Pensiunan Kolonel Angkatan Darat AS Lawrence Wilkerson, mantan kepala staf Menteri Luar Negeri Colin Powell, menegaskan bahwa warga Palestina memiliki hak untuk melakukan perlawanan berdasarkan hukum internasional yang mengatur kewajiban hukum pihak pendudukan—merujuk pada peristiwa 7 Oktober 2023 dalam komentarnya di ruang publik—sebuah pernyataan yang segera memicu polarisasi publik yang tajam dan perdebatan global yang luas.
Argumen dan Dasar Pemikiran Wilkerson
- Kewajiban Pihak Pendudukan: Wilkerson menyatakan bahwa Israel gagal memenuhi tanggung jawab hukumnya berdasarkan Piagam PBB dan Konvensi Jenewa sejak tahun 1967, dengan argumen bahwa pendudukan yang telah berlangsung lama ini memberikan landasan hukum bagi perlawanan Palestina.
- Kritik terhadap Kebijakan Luar Negeri AS: Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat turut terlibat dalam tindakan militer di Gaza, dengan menyoroti pasokan berkelanjutan berupa persenjataan dan jet tempur buatan Amerika yang digunakan dalam konflik tersebut.
- Pandangan Geopolitik yang Lebih Luas: Dalam wawancara-wawancara berikutnya, Wilkerson mengungkapkan keraguan yang tajam mengenai kelangsungan jangka panjang Israel sebagai sebuah negara dan demokrasi, mengingat arah kebijakan militer dan politiknya saat ini.
Berikut pernyataan Lawrence Wilkerson:
“Warga Palestina sepenuhnya berhak melakukan apa yang mereka lakukan pada tanggal 7 Oktober. Sejak tahun 1967, Israel berstatus sebagai kekuatan pendudukan di bawah ketentuan Piagam PBB dan Konvensi Jenewa. Israel tidak pernah—sama sekali tidak pernah—memenuhi tanggung jawabnya sebagai kekuatan pendudukan, bahkan tidak pernah berniat untuk memenuhinya.
Faktanya, Israel telah merampas tanah dan kebun warga Palestina, menghancurkan rumah-rumah mereka, serta membunuh anak-anak mereka. Israel adalah kekuatan pendudukan yang tidak bertanggung jawab menurut hukum. Oleh karena itu, warga Palestina sepenuhnya berhak melakukan apa yang mereka lakukan pada tanggal 7 Oktober.
Setiap kali pesawat F-16 terbang di atas Gaza, menjatuhkan bom seberat 250 pon, dan menewaskan seorang anak, Anda turut bersalah, Amerika. Anda sama bersalahnya dengan Bibi (Netanyahu) maupun siapa pun dalam pemerintahan sayap kanan Likud itu. Anda sama bersalahnya karena Anda membiarkan hal itu terjadi. Mereka (Israel) tidak akan bisa melakukannya tanpa Anda (Amerika).”
[VIDEO]








Qadarullah sayangnya sudah pensiun
Alhamdulillah byk mantan tentara Amrik yg sadar
Allahu Akbar!!