Listyo Sigit kenapa masih dikasih jabatan Kepala Kantor Staf Presiden?

Ada yang bilang Listyo Sigit hanya bergeser, malah dia di dapurnya Presiden karena dia jadi Kantor Staf Presiden yang dianggap dapurnya kepresidenan.

Maaf, anda nggak paham bahwa Kapolri itu punya struktur dari Mabes Polri, Polda, Polres, Polsek sampai Babinkamtibmas di Desa dia punya personel hampir 500 ribu personel. Dia juga punya kewenangan yang menyeluruh baik matra, air maupun udara. Maka dia punya polisi air maupun polisi penerbang.

Dia juga punya penyidik soal judi cliwik sampai penimbunan solar misalnya. Dia juga punya kekuatan polisi anti narkoba sampai antiteror. Tugas keamanan itu menyeluruh maka anggarannya dia jumbo, pernah anggaran polri itu adalah anggaran terbesar di APBN. Sekarang aja 190-an Triliun, sumber daya besar dan anggaran besar. Makanya dia bisa menjadi “monster” dalam sistem demokrasi. Kalau dia digunakan seperti Jokowi pada masa 2024 kemarin. Dia bisa intimidasi lurah atau kepala desa atas nama penyidikan anggaran dana desa. Karena mereka tahu banyak kesalahan di desa entah karena memang niat arau hanya soal administrasi keuangan. Maka kepala desa begitu ‘diancam’ langsung hanya siap dan siap. Termasuk memenangkan calon yang didukung polisi, Babinkamtibmas itu paling tahu siapa main judi, penjual miras bahkan permainan korupsi tingkat desa. Intinya kekuatan Kapolri itu besar.

Maka kalau Kapolri yang berpihak pada kekuasaan tertentu, maka dia merusak demokrasi. Sebaik-baik aparat adalah netral dalam sistem demokrasi. Tetapi kita tahu aparat kita kemarin menjadi alat kekuasaan.

Terus kalau dia sekarang Kepala Kantor Staf Presiden bagaimana? Itu lembaga hanya pernah punya taring ketika dipegang Luhut Binsar Panjaitan karena dia langsung mengawal program dengan eksekusi langsung disampaikan ke Presiden, setelah itu hanya jadi lembaga yang tugasnya tumpang tindih dengan internal pengawas dan hanya lembaga kajian saja. Lihat juga anggarannya hanya 114 Milyar/tahun. Itu hanya anggaran sekelas Polres kota besar!

Yang hebat itu Gus Baha, Gus Baha itu kyai yang lebih banyak ngaji kitab untuk rakyat, kecil kemungkinan mau diajak mengaji di tempat pejabat atau seperti Mabes Polri. Mungkin karena tidak mau diundang, maka beberapa hari sebelum dicopot, Listyo Sigit dan jajarannya pergi ke pondok pesantren Gus Baha di Rembang. Pastinya dia sudah merasa tidak “aman” dengan jabatannya.

Listyo Sigit ini adalah Kapolri ketiga yang tidak beragama Islam di tengah penduduk mayoritas Islam. Tetapi bukan disitu perkaranya, cara komunikasi Listyo Sigit sebagai Kapolri memang toleran. Bahkan dia menggunakan peci, masuk ke masjid, ke pondok-pondok pesantren, bergaul dengan Gus dan Kyai.

Banyak orang pun menganggapnya seperti Gus 🙂. Dibalik cara komunikasinya dia memahami ilmu kolonial Snouck Hurgronje dalam memetakan Islam di Indonesia, dia tahu titik lemah dan kekuatannya.

Tetapi polisi yang berpihak pada kekuasaan jelas membahayakan demokrasi, padahal kita tahu dalam rezim demokrasi, polisi menjadi tulang punggung dan stabilisator. Sekali dia menjadi alat, maka selama kekuasaan itu jauh dari harapan rakyat dia menjadi rabun keadilan. Akhirnya bertumpuk kasus Polisi menyakiti rasa keadilan masyarakat. Semenjak Agustus 2025 karena penanganan demonstrasi dan juga kematian Affan Kurniawan seorang pengemudi Ojol, tuntutan salah satunya jelas, Copot Kapolri! Sementara sejak polisi jadi alat kekuasaan, kita juga setuju bahwa Listyo Sigit adalah salah satu otak perusak demokrasi Indonesia, maka dia layak diganti bukan malah dipertahankan. Bahkan harusnya dimintai pertanggungjawabannya.

Terus dimana hebatnya Gus Baha? Kalau ada pejabat jangan pergi cari perlindungan ke orang alim, pejabat itu kita tahu banyak kelakuan busuknya. Kasihan orang alim yang didatangi pejabat yang seperti itu, karena akan “merusak” kebahagiaan orang alim yang memang ingin jauh dari hiruk pikuk dan gebyar dunia. Jadi karena kedatangannya ke Gus Baha, malah berakibat berapa hari kemudian jabatamnya sebagai Kapolri hilang. Jadi akan tambah mitos baru, pejabat jangan datang ke Kediri atau Kudus, sekarang bertambah ke Gus Baha, apalagi kalau hanya untuk mengesankan toleran dan alim. Mbok biasa wae 🙂

(Markijok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. 🤦🏻‍♂️lah… joooook jook.. situ yang ngga paham, markijok. listyo itu masih lingkaran dalam. meski listyo ksp skrg, masi banyak anak buahnya dalam matra2 yang sampeyan sebut yang masi loyal. artinya sebelum ada bersih2 oleh suyudi, maka benalu2 loyalis ini masi patuh ama listyo, pun ke jokowi.
    lingkaran prabowo itu sekarang ada tito, listyo dan fadil. semua yang secara halus maupun frontal anti ulama. piye sampeyan jooook????!!!