Ketika Donald Trump memutuskan menyerang Iran, kemungkinan besar ia tidak berniat memberi pemerintah Teheran peluang menghasilkan uang besar hingga mencapai 500 miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan. Namun, hal itu bisa saja terjadi jika Amerika Serikat akhirnya mundur dari konflik.
Kunci utamanya terletak pada apakah Iran tetap menguasai Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini sangat penting karena sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati wilayah tersebut. Amerika Serikat bisa saja mencoba membuka jalur ini kembali lewat negosiasi atau kekuatan militer, atau mendorong negara lain untuk melakukannya.
Namun di sisi lain, kehadiran militer AS di kawasan Teluk tidak populer di dalam negeri. Jika tekanan politik meningkat, Trump bisa saja menghentikan operasi tanpa memastikan jalur tanker kembali normal. Ia bahkan sempat mengatakan perang akan selesai dalam dua hingga tiga minggu, meski pernyataannya sering berubah.
Jika AS benar-benar mundur secara sepihak, Iran berpeluang meresmikan sistem pungutan (toll) bagi kapal yang melintas. Mengingat besarnya keuntungan negara-negara Arab dari ekspor minyak dan LNG, Iran bisa menarik hingga 120 miliar dolar per tahun, setidaknya sampai negara-negara tersebut membangun jalur pipa alternatif.
Laporan menyebut Iran bahkan sudah mengenakan biaya sekitar 2 juta dolar untuk satu kapal. Sebelum perang, sekitar 150 kapal melintas setiap hari. Dengan tarif tersebut, potensi pendapatan Iran bisa mencapai sekitar 110 miliar dolar per tahun.
Namun, tarif flat seperti itu dinilai kurang ideal. Iran bisa saja menerapkan sistem biaya berdasarkan bobot kapal, seperti yang dilakukan Turki di Selat Bosphorus dan Dardanella. Bahkan, bukan tidak mungkin biaya dihitung berdasarkan nilai keuntungan dari muatan kapal, mengingat besarnya profit minyak dan gas negara-negara Teluk.
Jika dihitung, sebelum perang sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Hormuz. Arab Saudi bisa mengalihkan sekitar 7 juta barel melalui pipa ke Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab sekitar 1,5 juta barel ke Teluk Oman. Ditambah 1,5 juta barel dari Iran sendiri, masih ada sekitar 10 juta barel per hari yang “terjebak” di Teluk Persia.
Jika harga minyak turun ke 60 dolar per barel (dari sekitar 100 dolar saat konflik), dan biaya produksi sekitar 5 dolar per barel, maka negara-negara produsen bisa kehilangan hingga 200 miliar dolar per tahun jika jalur tetap tertutup. Di sisi lain, Qatar saja meraup sekitar 50 miliar dolar dari gas dalam setahun, sebagian besar adalah keuntungan.
Artinya, total “kue” keuntungan minyak dan gas yang diperebutkan bisa mencapai sekitar 250 miliar dolar per tahun. Iran tentu ingin mengambil bagian dari angka tersebut sebagai imbalan membuka jalur Hormuz, sementara negara-negara Arab ingin membayar seminimal mungkin. Hasil akhirnya akan sangat bergantung pada kekuatan tawar masing-masing pihak.
Negara-negara Teluk bisa berargumen mereka masih mampu bertahan karena memiliki dana kekayaan negara yang besar. Sebaliknya, Iran bisa menekan dengan menunjukkan bahwa mereka mampu bertahan lebih lama, sementara penutupan jalur akan merugikan ekonomi kota-kota seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Riyadh dalam jangka panjang.
Selain itu, Arab Saudi masih memiliki cadangan minyak untuk puluhan tahun ke depan. Namun, jika energi global beralih sebelum cadangan itu habis, minyak yang tidak dijual hari ini bisa menjadi kerugian permanen.
Faktor eksternal juga berpengaruh. Amerika Serikat bisa mengancam negara yang membayar biaya ke Iran sebagai pelanggaran sanksi. Namun jika Hormuz tetap ditutup, harga minyak global akan melonjak, sesuatu yang justru ingin dihindari Washington.
Jika keuntungan dibagi rata, Iran bisa mendapatkan sekitar 100 miliar dolar per tahun dari minyak dan 20 miliar dolar dari gas. Kondisi ini akan mendorong negara-negara Teluk mempercepat pembangunan jalur pipa alternatif. Diperkirakan pembangunan infrastruktur minyak bisa selesai dalam 3 hingga 4 tahun, sementara gas bisa memakan waktu dua kali lebih lama.
Dalam periode tersebut, Iran berpotensi meraup sekitar 350 miliar dolar dari minyak dan 140 miliar dolar dari gas, total mendekati 490 miliar dolar sebelum peluang ini berakhir.
Ada juga kemungkinan Iran sengaja membatasi aliran untuk menjaga harga tetap tinggi. Selama ini, negara-negara Arab khawatir harga tinggi justru mendorong dunia beralih ke energi lain. Selain itu, dalam sejarahnya, tidak semua anggota OPEC patuh pada pembatasan produksi.
Namun Iran mungkin memiliki kepentingan berbeda. Dengan harga lebih tinggi, mereka bisa menarik biaya lebih besar. Apalagi peluang ini hanya berlangsung beberapa tahun, sehingga dampak jangka panjang mungkin tidak terlalu dikhawatirkan. Penguasaan Hormuz juga memberi Iran kemampuan mengontrol ekspor negara lain.
Meski begitu, Iran juga harus berhati-hati. Harga yang terlalu tinggi bisa memicu reaksi keras dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa, yang mungkin memilih membuka jalur tersebut secara paksa.
Intinya, konflik ini bukan hanya soal militer, tetapi juga soal ekonomi besar. Jika situasi berkembang seperti ini, Iran bisa berubah dari negara yang tertekan sanksi menjadi pemain kunci yang mengendalikan salah satu jalur energi terpenting di dunia, dengan potensi keuntungan ratusan miliar dolar.
dikutip dari reuters






