Gus yang memaki dan mengolok-olok penjual es teh akhirnya menjadi Ketua PBNU

KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) resmi masuk dalam jajaran pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031 sebagai salah satu Ketua di jajaran Tanfidziyah.

Pengumuman struktur kepengurusan baru ini disampaikan secara resmi melalui siaran langsung di Jakarta pada Rabu malam, 30 September 2026, oleh Katib Aam PBNU Prof. Mohammad Nuh dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) pasca Muktamar ke-35 NU. Penetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan tentang Pengesahan Komposisi dan Personalia PBNU.

Jabatan Resmi: Menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU periode 2026–2031.

Kontroversi Gus Miftah

Kontroversi Gus Miftah bermula ketika videonya saat mengisi acara pengajian di Magelang pada akhir November 2024 viral karena ia melontarkan candaan bernada merendahkan dan menggunakan kata kasar kepada seorang penjual es teh keliling bernama Sun Haji.

Kronologi Kejadian

  • Waktu dan Lokasi: Peristiwa terjadi dalam acara “Magelang Berselawat” di Lapangan Drh Soepardi, Magelang, pada Rabu, 20 November 2024.
  • Bentuk Ucapan: Saat berinteraksi di atas panggung, Miftah Maulana Habiburrahman mengolok-olok dagangan Sun Haji (38 tahun) yang masih banyak dan melontarkan kata-kata yang dinilai kasar serta merendahkan di depan umum.
  • Reaksi Publik: Video tersebut menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang kemarahan dari warganet yang menganggap sikap tersebut tidak pantas dilakukan oleh seorang pendakwah sekaligus pejabat publik.

Permintaan Maaf dan Pengunduran Diri

  • Bertemu Langsung: Gus Miftah mendatangi kediaman Sun Haji di Dusun Gesari, Magelang, pada 4 Desember 2024 untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.
  • Keputusan Mundur: Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan meredakan kegaduhan publik, Gus Miftah kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden pada 6 Desember 2024.

[VIDEO]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 komentar

  1. Pejabat Indonesia dan PBNU bagai pinang dibelah dua. Kalo pejabat Muhammadiyah adalah cerminan pejabat Indonesia di awal Kemerdekaan.