan Israel 11 tahun yang lalu.

Seperti kebanyakan orang Israel, segala aspek dalam pola asuh saya mengarahkan saya untuk menjadi prajurit yang sempurna. Upacara peringatan, buku-buku sejarah, pelajaran Alkitab, kunjungan ke kamp-kamp pemusnahan di Polandia, hingga pidato-pidato heroik para politisi. Seperti para prajurit anonim yang diwawancarai dalam film NAZA, saya teringat akan hasrat yang saya miliki saat remaja—keinginan untuk menjadi sosok yang unggul dan mengabdi. ‘Saya adalah prajurit yang hebat’. (Setidaknya begitulah anggapan saya, dan itulah pula penilaian yang saya terima).

Meski memiliki keinginan untuk menjadi tentara, saya tumbuh dengan nilai-nilai “perdamaian” dan “toleransi” (saat ini, saya bahkan sulit memahami bagaimana disonansi kognitif semacam itu bisa ada dalam benak manusia). Bagi saya, perang adalah hal buruk, namun merupakan suatu keharusan demi keamanan.

Saat berusia 17 tahun, saya bergabung dengan sebuah proyek “hidup berdampingan” yang melibatkan sekelompok siswa Yahudi-Israel dari sekolah saya dan sekelompok siswa dari Tayibe—sebuah kota Arab di wilayah Israel. Ketika kami mengunjungi sekolah mereka, mereka memperkenalkan diri sebagai orang Palestina (dan bukan Arab-Israel). Saya ingat betapa terkejutnya kelompok kami. Mengapa mereka tidak mengidentifikasi diri sebagai bagian dari “kita”? Apakah mereka tidak tahu berterima kasih? Apakah mereka marah? Apakah mereka musuh? Saat itu saya belum cukup dewasa untuk memahaminya, namun ada sesuatu dalam diri saya yang retak pada hari itu.

Rasa bersalah dan malu adalah kekuatan yang sangat dahsyat dalam jiwa kita; kini saya memahaminya. Otak kita menciptakan mekanisme dan mengubah cara kerjanya secara luar biasa demi melakukan disosiasi (memisahkan diri dari kenyataan).

Israel dibangun di atas perampasan hak, pembantaian, dan pencurian tanah. Orang-orang Yahudi Eropa—sebagian penyintas Holocaust di Jerman dan sebagian lagi korban pogrom di Rusia—datang mencari perlindungan di Palestina. Mungkin mereka tidak menyadari peran yang mereka mainkan dalam gerakan Zionis. Negara-negara Eropa tidak ingin berurusan dengan jutaan pengungsi Yahudi, ataupun dengan rasa bersalah mereka sendiri, sehingga Israel tampak sebagai solusi yang tepat bagi semua pihak. Kecuali bagi rakyat Palestina.

Israel tidak dibangun di atas hamparan pasir semata. Israel bukanlah hak lahir kita. Israel itu rampasan. Dan kebohongan itu ditutupi oleh puluhan kebohongan lainnya.

Pada suatu titik, dosa asal itu terkubur. Semakin luas wilayah yang ditaklukkan Israel, semakin besar pula dahaga akan kekuasaan, serta semakin kuat pembenaran untuk menguasai dan memiliki. Rakyat Palestina dirampas tanah dan hak-haknya, para pemimpin mereka terus-menerus dibunuh, dan gerakan mereka—baik yang damai maupun perlawanan bersenjata—ditumpas habis. Namun, bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dengan pertentangan batin antara menjadi sosok yang “baik” sekaligus menindas orang lain? Hanya dengan meyakini bahwa diri sendirilah korbannya. Hanya dengan menganggap pihak lain bukan manusia. Tidak layak. Sejak lahir, kami diajarkan bahwa inilah tugas kami: melindungi dan menjaga ketertiban. Para pemimpin kami memastikan kami senantiasa merasa takut, setia, dan siap berkorban.

Terima kasih, Yuval dan Rachel, atas keberanian kalian mengungkap kebenaran. Saya menangis selama berjam-jam. Menurut saya, tidak akan pernah ada penebusan atau rekonsiliasi atas apa yang telah dilakukan terhadap rakyat Palestina. Gaza akan menjadi luka abadi, sebuah “tanda Kain” yang harus dipikul oleh orang-orang Israel.

Rasanya aneh menonton NAZA di Berlin, dikelilingi oleh orang-orang Jerman. Saya rasa akhirnya saya memahami mereka. Namun, saya tidak akan membiarkan rasa bersalah melumpuhkan saya lagi. Saya bisa melangkah bebas sementara jutaan orang masih menderita. Selama beberapa tahun terakhir, saat saya mengunggah konten pro-Palestina, saya mendapat kecaman keras dari orang-orang Israel—termasuk dari mereka yang dulu saya anggap teman. Satu kata yang paling menonjol adalah ‘pengkhianat’.

Jika membela kebenaran dan keadilan membuat saya dianggap pengkhianat, biarlah demikian adanya.

Free Palestine.”

Sumber: https://www.instagram.com/p/DeC1sdUljcH/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. eeee PELED, setelah lo jadi pelaku genosida, nggak gunanya lo teriak teriak free palentine, kecuali lo tembak to sampai mapooos setan nyahooo

  2. OTENERS SETIA SAMA SI SETANYAHU + SI SETAN TUASI TRUMP, AKAN BUTA & TULI DENGER BERITA REAL GENOSIDA INI.. NGERI..

    DASAR OTENERS OTAK UDANG.. UDAH KALAH SAMA NONIS YANG MASIH WARAS OTAKNYA.. SEKELAS PEMBANTAI PUN KALO UDAH INSYAF LEBIH BAIK DARIPADA OTENERS YANG MALAH JADI BUDAKNYA SANG PENJAJAH & PENJAHAT KEMANUSIAAN.. PARAH OTEN!